
Selama hampir satu minggu lamanya Chika menghukum Hansen dengan tidak memenuhi kewajibannya sebagai istri. selalu menghindar, dan tidur terpisah di kamar lamanya. Sudah berkali-kali Hansen mencoba mengajaknya bicara dan memohon ampun. Tapi, Chika tetap tidak bergeming sedikit pun. Ia sangat kecewa atas sikap jahat suaminya pada seseorang yang telah menyelamatkan hidupnya. Andai saja tidak ada Revan saat itu pasti Chika sudah kehilangan harga atas dirinya dan martabat seorang istri. Dirinya hampir mengalami nasib tragis dan hampir menjadi makanan bersama para preman itu. Tapi, dengan adanya Revan, Chika bisa terselamatkan.
" Sampai kapan dia akan menyadari semua tindak kejahatannya..." Lirih Chika dengan menyembunyikan wajah di balik bantal. Saat ini Chika masih berada dalam kamar. Seperti biasa, Chika akan keluar saat Hansen pergi bekerja. Selama suaminya masih ada di Rumah dia tidak akan melangkah kaki keluar dari kamar itu meski harus menahan haus dan lapar.
" Chika....sampai kapan kamu menghukum ku seperti ini? sudah cukup semuanya, sekarang keluarlah. Mari kita bicara baik-baik." Ucap Hansen. Setiap hari Hansen selalu bicara pada pintu kamar Chika, berharap ada jawaban darinya. Tapi, selama satu minggu Chika tidak menjawab atau pun menampakkan wajahnya di depan sang suami.
" Tolong buka pintunya..." Beberapa kali Hansen mengetuk pintu kamar tapi Chika tidak sedikit pun membukanya. Chika terus menutup telinga sembari memejamkan mata supaya tidak mendengar satu kata pun dari mulut suaminya.
Ketiga asisten rumah tangga menatap ke arah Majikannya. Mereka merasa iba atas permohonan dan air mata yang menetes setiap harinya. Tapi, mereka tidak bisa berbuat banyak. Bagaimana pun situasi rumah tangga majikannya, mereka tidak akan ikut campur. Karena dalam sebuah keluarga tidak melibatkan pihak lain di dalamnya.
" Kasihan Tuan Hansen, setiap hari bicara sama pintu dan merengek belas asih dari istrinya." Lirih salah satu dari mereka.
__ADS_1
" Hus, jangan ikut campur masalah mereka. Kita cukup melihat di larang keras berkomentar. Lebih baik kita lanjut bekerja dari pada mata dan telinga kita mengotori otak kita hingga menjerumuskan kita dalam lembah dosa." Jelas wanita paruh baya. Ia adalah kepala asisten yang di tunjuk langsung oleh Hansen untuk memimpin jalannya pekerjaan mereka semua.
" Kalau Bibi Ratih sudah ceramah macam ini lebih baik kita pergi saja." Tanpa sepengetahuan Ratih, Mereka berdua kabur diam-diam dengan cara berjalan mundur langkah demi langkah sampai Ratih tidak mendengar pijakan kaki mereka.
" Seharusnya kita sadar diri dan...." Ratih menoleh kanan dan kiri, mencari kedua manusia yang sempat bersamanya.
" Astaga, mereka kabur." Kesal Ratih dengan menepuk kening.
" Kalau kamu masih belum puas menghukum ku. Maka jangan salahkan aku jika kamu hanya bisa melihat jasat ku esok hari." Betapa tersiksa seorang suami yang mengharap maaf dari istrinya, sampai merelakan raga tak lagi bernyawa.
Setelah itu Hansen berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu...
__ADS_1
" Tunggu..."
Seketika Hansen menoleh dan melihat Chika sudah berdiri tepat di hadapannya.
" Sayang, akhirnya kamu keluar juga." Dengan antusias Hansen meraih tangan Chika.
Plak.....
Sebelum tangan Chika berhasil di gapai, ia lebih dulu memberi tamparan di wajah suaminya. " Kamu kira dengan mengancam akan bunuh diri maka aku akan memaafkan kamu? Itu salah. Justru dengan semua ancaman kamu ini aku sadar bahwa kamu adalah orang bodoh yang takut memperbaiki diri." Entah keberanian dari mana Chika mampu melawan ancaman suaminya.
Hansen memegangi pipi kirinya. Terasa panas dan menyakitkan. Tapi, senyum mengembang di bibirnya....
__ADS_1
" Hanya dengan ini aku bisa melihat kamu lagi. Akal sehat ku telah menghilang bersama hilangnya wajahmu di mata ini."