
Setelah penembakan itu keluarga Vero harus menerima kenyataan bahwa putri mereka meningal dunia. Setelah mengurus semua hal pihak keluarga langsung membawa jasad Vero kembali ke negara asal. Dengan berselimut duka ayah Vero meminta maaf pada Hansen atas tindakan yang hendak di lakukan sang anak. Namun, sang ibunda Vero masih tidak terima putri kesayanganya itu harus pergi secepat ini, sampai beliau menyalahkan Hansen atas tragedi tersebut "Semua karena laki laki tak punya hati itu, kalau dia melihat cinta di hati anak kita, nggak bakal kejadian ini menimpa anak kita, Pa" Ibunda Vero bersandar di bahu suaminya. Mereka tengah menggelar prosesi pemakaman Vero.
Sembari menahan tangis sang suami berkata "Jangan salah dia, sayang. Semua ini salah kita, kenapa dulu kita biarlan Vero mencintai lelaki yang tidak mencintainya sampai kapan pun.sudah jelas tidak pernah manaruh hati pada anak kita" Beliau menyentuh ujung kepala sang istri sembari memeluk erat. Tidak di pungkiri hati seorang ayah tersakiti atas nasib akhir sang putri tercinta. Namun, kembali lagi semua salah putri mereka sendiri. Jelas susah di tolak sejak dulu tapi tetap saja berusaha mendaparkan.
"Tapi mama masih belum terima, nasib putri kita berakhir terhina seperti ini, pa. Mama tidak terima" Sang ibu mulai histeris.
Lagi lagi beliau harus menelan kesakitan. Sembari memejamkan mata beliau berkata "Sudahlah, sayang. Jangan bebani kepulangan putri kita dengan derai air mata. Sekarang kita pulang"
"Tidak! mama mau temani Vero di sini. Pasti dia ketakutan di tempat ini sendirian. Mama nggak mau tinggalin Vero di sini" Sang ibu mulai luruh di atas makam Vero. Air mata terus mengalir deras.
__ADS_1
"Jangan seperti ini, ma. Sekarang kita pulang yuk"
"Tidak! mama mau di sini saja" Terpaksa beliau harus menyeret sang istri untuk pulang.
"Tidak, mama mau temani Vero. Vero anak mama pasti kedinginan, pasti dia takut. Bagiamana kalau hujan? kasihan nanti dia sakit" Sang ibu terus meracau seperti hilang kesadaran.
Segera Hansen memeluknya "Sayang, kamu sungguh membuatku ketakutan. Aku takut sekali" Sambil menciumi kening sang istri.
"Mas, bagaimana dengan Vero? apa dia...."
__ADS_1
Tiba tiba saja Hansen melepas pelukan "Dia sudah tiada. Dia sudah mendapatkan balasan dari tindakannya itu"
"Ya Tuhan. Jadi dia sudah meninggal? (Air mata Chika mulai luruh) semua karena salahku"
"Bicara apa kamu ini? dia yang salah bukan kamu. Sedari dulu sudah jelas bahwa aku tidak mau sama dia, tapi dia terus memaksaku. Sudahlah, kamu tidak boleh mikir macam macam." Kembali Hansen memeluk sang istri.
Di sisi lain, Revan sudah sampai di bandara. Ia segera mencari taksi online dan segera mengunjungi rumah Hansen. Setelah sampai depan rumah, ia melihat rumah lama Hansen sudah lama kosong. Revan lalu bertanya pada warga sekitar "Maaf pak kalau boleh tau Hansen beserta istri pindah kemana?"
Seorang tetangga bilang bahwa Hansen pindah ke rumah barunya di daerah tidak jauh dari sana. Segera ia menuju kediaman Hansen "Aku sudah tidak sabar ingin membebaskan Dunia Gelap Chika. Sekarang saat yang tepat" Tersenyum sembari mrmbayangkan wajah cantik Chika
__ADS_1