Dunia Gelap Chika

Dunia Gelap Chika
Episode 09


__ADS_3

Esok hari Chika menyiapkan kebutuhan Hansen seperti biasa, menyiapkan baju ganti dan juga memasak untuk sarapan. Namun kali ini terasa berbeda karena statusnya beralih dari pembantu menjadi seorang Istri.


Pernikahan mereka tidak di ketahui siapa pun, jadi tidak ada satu pun orang tau jika mereka sudah menikah.


Hansen menjadikan pernikahan itu sebagai tameng untuk penolakan perjodohan yang telah di rencanakan pihak keluarga.


Tap tap tap...


Hansen menuruni anak tangga, menuju ruang makan yang terletak tidak jauh dari sana. Dia melihat seorang gadis cantik berpakaian rapi tengah sibuk menyiapkan hidangan.


" Nanti siang kita jemput Mereka di bandara. Ingat tugas kamu..." Ucap Hansen dengan menarik kursi.


" Baiklah, apakah mereka pulang bersama tunangan kamu?" Tanya Chika.


Hansen sedikit menarik nafas berat....


" Sepertinya begitu." Singkat Hansen.


" Kalau begitu saya akan mencoba yang terbaik..." Senyuman di bibir Chika nampak hambar, tidak ada ketulusan sama sekali.

__ADS_1


Benar saja, karena tidak akan mudah menjali hidup dengan menjadi diri orang lain.


Seindah apapun kehidupan orang lain belum tentu menjadi baik saat kita berperan di dalamnya.


Hidup itu bukan untuk merasakan menjadi diri orang lain, tapi berusaha menikmati apa yang saat ini menjadi milik kita.


Bahagia mereka belum tentu baik untuk kita.


Seorang sejati tidak akan pernah menjadi tukang Ulung sifat orang lain.


Namun Chika melakukan ini semua atas titah suaminya. Tidak sedikitpun mampu menolaknya, karena semua penolakan hanya akan menjadikan itu tidak berguna.


" Kamu masih belum siap?" Tanya Hansen yang melihat kegelisahan di wajah istrinya tersebut. Tatapan mata Chika seolah terbaca dalam pandangan suaminya.


" Sebisa mungkin saya akan memainkan peran ini."


Setelah Chika usai menyiapkan makanan di pirin, dia pun hendak melangkah pergi.


" Duduk temani aku makan..." Titah Hansen dan Chika mengikuti maunya.

__ADS_1


Beberapa kali Hansen memperhatikan bercak merah di leher Chika yang terlihat jelas. Ada beberapa bekas gigitan disana yang terlihat menyakitkan....


" Apa itu menyakitkan?" dengan melahap makanan.


Hampir saja Chika tersedak saat mendengar kata itu, dengan sigap dia menutupi lehernya dengan satu tangan.


" Tidak, ini tidak sakit." Berusaha tersenyum, menutupi rasa sakitnya.


Hansen melanjutkan sarapan tanpa bertanya lebih, baginya sakit itu tidak sebanding dengan lukanya selama ini.


Dahulu Hansen sempat menyukai Chika dan ingin dekat dengannya, tapi di saat yang sama ada seseorang merebut perhatian Chika, sehingga dia pun membencinya. Setelah seseorang itu pindah ke Luar Negri, Chika pun mendekatinya dan itu awal mula kebencian Hansen. Dia tidak suka menjadi pelarian dari kesedihan seseorang, apalagi dia pernah menaruh simpati tapi tidak di perhatikan dan itu membuatnya sakit sampai saat ini.


Lalu di saat Hansen kembali mendapat lara di tinggal kedua orang tuanya, Chika mencoba menemaninya, menghibur, dan mengikuti kemana pun Hansen pergi, tapi kesedihan dalam hati Hansen membuatnya membenci semua orang. Hingga suatu ketika saat usia mereka baru memasuki masa remaja, Hansen kerap melakukan pelecehan terhadap diri Chika, sering kali Chika menolak tapi Hansen mengancamnya dengan sesuatu yang membuatnya bungkam.


Setelah sarapan selesai Chika mengantar Hansen keluar rumah membawakan tas kerja.


" Hati-hati di jalan." ucap Chika sembari meminta satu tangan Hansen untuk mencium tangannya layaknya sepasang suami, istri.


Hansen mengeryitkan dahi enggan menjulurkan tangannya...

__ADS_1


" Sudahlah, aku pergi dulu." Tanpa perduli Hansen masuk ke dalam mobil lalu bergegas pergi.


" Seharusnya aku sadar diri, jika peranku hanyalah seorang istri tanpa cinta. Aku harus kuat karena ini sudah menjadi jalan hidupku..." Lirihnya dengan mengusap beberapa bulir air mata di pipi.


__ADS_2