
Di saat Erick mengobati luka di tangan Hansen, Chika merasa tidak tega melihat wajah suaminya menahan rasa sakit kedua kali, dan ternyata masih ada banyak serpihan kaca kecil di tangan Hansen yang tidak di ketahui Chika.
" Mas, kalau begitu aku buatkan minum dulu, ya." Ucap Chika.
Hansen nampak meringis kesakitan dan hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan sang istri.
Setalah Chika hilang dari pandangan mata kedua manusia itu, Erick tersenyum.
" Kenapa?" Tanya Hansen.
Erick membalut luka di tangan Hansen setalah selesai membersihkan serpihan di tangannya. Ia duduk sambil menepuk pundak Hansen" Sejak kapan kamu jadi bodoh karena seorang wanita? bukankah selama ini Hansen sahanat ku tidak pernah sebodoh ini. Bahkan dulu kamu sangat membencinya?"
Hansen menyadari ada perubahan besar dalam dirinya. Mungkin semua di sebabkan oleh cinta"Entahlah. Aku pun tidak tau sejak kapan rasa cinta ini timbul, yang pasti saat ini aku sangat tidak rela kehilangan dia. Sudah cukup semua luka yang aku berikan padanya." Jelas Hansen sembari menyandarkan diri pada bahu sofa.
"Hans, Hans, kamu beruntung bisa mendapatkan wanita sebaik dia. Bahkan dia masih bertahan dengan semua siksaan yang kamu berikan selama ini. Sekarang memang sudah saatnya kamu membuatnya bahagia." Erick merasa Hansen mulai merubah sikapnya terhadap Chika, yang mana dia ingin merubah egonya demi mendapatkan cinta seorang wanita yang telah di nikahi beberapa bulan lalu.
"Aku pun ingin begitu. Tapi, ada hal yang berubah dalam dirinya, sifatnya mulai dingin padaku, seolah aku tak mengenal dia lagi." Ucap Hansen sembari menengadahkan kepalanya, melihat langit-langit rumah. Pikirannya mulai di penuhi rasa takut.
Erick mulai mengerti sekarang. Seorang paranoid saja ketakutan saat apa yang di miliki mulai mengubah diri. Dari semua itu dapat di simpulkan, jika bersabar tak kunjung mendapatkan maka lekas berubah sampai membuatnya merasa kehilangan.
"Hahahaha.....ini kisah paling bersejarah bagi ku, bisa menyaksikan gunung es mencair seketika" Erick tertawa girang sampai ia memegangi perut.
Hansen memicingkan mata sambil melempar bantal ke wajah Erick"Sialan, pake ngetawain segala. Lihat aja nanti kalau kamu ketemu wanita sejenis Chika, bisa klepek klepek kamu."
__ADS_1
"Iya deh iya, gue minta maaf. Habisnya lucu juga sih sama kisah cinta lo itu. Kalau di karang jadi novel pasti bagus tuh ceritanya" Erick terus menggoda Hansen sampai tak bisa berhenti tertawa.
"Puas banget lo liat gue menderita. Yang gue takutin itu bagaimana jika dia mulai mencintai lelaki lain?" Lirihnya dengan nada berat.
(Dasar bodoh. Memang dia itu buta apa bagaimana sih? jelas sekali kalau istrinya itu mencintai dia, masih aja curiga. Emang dasar bucin) Erick merasa bahwa Chika bisa merubah Hansen menjadi sosok lelaki yang baik, karena pandangan mata Hansen nampak melemah saat menyebut nama istrinya.
Mencondongkan badan dengan kedua tangan memgatup "Selama hidup baru kali ini gue ngarasain takut kehilangan" tergambar jelas cinta di mata Hansen, mesti ia belum menyadari sepenuhnya.
"Bodoh.(Memukul lengan Hansen)Dia itu hanya mencinta kamu saja. Sudahlah, jangan pikirkan hal itu, sekarang lebih baik kamu fokus sama kesembuhan tangan kamu dulu. Untuk beberapa hari jangan terkena air supaya lukanya cepat kering, dan sering-sering di bersihkan juga ganti perbannya sehari sekali."
Hansen menatap arah dapur yang mana istrinya tak kunjung kelua.
" Kamu dengar tidak?" Ucap Erick saat merasa ucapannya di abaikan.
Tak berapa lama Chika datang membawa nampan berisikan dua cangkir dan di susul para asisten yang membawakan makanan ringan.
"Silahkan di minum..." Ucap Chika lembut.
" Tak perlu repot-repot, saya jadi tidak enak."
"Saya tidak merasa repot. Silahkan di cicipi." Chika pun duduk di smaping suaminya. Mengambilkan minum untuknya dengan penuh ketelatenan.
"Ini makanan yang membuat Nyonya sendiri, Tuan." Sambung asisten rumah tangga yang baru saja keluar dari dapur.
__ADS_1
Chika memberi kode mata kepada pada sang asisten.
"Maaf, Nyonya. Saya bicara apa adanya. Dari tadi pagi Nyonya sudah menyiapakan semuanya. Nyonya itu tidak hanya cantik tapi juga pintar masak. Masakan Nyonya enak enak semua" Tak henti pujian kelaur dari mulut pengurus rumah tangga.
"Bibi, sudah ah jangan berlebihan"
"Wah...pasti enak sekali makanan ini. Apa lagi kalau bisa makan masakan kamu, pasti lezat" Segera Erick mengambil satu pisang goreng yang masih panas lalu melahapnya. "Ternyata benar kata bibi, tidak hanya cantik, tapi kamu juga pandai memasak" Pujian yang Erick berikan membuat Hansen menatap tajam ke arahnya.
"Berisik..." Kesal Hansen saat mulut Erick terus menerus memuji Istrinya.
Hansen berdiri, meraih tangan Chika"Sekarang kamu temani aku minum..." Hansen membawa Chika dalam pangkuannya.
Uhuk uhuk...
Erick tersedak melihat perilaku Hansen saat ini. Tak mengira Hansen yang terkenal ketus terhadap wanita berani memamerkan wanitanya di depan sahabat baiknya sendiri.
Sejak kapan dia jadi lebay kek gini?
" Apa sih, mas. Lepas..." Chika berusaha lepas dari pangkuan suaminya, tapi menggunakan sakit di tangan kanannya Hansen merengek meminta di suapi.
"Bantu aku makan, kalau tidak bagaimana caranya aku mencicipi makanan istriku ini." Manja Hansen pada Chika.
Melihat tingkah kekanakan Hansen membuat Erick tak kuasa menahan tawa (Ya ampun selebay itukah singa yang jatuh cinta?)
__ADS_1
Semua masih berlangsung sampai Erick merasa risih dan memutuskan pulang.