Dunia Gelap Chika

Dunia Gelap Chika
Episode 32


__ADS_3

Chika menggenggam erat foto Revan, menatap tajam foto Hansen yang ada di dinding kamar "Kamu harus menebus semua perbuatan jahat kamu ini." Kecam Chika.


Setalah puas memaki potret suaminya, Chika pun membuka kotak berwarna coklat. Saat kotak terbuka, ia mendapati kalung emas dengan lambang hati serta satu cincin berbalut sebuah kertas kecil.


( Suatu hari nanti aku pasti bisa menyematkan cincin ini di jari manis mu. Tapi, untuk sementara waktu simpanlah cincin ini sebagai ganti kepergiaan ku. Tunggu kedatangan ku) Tulisan tangan Revan membuat hati Chika semakin hancur. Selama ini dia tau bagaimana perasaan Revan kepadanya, hanya saja dia tidak ada kebaranian lebih untuk menolak atau pun menerima. Semua karena dia terlalu takut dengan Hansen.


Secarik kertas bertuliskan tinta hitam, seolah menghantam hati Chika. Tak pernah terpikir olehnya untuk mencintai Revan sedalam cinta Revan terhadapnya. Meski perasaan Cinta Chika mulai memudar untuk Hansen tidak lantas membuatnya berpindah hati secepat itu. Ia hanya sedih sebab semua luka di badan Revan terjadi karenanya.


"Semua yang terjadi padamu akibat diriku, maafkan aku." Isak tangis memenuhi ruangan, sampai pada akhirnya Hansen masuk karena Chika sudah terlalu lama mengurung diri dalam kamar. Terlihat ia membawa sesuatu.


"Sayang, kamu kenapa?" Segera Hansen mendekati istrinya dan berusaha menyeka air mata.


"Jangan menyentuhku. Sekarang jawab dengan jujur, apakah benar kamu menyakiti Revan sampai dia seperti ini?" Lembaran foto di tunjukkan tepat di depan wajah suaminya.


"Jadi air mata kamu untuk dia? sepenting itukah dia untuk kamu sampai melimpahkan semua salah kepada ku tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu..." Hansen mencoba mendekati Chika yang tengah berdiri, menatap tajam dirinya, serta kepalan tangan membulat.


Hansen tidak tau tentang semua itu. Ia sempat bingung karena bagaimana cara dia menyakiti lelaki itu, sedangkan dia terus bersama dengan Chika.

__ADS_1


" Aku tidak melakukan apa pun kepadanya. Bukankah kamu sendiri meminta ku untuk tidak menyentuhnya? lalu bagaimana cara ku melukainya?"


Chika menatap tajam mata Hansen...


"Bukan kamu tapi orang bayaran kamu." Ketus Chika dengan melempar semua foto di tangannya. Hansen terkejut melihat semua foto itu, karena dia tidak melakukan hal apa pun terhadap lelaki itu sesuai keinginan Chika.


" Tidak mungkin! Orang ku tidak akan melanggar semua perintah dari ku." Ketus Hansen dengan bergegas keluar dari kamar.


"Terderah percaya atau tidak itu hak kamu" Segera Hansen melangkah pergi, meninggalkan Chika yang masih berdiri mematung dengan menatapnya penuh kebencian.


Setalah itu Hansen menghubungi orangnya lalu meminta mereka bertemu di sebuah tempat. Tak lama mereka pun sampai di sebuah tempat yang sudah di setujui.


" Katakan padaku siapa yang berani melawan perintah ku?" Ucap Hansen dengan amarah membara.


Mereka berlima saling melempar pandang, merasa tidak mengerti dengan ucapan Hansen. " Maksud anda apa, Tuan?" Tanya salah satu di antara mereka.


Brak.....

__ADS_1


Satu pukulan keras dia atas meja kayu. Tentunya mereka semua terkejut.


" Kalian lihat ini.." Sebuah foto di tunjukkan di depan wajah mereka. " Sekarang siapa yang bisa menjelaskan ini semua?" Bentak Hansen seraya menatap satu persatu orang bayarannya tersebut.


" Maafkan kami, Tuan. Sebelum menerima perintah, kami lebih dulu memberi dia pelajaran."


Brukk....


Satu pukulan keras mengenai salah satu dari mereka sampai terjatuh ke lantai, terbentur tembok di belakangnya. Melihat amarah dan Tatapan tajam Hansen membuat semua orang menundukkan kepala. Mereka tau bahwa saat ini mereka ada dalam bahaya.


" Habislah kita..." Lirih mereka seraya memundurkan langkah.


" Maafkan kami, Tuan. Jangan hukum kami...."


" Kenapa kalian harus meminta maaf? bukan kalian yang salah. Tapi, dia..." Datanglah seorang kepala mafia yang menangani masalah Hansen. Para anak buahnya di perlakukan dengan tidak baik hingga membuatnya geram. Jordy Sanjaya, kepala mafia terhebat di kota itu dan sering di pakai oleh Hansen untuk menumbangkan lawan main.


" Sekian lama kita bekerja sama bukankah hal wajar bagimu melukai sampai titik akhir?" Jordy membantu anak buahnya lalu meminta mereka semua pergi dari sana. Sekarang hanya ada mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2