Dunia Gelap Chika

Dunia Gelap Chika
Episode 46


__ADS_3

Setelah sampai depan rumah lantas Revan bertanya tentang keberadaan Chika. Kebetulan ada seorang asiten rumah tangga baru saja pulang dari pasar dengan mengendarai ojek. Dia langsung menghampiri Revan "Bapak cari siapa?" tanya Bi Ratih.


Revan melepas keca mata hitam "Saya ingin bertemu dengan Chika. Apa dia ada di rumah?"


Tatapan Bi Ratih beralih dari kaki sampai wajah. Sosok lelaki tampan nan rupawan terlihat asing baginya "Sebelumnya saya minta maaf, tapi anda terlihat asing. Anda ini siapa?" Tanya bi Ratih heran.


"Saya temannya. Kalau boleh saya tau dia berada di rumah atau tidak?"


"Nyonya tengah berada di rumah sakit, tuan."


"Rumah sakit? memang dia kenapa? ada di rumah sakit mana?"


Bi Ratih lantas mangatakan di mana Chika berada saat ini. Tanpa tunggu lama Revan pun langsung menuju rumah sakit. Sepanjang jalan ia terus memikirkan bagaimana kondisi Chika saat ini "Aku tidak akan tinggal diam kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu. Siapa pun orangnya yang telah menyakiti kamu akan dapat akibatnya" Memukul stir kemudi dengan kesalnya.


"Sayang....kamu tau tidak melihatmu pingsan jantungku seolah berhenti berfungsi. Lain kali jangan seperti itu lagi, ya" Ujar Hansen sembari menciumi punggung tangan sang istri.


Chika tersenyum "Kamu khawatir?"


"Tentu saja. Mana ada suami tidak khawatir melihat istrinya tiba tiba pingsan begitu? ya jelas khawatir lah"


"Aku tuh cuma nggak nyangka aja, kok dia bisa bertindak anarkis seperti itu" ketika mengingat bagaimana niat Vero membuatnya semakin geleng kepala. Seorang wanita cantik dengan karir bagus dan harta berlimpah mau berbuat apa saja demi cinta. Tidak memikirkan bagaimana nasib akan membawanya.

__ADS_1


Menyingkap beberapa helai rambut Chika menyilipkan di belakang telinga "Wanita itu punya dua karakter, seperti psikopat. Makanya aku tidak sedikit pun melirik dia. Wanita ambisius sepertinya itu mana paham dengan cinta, yang dia tau cara mendapatkan demi memuaskan ambisi semata. Cintaku ini bukan sebuah benda lelang yang bisa di dapat ketika punya segalanya. Tapi, cinta tulus ini berhak termiliki oleh wanita sempurna sepertimu, sayang"


Ucapan Hansen membuat rona pipi Chika memerah. Senyum simpul terlihat indah menyala "Terima kasih, mas."


Pandangan keduanya bertemu beberapa saat.


"Hansen......" Datanglah seseorang dengan tergesa gesa. Wanita paruh baya berparas cantik menatap ke arah mereka berdua.


Sontak Hansen berpaling pandang. Melihat di belakang wanita tersebut terlihat juga seorang laki laki paruh baya menggunakan setelah jas rapi juga dasi warna biru "Kalian baik baik saja?" mereka lantas mendatangi Chika dan juga Hansen. Dari wajah mereka terlihat ada kekhawatiran mendalam.


Hansen langsung bangkit "Untuk apa kalian datang ke sini?" Tanya Hansen angkuh.


"Mama khawatir dengan keselamatan kamu, nak. Tidak ada hal buruk terjadi sama kamu, kan? nggak ada yang terluka, kan?" wajar seorang ibu mengkhawatirkan anak anaknya, apa lagi jika menyangkut keselamatan.


"Mas....." Chika meraih tangan ssang suami, seraya menggeleng kepala. Ia meminta suaminya tidak bersikap angkuh di hadapan ke dua orang tuanya sendiri.


Hansen berbalik badan sembari menguspa kepala Chika "Jika kedatangan kalian hanya ingin memastikan satu hal, maka semua sudah jelas, bukan? sekarang kalian bisa pergi? istri saya harus istirahat"


"Has...." Sang ayah menyentuh pundak Hansen. Membiat Hansen menoleh "Singkirkan tangan anda..." Ketus Hansen.


Tanpa gentar sang Ayah membawa Hansen dalam satu pandangan "Papa tau semua ini salah kami. Tapi, kami sadar kalau pilihan kamu sidah tepat. Sekarang kami sadar kalau ternyata apa yang kami anggap pantas untukmu tidak sesuai harapan. Maafkan kami, nak" Dari tatapan dan ucapan terlihat jelas ketulusan di mata sang ayah. Meski begitu Hansen terlalu benci untuk menerima permintaan maaf tersebut.

__ADS_1


"Sekarang kami sadar jesalahan kami selama ini. Tolong ampuni kami, nak" Sambung sang ibu sembari mengusap lengan Hansen.


Meluhat tidak ada reaksi, Chika pun berusaha turun dari ranjang rumah sakit lalu menghampiri sang suami "Mas, bukalah hati untuk om dan tante. Sesungguhnya tidak ada orang tua menginginkan hal buruk pada anak mereka. Aku saja mau memaafkan semua kesalahan mas selama ini, kenapa semua itu tidak berlaku bagi mereka"


Hansen menatap mata sang istri "Tapi...." Belum sempat Hansen mengelak, Chika lantas membungkam mulut Hansen "Kalau mas cinta sama aku tolong maafkan on dan tante"


Sang ibu mertu langsung mendekati Chika "Panggil saya Mama, jangan tante. Begitu pula dengan suami saya. Kami sudah menerimamu sebagai menantu kami. Dan saya juga mau minta maaf sudah berbuat buruk padamu selama ini"


Chika tersenyum "Saya sudah memaafkannya, tante. Eh maksud saya Mama"


"Papa juga minta maaf sama kalian. Sekarang kita adalah keluarga. Jadi bolehkah saya memeluk kalian" Tanya Sang ayah mertua.


Hati Hansen mulai mencair. Chika langsung memeluk ibu mertua di susul oleh ayah mertua. Tinggal Hansen saja yang masih melihat mereka bertiga pelukan erat.


"Baiklah, saya terima kalian kembali" Hansen pun ikut berpelukan.


Tanpa mereka sadari ada seseorang menatap ke arah mereka "Ternyata aku terlambat. Dia sudah bahagia sekarang" kedua mata berkaca kaca dengan melangkah mundur sampai Revan kembali berbalik lalu pergi.


"Dunia Gelap Chika sudah berakhir sekarang" senyum melebar di sudut bibir Revan. Awalnya ia ingin membebaskan Chika dari belenggu dunua hitam, namun dia tau kalau Chika sudah bahagia bersama suami dan orang sekitarnya.


"Melihat mu bahagia sudah cukup untukku" Meski hati terasa sakit, namun Revan harus berdiri tegap demi kebahagiaan wanita yang ia cintai.

__ADS_1


CINTA tidak harus memiliki. Sesungguhnya cinta sejati adalah mereka yang rela berkorban hati demi melihat orang tercinta bahagia atas pilihan sendiri. Cinta tidak akan memaksakan kepada dan dengan siapa, melainkan cukup melihatnya bahagia. Tidak semua cinta dapat dengan mudah di kuasai, sebab dari sejuta cinta ada banyak hati harus rela berkorban.


SEKIAN


__ADS_2