Dunia Gelap Chika

Dunia Gelap Chika
Episode 40


__ADS_3

"Pasti dia sengaja nggak mau nemuin gue" Kesal Vero sembari melipat kedua tangan. Entah ada urusan apa sampai dia datang lagi dalam kehidupan Hansen.


"Tunggu saja sampai jamuran di situ, aku tidak akan menemui dia. Wanita sepertinya tidak pantas di kasih hati nanti minta yang lain" Hansen mengacuhkan Vero dengan tidak menemuinya. Meski Vero punya fisik hampir bisa di bilang sempurna, tetap saja Hansen tidak tidak tertarik padanya sama sekali.


Hampir satu jam lebih Vero menunggu tapi Hansen tidak ada keluar atau memintanya masuk. Vero pun langsung nekat menerobos masuk ke dalam ruangan Hansen "Keterlaluan kamu Hans, tega sekali kamu biarin aku di luar seperti orang asing." Maki Vero sambil menghentakkan kaki. Tatapan mata membulat serta raut wajah memarah.


"Memang kamu orang asing, kan? Nggak penting sekali bertemu sama orang seperti kamu. Lebih baik kamu pergi dari ruangan ku, atau kamu akan di usir secara tidak hormat" Hansen mulai kesal melihat wajah Vero kembali menampakkan batang hidung di depannya.


"Kamu jahat, Hans. Aku ini tunangan kamu"


Mencondongkan badan sembari tersenyum "Sejak kapan aku mengakui kamu sebagai tunangan ku? Dari dulu sampai sekarang kamu itu bukan siapa siapa. Sudahlah, kamu pergi dari sini, masih ada banyak pekerjaan penting yang harus ku kerjakan, di banding meladeni wanita gila seperti kamu" Hansen pun bangkit hendak meninggalkan ruangan, namun tiba tiba Vero menghentikan langkahnya dengan meraih tangan Hansen "Kenapa kamu tidak melihat ku sedikit saja, di banding wanita kampungan itu jelas aku lebih segalanya. Apa mungkin mata kamu bermasalah? atau selera kamu memang wanita rendahan seperti itu?"


Sontak Hansen marah mendengar ucapan Vero. Kedua tangan mengepal erat. Tatapan bagai burung elang teelihat jelas "Bicara apa kamu?"


Vero memalingkan wajah "Aku bicara sesuai kenyataan"


Hansen mulai lepas kendali, ia pun lengsung mengarahkan tangan kekarnya di leher Vero. Dengan kasar ia mendorong Vero sampai tubuh membentur tembok "Le.....pas" Vero kesulitan bernafas saking erat Hansen mencekik lehernya.


"Sekali saja kamu menghina istriku, maka bersiaplah menerima resikonya" Seketika Hansen langsung menghentakkan satu tangan lain seolah ia benar hendak menghabisi Vero.


Vero sudah tidak bisa berkata kata lagi. Leher terasa kering sampai bernafas saja sulit.


Bruk...


Hansen melempar tubuh Vero ke samping "Sekali lagi kamu merendahkan dia, habis kamu" Ancaman Hansen membuat Vero ketakutan. Sambil memegang leher ia berusaha kabur dari hadapan Hansen.


"Keterlaluan kamu Hans, tunggu saja balasa dariku" Ujar Vero sembari menokeh ke belakang melihat ounggung Hansen.


"Gara gara dia bikin mood ancur" Hansen pun kembali duduk sembari melihat ponsel di atas meja "Biar good mood mending telpon istri tercinta dulu"


Drttttt...


"Eh bentar ya An, mas Hans telepon" Ujar Chika sambil bergegas menjauh dari Ana.

__ADS_1


"Halo, mas ada apa?" Ucap Chika lembut.


Mendengar suara merdu sang istri membuat Hansen lega. Senyumnya melebar indah "Aku cuma kangen sama kamu, sayang."


Chika terlihat tersipu malu "Baru saja setenfah hari nggak ketemu udah kangen aja"


"Jauh dari istri semenit rasa setahun"


Ucapan Hansen semakin membuat Chika bahagia. Pengorbananya selama ini tidak sia sia. Sikap batu sang suami dapat di luluhkan dengan kasih sayang. Meski harus melewati banyak rintangan dan jalan terjal, tetap ia lewati demi masa depan yang indah.


"Oh iya, mas. Aku lupa mau kasih tau kalau tadi nggak sengaja aku ketemu teman pas lagi belanja, terus ini aku ajak dia ngobrol di cafe"


Hansen langsung memicingkan mata "Video call" Tuturnya.


Chika geleng kepela(Masih saja curigaan)


"Kok diam, pasti teman kamu itu laki laki, iya kan?" Hansen hampir terbakar api. Hingga panggilan video pun Chika lakukan.


"Oh....ya sudah tapi pulangnya jangan lama lama"


Chika pun memperlihatkan senyum manis "Baik sayang ku"


Mendengar kata sayang membuat Hansen sangat bahagia "Lihat senyum kamu jadi kangen"


"Ih mas apaan sih. Tar kan juga ketemu"


Hansen tertawa "Hehehe....ya udah kalau begitu mas mau lanjut kerja lagi, jangan lupa cepat pulang"


"Oke, mas"


"Hem....masih kangen sih, tapi ya sudah lah kangennya di tahan sampai nantibpulang kerja. I Love You, Honey. Emuah...." Begitulah Hansen kalau sudah mengenai Chika pasti bucin.


Setelah sambungan telepon berakhir, Chika lantas kembali ke duduk bersama Ana "Maaf ya jadi nunggu lama" sambil meraih segelas minuman lalu di minumnya.

__ADS_1


Ana menatap raut wajah Chika "Ternyata si paranoid itu bisa buat pipi kamu merona juga ya"


Seketika Chika tersipu malu "Jya gitu deh"


"Emang si paranoid itu seberubah apa sih sampai kamu merubah pandangan sama tu orang?" Ana ingin menggali teboh detail tentang rumah tangga mereka. Melihat perubahan besar pada diri seorang lelaki kasar membuatnya jadi penasaran.


Chika menarik nafas lalu menceritakan kisah awal mula Hansen merubah sikap.


"Jadi dia berubah karena rasa bersalah atau takut kehilangan kamu? kalau aku sih udah tak tinggalin cowok kek gitu, lagian nih ya ada banyak cowok yang mau sama kamu. Udah di sakitin berulang kali masih aja berhatan."


"Setiap orang berhak mendapat kesempatan memperbaiki diri. Aku sendiri juga bingung dengan perasaan ku ini, meski dia jahat, kasar, dan arogan, tapi hati tidak bisa berbohong. Setelah apa yang di perbuat padaku, hati ini tetap mencintai dia"


Ana mencondongkan badan "Terus bagaimana sama kak senior? dia itu semlat bilang sama aku kalau dia itu sebenarnya...."


"Suka sama aku, kan?" Sambung Chika memutus ucupan Ana.


Ana terkejut "Lho kok kamu tau dia suka sama kamu? terus kenapa malah bertaham sama si paranoid itu?"


Chika tersenyum "Masalah pilihan hati tidak bisa berbohong. Masalah Revan aku sendiri tidak menaruh rasa sedikit pun padanya. Aku cuma menganggap dia selayaknya seorang kakak saja, tidak lebih" Jelas Chika berterus terang.


Ana langsung geleng kepala "Yah kalau udah bucin mau di lirik sama arjuna sekali pun tidak akan terengaruh deh. Oh iya terus sekarang Revan di mana? udah lama nggak lihat dia"


Chika menunduk lesu "Dia pergi dari kota ini"


"Pergi? lha emang kenapa kok dia pergi"


Chika menceritakan kronologi cerita sesungguhnya "Begitulah awal cerita dia pergi"


"Astaga Chika, kenapa kamu nggak bisa lihat kalau dia itu benar mencintai mu dengan tulus. Bahkan dia rela bertaruh nyawa demi kamu" Ana gemas mendengar cerita kisah sahabatnya itu.


Chika terdiam sejenak sambil menundukkan kepala "Aku memang banyak hutang budi padanya. Tapi, aku juga tidak mau memberi harapan palsu untuknya. Apa lagi harus pura pura mencintainya, itu sangat menyakiti dia. Lebih baik dia mencari wanita yang juga mencintainya."


"Hah....ya sudahlah terserah kamu saja"

__ADS_1


__ADS_2