
"Hans, lebih baik lo pulang deh tenangin dulu bini lo, pasti dia syok sama kejadian hari ini. Lihat saja dari cara dia menunduk, seperti merasa bersalah dan juga malu. Saat ini dia pasti butuh kamu di sampingnya" Ucap Jaka memberi saran.
Hansen juga berpikir begitu "Benar juga kata kamu. Kalau begitu gue mau langsung pulang samperin bini gue. Kalau lo nggak sibuk tolong dong gantiin gue meeting hari ini" Hansen menepuk pundah Jaka.
"Aduh, udah gue duga pasti gue kena imbasnya"
"Ayolah lo kan sahabat baik gue, masa nggak mau bantuin gue"
M3nghela nafas panjang "Hah.....ya sudah lah kali ini gue bantuin lo. Tapi, kapan kapan kita ke tempat biasa"
"Oke, tenang aja" Hansen pun langsung pergi.
Chika sedang dalam perjalanan pulang. Setelah kejadian tadi ia terdiam tanpa kata. Ana melihat ke arah Chika "Nggak usah di pikirin kejadian tadi, toh dia juga yang kena batunya" Menyentuh lengan Chika sembari mengusapnya perlahan.
Meski berusaha bersikap biasa saja, tepi Chika tidak bisa menyembunyikan rasa bersalah. Jauh sebelum menikah dengan Hansen, ia sudah tau tentang pertunangan sang suami dengan wanita pilihan kelaurga. Tapi, apa boleh buat pernikahan dadakan terjalain tanpa di rencanakan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Chika...." Ana menghuyung badan Chika ketika ia tak merespon ucapannya.
"Eh, iya kamu bilang apa tadi?"
Ana geleng kepala "Udahlah nggak usah pikirin omongan cewek gila tadi. Di mana pun tempatnya derajat istri lebih tinggi dari sebatas mantan tunangan. Pokoknya aku nggak mau lihat kamu murung lagi. Sentum dong"
Atas permintaan sabahat terbaiknya, akhirnya Chika melebarkan senyum "Makasih ya An, kamu udaj belain aku di depan semua orang" Memeluk erat Ana.
"It's oke. Ya sudah sekarang aku harus pulang. Nanti di halte depan berhenti ya"
Chika melepas pelukan lalu menatap Ana "Lho kenapa turun di jalan? biar sekalian aku antar kamu pulang"
"Kamu kerja di tempat itu?" Chika terkejut ketika melihat seragam kerja Ana.
Ana menunduk "Mau bagaimana lagi, aku cuma bisa dapat kerjaan di sana"
__ADS_1
"Tapi An di sana banyak pria hidung belang, kamu nggak pantes kerja di sana" Chika menghiba dengan nasib sahabatnya yang harus bekerja di tempat hiburan malam.
Ana tersenyum sambil menatap Chika "Nasib ku tidak seberuntung kamu, Chika. Sekarang cari kerja susah. Meski seorang sarjana nhatanya tidak menjamin kemudahan. Buktinya aku. Hampir setiap ada lowongan kerja aku coba tatep saja di tolak. Dan hanya pekerjaan ini satu satunya yang menerima aku" Senyuman di wajah Ana membuat Chika tau betapa besar kesedihan yang di sembunyikan darinya
"Pak, pak, halte depan berhenti ya" Ucap Ana pada sopir pribadi Chika.
"Baik, mbak" Sesampainya di halte, Ana langsung turun "Makasih untuk hari ini"
"An....kamu hati hati ya, jaga diri baik baik. Jangam sampai kamu...."
"Udah tenang aja aku udah gede, bisa jaga diri sendiri. Nanti jangan lupa hubungi aku ya biar kita bisa komunikasi lagi kaya dulu"
"Siap. Kamu hati hati ya"
"Oke"
__ADS_1
Chika pun langsung meninggalkan Ana.
"Nasib dia sekarang lebih beruntun dariku" Ana tersenyum melihat Dunia Gelap Chika berubah menjadi dunia penuh warna.