Dunia Gelap Chika

Dunia Gelap Chika
Episode 07


__ADS_3

Setalah hampir beberapa lamanya mereka terkapar, Hansen memeluk erat Chika. Sedangkan Chika tertidur dengan menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Siksaan yang di alami membuatnya enggan untuk bangun lagi.


Tak berapa lama Hansen mencubit pipi Chika supaya dia bisa segera terbangun dan lepas dari lengannya.


" Bangun. Kamu mau membuat tanganku putus?"


" Maaf, saya tidak sengaja." Segera Chika duduk menarik selimut yang menutupi sepertiga badannya.


Hansen bersandar pada bahu ranjang yang dia beri beberapa bantal, dia melihat punggung gadis kecil itu penuh dengan goresan akibat tajam kuku miliknya.


" Apakah itu sakit?" Ucap Hansen datar.


Tatapan mata Chika tidak bisa berbohong meski mulutnya berkata tidak.


" Kemarilah..." Pinta Hansen lalu Chika menuruti perintahnya.


" Menurut saja, maka kamu tidak akan mendapat perlakuan seperti ini." Bisik Hansen sembari merapikan beberapa helai rambut Chika yang terurai berantakan.


" Hans, bolehkan saya meminta ijin pergi menjenguk Kakek Ana?" Pinta Chika dengan tatapan memelas.


Hansen meletakkan tangan di kepala Chika, mengusapnya perlahan...

__ADS_1


" Aku antar kamu kesana."


Tak berapa lama mereka membersihkan diri lalu keluar dari kantor menuju Rumah Sakit dimana kakek dari sahabatnya berada.


" Bukankah tadi pagi kamu bilang ada meeting?"


" Sudah batal. Semua karena kamu tidak patuh." Cetus Hansen dengan Fokus pada kemudi.


Chika hanya bisa diam, tak ingin menyinggung perasaan Hansen karena saat ini hatinya sedang baik. Senyum pun kerap kali terlukis di bibirnya.


Sesaat mereka sampai Rumah Sakit dan mereka pun segera menuju kamar rawat inap kakek sahabat Chika...


" Jangan asal peluk orang..." Hansen menyingkirkan Ana dari tubuh Chika. Dia segera membawa Chika dalam dekapannya.


" Keterlaluan! Dia ini sahabatku kenapa kamu melarang kami berpelukan, memangnya kamu siapa?" Ana memaki habis Hansen di depan semua orang yang ada di sana. Beberapa perawat dan keluarga pasien lainnya menatap ke arah mereka, menatap tajam seolah meminta mereka diam.


" Ana, please..." Lirih Chika dengan hanya mengangga mulut tanpa mengeluarkan suara.


" Dia adalah mainan ku tidak seorang pun berhak menyentuh itu dariku." Ketus Hansen dengan kembali merangkul pundak gadis kecil itu.


" Kamu...." Jari telunjuk Ana menunjuk tepat di depan matanya, merasa marah atas apa yang telah di perbuat Hansen.

__ADS_1


" Hans..." Ucap Chika sembari menatap wajah Hansen.


" Baiklah, aku tunggu di mobil saja." Segera Hansen meninggalkan tempat itu.


" Dasar paranoid, memangnya aku takut sama lelaki busuk macam kamu...." Teriak Ana dengan kesal.


Segera Chika mendekati sahabatnya....


" Lupakan masalah dia, sekarang kita fokus sama kakek dulu." Chika memeluk erat Ana ketika melihat kekokohannya runtuh. Ana yang tadinya sok kuat sekarang menjatuhkan diri di lantai meraung menangisi kematian kakeknya. Chika hanya bisa meminjamkan bahunya untuk bisa mengurangi kesedihan dalam hati sahabatnya.


Kehilangan anggota keluarga sangatlah menyakitkan seolah terbenam saat mata terbuka lebar.


Pukulan keras dalam hidup membuat mereka tak bisa menampung air mata lebih lama lagi.


" Chika, kakek sudah benar-benar pergi, bagaimana aku bisa hidup tanpa kakek bersamaku? sekarang aku tinggal sebatang kara." Ucap Ana dalam pelukan sahabatnya, air mata yang tumpah menetes hingga terasa begitu menyayat di hati.


" Tuhan lebih sayang kakek dari kita, jadi Tuhan memintanya kembali dan kita harus merelakan beliau, karena semua kembali kepada Sang Pemilik." Ucap Chika menguatkan hati sahabatnya.


Setelah hampir satu jam menemani Ana kini Chika harus segera pulang.


" Terima kasih sahabatku.." Mereka berpelukan sebelum meninggalkan kamar jenazah.

__ADS_1


__ADS_2