Dunia Gelap Chika

Dunia Gelap Chika
Episode 16


__ADS_3

Sesampainya di makam, Chika segera bersimpuh mengusap dua batu nisan saling berdekatan. Dalam diam Chika kembali membayangkan indahnya saat kecil dulu, selalu di rangkul kedua orang tua, tertawa bersama, berbagi cerita dan kasih sayang. Namun saat ini dunia mereka berbeda, Chika harus menghadapi segala kesulitan ini sendiri tanpa adanya bimbingan dari mereka.


" Sekarang hidupku semakin di persulit keadaan..." Air mata yang tadinya terbendung rapi kini meluap dari teluk sampai menyentuh pipi.


Di saat lemah seperti sekarang Chika hanya butuh kenyamanan bahu orang tuanya, tapi sekarang bahu ternyaman itu telah kembali pulang dan Chika harus bertahan dengan bahunya sendiri, meski saat ini Hansen sudah menjadi suaminya tetap saja Chika masih menderita.


Hampir beberapa lama Chika mengusap nisan kedua orang tuanya, kini dia segera pergi dari sana karena waktu sudah menjelang sore....


" Kenapa tidak ada ojek di sekitar sini..." Ujar Chika seraya menengok kanan dan kiri mencari pengendara ojek pangkalan. Karena hari sudah sore para ojek pangkalan sudah pulang.


" Mending jalan kaki saja."


" Chika...." Teriak seseorang dari sebrang jalan, seorang lelaki mengendarai sepeda motor tengah berhenti di pinggir jalan.


" Revan?" Ucapnya dengan melihat wajah Revan dari kejauhan.


Tak berapa lama Revan berbalik arah mendekatinya.


" Kok kamu bisa disini?" Tanya Revan sembari turun dari motornya.


" Habis dari makam orang tua. Kamu sendiri sedang apa?"


" Oh.....kebetulan sekali aku lewat disini trus tidak sengaja melihat kamu jadi aku putuskan berhenti. Kamu butuh tumpangan?" Revan melihat buliran keringan di wajah Chika membuatnya tidak tega.

__ADS_1


" Tidak, tidak, terima kasih." Senyum Chika mengembang sempurna seolah dia baik baik saja.


" Sudahlah, jangan malu seperti itu, dulu kamu menolongku dari kecelakaan sekarang waktunya aku menolong kamu." Revan meraih tangan Chika, memaksanya naik motor.


" Revan tapi...." Belum sempat berucap Revan lebih dulu memakaikan helm padanya.


" Naik saja..." Titah Revan.


Chika ragu juga takut jika nanti suaminya tau hal ini pasti dia akan di siksa dengan kejam, tapi jika menolak rasanya dia tidak enak hati.


" Sudah siap? kita berangkat..." Segera Revan melajukan motor perlahan saat Chika sudah di atas motor bersamanya.


Revan senang bisa sedekat itu dengannya.


Senyum tipis mulai melebar indah di bibir Revan....


" Kita makan dulu ya?" Ajak Revan.


" Tidak bisa, saya harus segera sampai di rumah, takut majikan marah." Jawab Chika menolak.


" Kalau begitu ya sudah..." Terbesit sebuah ide sampai Revan melajukan motor dengan kecepatan tinggi.


" Ahhh....pelan pelan nanti jatuh."sontak saja Chika melingkarkan tangan di pinggang Revan.

__ADS_1


" Tidak akan sebelum kamu menemani aku makan..."


Chika mengeratkan pelukannya karena laju motor semakin menggila, sampai rambut panjang terurai berantakan juga takut jika terjadi hal buruk pada mereka.


" Oke, oke, saya mau tapi pelan sedikit."


Setalah mendapatkan apa yang di mau, Revan melambatkan motornya...


" Nah gitu dong..."


" Kamu gila ya, kita bisa celaka tau..." Maki Chika. " Ancaman kamu bisa membuat kita mati." satu pukulan di punggung Revan.


" Hanya itu cara yang bisa membuatmu ikut denganku, manis."


Tanpa pikir lebih lama Revan membawa Chika menuju sebuah tempat makan tidak jauh dari tempat mereka sekarang. Sebuah warung makan pinggir jalan dengan masakan serba pedas.


" Kamu mau level berapa?" Revan menunjukkan daftar menu kepadanya.


" Semua pedas?" Chika merasa ngeri melihat betapa seramnya makanan pedas itu, bukan tidak suka hanya saja takut dengan sakit asam lambungnya.


" Kamu tidak suka makanan pedas?" Tanya Revan.


" Suka sih, hanya saja saya tidak di perbolehkan makan pedas karena sakit asam lambung." Jelas Chika santun.

__ADS_1


" Oh....kamu tenang saja, nanti aku pesankan yang tidak pedas saja." Revan segera menghampiri pemilik warung itu lalu meminta makanan tanpa cabe.


__ADS_2