
Beberapa hari kemudian. Sikap Hansen perlahan berubah. Setiap saat perhatian tercurah sepenuhnya untuk sang istri. Baginya tidak ada hal paling berharga selain istri. Walau hanya seorang pendampingvhidup tapi istri berperan pentin dalam rumah tangga. Ibarat rumah istri adalah atap, siap melindungi anggota keluarga.
Baik buruknya seorang istri tergantung dari cara suami memperlakukannya. Kesuksesan suami di ukur dari seberapa sukses ia membahagiakan istri. Jantung runah tangga ada pada seorang istri, jadi perlakukan dan rawat dia dengan baik supaya hidup sehat bahagia.
"Mas, hari ini aku mau pergi belanja bulanan sama bibi. Mas mau sekalian di beliin apa? makanan kesuakaan mas mungkin" Ucap Chika seraya menyiapkan baju kerja sang suami.
Hansen tengah menatap ke arah sang istri yang berada di depan lemari tengah memilah pakaian untuknya.
"Tidak ada makanan kesukaan selain masakan istri ku ini" Tiba tiba saja Hansen memeluk Chika dari belakang.
"Kamu bisa saja, mas. Buruan mandi nanti kesiangan. Udah jam setengah tujuh lho, katanya hari ini ada meeting di kantor" Berbalik badan kemudian mengusap wajah suaminya. Tidak pernah sekali pun membayangkan Hansen akan berubah seperti sekarang ini. Lelaki antagonis berubah seratus delapan puluh derajat dari watak aslinya.
Jika seorang lelaki telah menemukan cinta sejati, yang galak sekali pun akan tunduk di hadapan istri tercintanya. Kekuatan dan kelemahan seseorang terletak pada hati mereka. Namun, ada pula yang menyakiti cinta mereka demi ego semata. Bukan ego mungkin, lebih tepatnya ada pihak lain berusaha masuk dalam hati salah satunya. Bumerang paling berbahaya adalah pihak ketiga. Dalam sebuah hubungan jika ada tangan ke tiga masuk ke dalam cerita, sudah di pastikan hubungan itu akan hancur.
"Kenapa melihat ku seperti itu? memang suami kamu ini tampan, tidak perlu kamu sanjung dalam hati. Ucapkan saja apa yang ingin di ucapkan" Meraih pinggang ramping Chika. Tatapan keduanya saling bertemu. Masa lalu mengajarkan Hansen cara menghargai cinta juga memuliakan istri. Dari cerita kemarin ia belajar untuk tidak lagi terjebak dalam lautan dosa.
Chika tersenyum tipis sambil menatap sendu "Ternyata seekor serigala bisa bucin juga kalau soal cinta"
"Apa? serigala? jadi kamu samakan suami kamu ini seperti serigala?"
Chika meletakkan kedua tangan di bahu sang suami sambil tersenyum "Tidakkah mas ingat bagaimana mas dulu memperlakukan aku?"
Seketika pandangan mata Hansen melemah. Ada kesedihan dalam matanya "Maafkan aku selama ini banyak menyakiti kamu. Entah kenapa dulu aku bisa bersikap kasar seperti itu. Tapi, setelah kejadian itu, aku baru sadar kamu adalah tulang rusuk ku yang hilang. Dengan menyakiti mu sama saja menyakiti diri sendiri. Mulai sekarang aku berjanji tidak akan lagi berbuat seperti dulu. Akan ku rubah sifat lama ku demi masa depan kita" Mencubit hidung Chika lalu membelai mesra wajah cantiknya "Maaf ya atas segala tindakan kasar ku"
Chikq tersenyum tulus"Jauh sebelum mas minta maaf, aku sudah memaafkan dengan lapang dada. Satu yang ku pinta jangan pernah berubah menjadi serigala jahat lagi. Teruslah menjadi suami terbaik sepanjang hidup ku" Tiba tiba saja Chika menciun pipi Hansen.
__ADS_1
"Pasti, sayang."
Tok, tok, tok....
"Permisi Tuan, sarapan sudah siap" Ujar seseorang dari luar pintu kamar.
"Iya, sebentar lagi saya turun" Jawab Hansen dari dalam kamar.
"Baik, Tuan" Kepala Asisten rumah tangga langsung kembali turun.
"Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu ya sayang. Oh iya aku mau kamu siapakan teh kesukaan aku seperti biasanya"
"Iya. Kalau begitu baju sudah aku siapain di atas ranjang, mas. Aku mau turun dulu"
Tak berapa lama Chika turun "Bi, hari ini temani saya belanja bulanan ya"
Setelah itu Chika bergegas menuju dapur menyiapkan teh untuk suaminya.
Di sisi lain ada seseorang tengah duduk berpangku tangan. Memandang langit biru yang cerah. Dari dalam kantor ia melihat keindahan pagi. Di depan meja ada banyak pekerjaan menumpuk. Meski begitu hati dan pikiran selalu tercurah untuk wanita tercinta "Aku berjanji akan datang sebentar lagi untuk menjemput mu, Chika. Tunggu aku sebentar lagi. Kita akan hidup bersama selamanya. Setelah kita bersama, aku akan menjamin kebahagiaan untuk mu selalu"
"Ehem...." Datanglah seseorang sambil melempar senyum padanya.
"Sepertinya Papi perhatikan kamu sering menatap langit, apa kamu sedang merindukan seseorang?" Seorang lelaki paruh baya mendekati Revan.
"Setiap saat aku selalu merindukan dia, Pi. Entah sekarang bagaimana kabar dia aku tidak tau. Sejak hilangnya ponsel itu semua tentang dia hilang begitu saja. Namun, cinta untuknya masih tersimpan utuh" Ujar Revan memperlihatkan perasaannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak menemui wanita itu? Papi akan mendukung mu, nak"
"Tidak, Pi. Aku berjanji padanya akan menjadi jauh lebih kaya dari seseorang yang membuatnya tersiksa selama ini. Sebelum ku genggam kesuksesan itu tidak akan pernah ku ingkati semua janji" Tekat Revan begitu kuat sampai ia ingin menyangi kekayaan Hansen. Meski mustahil tapi ia mencobanya.
"Kurang sukses apa lagi? semua sudah kamu miliki. Papi bangga padamu, nak. Sudah waktunya Papi serahkan semua harta Papi sama kamu. Sekarang ini Papi terlalu tua untuk memimpin perusahaan, saatnya kamu mengantikan Papi. Kamu anak satu satunya yang Papi miliki. Kamu adalah pewaris keluarga" Ujar Beliau sembari melipat kedua tangan.
"Revan tau semua itu. Tapi, kita belum sebanding dengan kekayaan keluarga Hansen. Pokoknya sebelum aku bisa lebih unggul darinya, aku tidak akan berhrnti berjuang"
Sang Ayah lantas mendekati putranya "Dalam dunua bisnis pantang untuk menyarah. Kalau kamu punya tekat yang kuat, Papi yakin kamu bisa sukses lebih dari dia" Sebelumnya Revan sudah memberitahu pada sang Ayaj bahwa dia ingin membebaskan seorang wanita yang di cintai dari genggaman lelaki jahat.
"Mas, mau sarapan apa? roti atau nasi goreng?" Tanya Chika sembari hendak menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.
Hansen sibuk dengan ponsel "Sepertinya aku harus cepat berangkat deh, sayang. Audah di tunggu clien"
"Sudah aku bilang dari tadi suruh mandi, tapi mas nggak cepat mandi sih. Ya udah kalau begitu minum dulu atau mau aku siapaim bekal untuk sarapan mas di jalan?" Tawar Chika.
Meraih secengkir kopi lalu meminumnya "Tidak perlu, sayang. Nanti aku sarapan di kantir saja. Kalau begitu aku berangkat kerja dulu ya" Segera Hansen bangkit. Chika langsung mencium tangan Hansen sebagai tanda pengabdian seorang istri.
"Oh iya aku lupa..." Meraih dompet lalu mengeluarkan sesuatu "Pakai untuk belanja bulanan. Sekalian kamu shoping beli apa saja yang kamu mau. Baju, sepatu, tas, atau perhiasan. Terserah kamu mau pakai buat apa" Menyodorkan sebuah kartu hitam yang di miliki pengusaha besar saja
"Bukankah ini terlalu berlebihan. Baru beberapa hari lalu mas kirim uang bulanan ke rekening aku, dan uangnya masoh utuh. Kenapa kasih kartu non limit ini. Nggak ah mas, aku nggak berani pakai ini" Menyodorkan kembali kartu milik sang suami.
"Sudah pakai saja. Milik ku adalah milik kita berdua. Ya sudah aku berangkat dulu, sayang. Nanti jangan lupa hati hati kalau mau keluar" Segera Hansen mencium kening sang istri.
"Bye....sayang ku"
__ADS_1
Chika pun mengantar Hansen sampai teras rumah. Ia pun melambaikan tangan saat Hansen mulai pergi.
"Semoga perubahan sikap suami ku bisa terjaga sampai kami tua. Melihatnya seperti ini membuat ku tenang dan nyaman di sisinya" Senyum terus mengambang dari wajah Chika.