Dunia Gelap Chika

Dunia Gelap Chika
Episode 20


__ADS_3

" Dia kenapa?" Tanya Bryan, sahabat dekat Revan.


Revan memangku kepala Chika dengan memperlihatkan wajah panik sampai ucapan Bryan tidak masuk dalam telinga. Beberapa kali Bryan bertanya namun tidak sedikit pun Revan menjawab. Bryan melihat ada sesuatu dalam diri Revan, pancaran kepanikan itu terlihat nyata bagi semua mata yang memandang.


Baru kali ini gue lihat Revan seperti itu....


Setalah hampir setengah jam mereka sampai di Rumah Sakit. Revan segera keluar dari mobil, meraih tubuh lemah Chika kemudian menggendongnya.


" Tolong urus segala sesuatunya..." Titah Revan pada sahabat baiknya, Belum sempat Bryan menjawab, Revan lebih dulu pergi, jadi mau tak mau dia harus mengurus semuanya.


" Sepenting apa wanita itu di hati Loe, Re..." Bryan menggeleng kepala saat melihat Revan berlari sekuat tenaga dengan menggendong wanitanya.


Sudah lama sejak Revan kehilangan seseorang berharga dalam hidup, Bryan tidak pernah melihat Revan sedekat itu dengan wanita mana pun. Rasa sakitnya dulu mengubur pandangan cinta yang di pikir hanya sebuah ilusi semata, nampak indah tapi nyatanya semakin mencintai semakin menyakitkan.


" Dokter...." Teriak Revan ketika melihat sosok dokter keluar dari sebuah ruangan.


" Ada apa ini?" Tanya Dokter itu, namun setelah melihat wajah pucat Chika dengan bibir membiru membuatnya segera mengambil tindakan, membawa Chika masuk ruang UGD.


" Anda mohon tunggu di sini saja." Ucap Dokter.


Revan menunggu cemas dengan berjalan mondar mandir depan pintu,sesekali melihat jam tangan menunggu waktu...


" Aku harap dia baik baik saja."


Tak berapa lama Bryan datang membawa dua botol air mineral. Dari kejauhan Revan terlihat sangat panik....


" Dia perduli pada gadis itu, sepertinya dia mulai membuka hati untum wanita lain. Hati batu Revan mulai mencair..." Lirih Bryan dengan mempercepat langkah.


" Bagaimana kondisi dia?" Tanya Bryan.


" Masih dalam pemeriksaan..." Jawab Revan sembari duduk di kursi sebelah pintu.


" Tenang saja dia pasti baik baik saja..." Bryan menepuk pundak Revan seraya menyodorkan satu botol air mineral.


" Minum dulu tenangkan pikiranmu."


Revan meraih air itu kemudian meminumnya...


" Semoga tidak ada hal buruk terjadi padanya."


Bryan menatap wajah Revan yang tertunduk. Dia yakin bahwa wanita itu memiliki arti lebih dalam hidupnya sampai rela berkorban untuk menyelamatkan. Tapi Bryan merasa aneh karena tidak pernah melihat wanita itu, sosoknya begitu asing dari lingkungan mereka.


" Sabar ya, Sob.." Kembali Bryan menepuk pundaknya.

__ADS_1


" Kalau boleh tau dia itu siapa, kenapa gue baru melihatnya?"


" Wanita yang selama ini gue cari." Singkatnya seraya beranjak menuju depan pintu, mengintip celah kaca. Di lihatnya punggung para tenaga medis dengan sedikit memperlihatkan sebagian tubuh Chika.


" Maksud kamu?"


" Loe bisa diam tidak? pusing sama pertanyaan Loe itu..." Tiba tiba saja Revan murka saat Bryan mencari tau lebih dalam tentang hubungan mereka.


Saat ini dia tengah panik, jadi emosinya mulai labil.


" Chika kamu harus kuat...." Ucapnya sembari kembali melihat Chika yang tengah terkulai lemas di atas ranjang.


" Gue tunggu di luar..."


Mendapati perubahan sikap Revan membuat Bryan menepi sejenak. Dia pergi menuju parkiran supaya sahabatnya bisa tenang.


Setelah sepuluh menit lamanya Dokter itu keluar dan memberitahukan bahwa Chika harus di rawat inap sampai kondisinya membaik, sakit yang di derita Chika memang tidak serius hanya terlalu banyak pikiran dan asam lambungnya naik.


" Chika, bangun...." Dengan menggenggam satu tangan Chika dan satu tangan lagi mengusap kepalanya. " Jangan membuatku cemas ayo bangun." Sedikit menghuyung tubuh Chika setelah hampir satu jam tidak sadarkan diri.


Dalam gelap pandangan ada sosok mengerikan bersemayam di dalamnya, tawanya bagai luka, diamnya sebuah petaka, tindakannya bagai maut, hingga Chika mulai merasa sangat ketakutan lagi.


" Chika kamu kenapa?" Revan kembali panik saat Chika mengigau meminta tolong juga ampunan dari seseorang.


" Revan...." Dengan perasaan takut, Chika menggenggam tangan Revan.


" Akhirnya kamu sadar, mana yang sakit biar aku panggil dokter ya?" Ketika Revan hendak bangkit dari duduknya tiba tiba Chika menghentikan langkahnya....


" Jangan tinggalkan aku. Teruslah bersama ku. Aku takut, sangat takut" Pinta Chika, seolah sosok yang baru saja hadir dalam mimpinya itu serasa nyata.


" Aku tidak akan meninggalkan kamu, percayalah." Ucapan Revan sembari mengusap ujung kepala Chika.


Sorot mata Chika menggambarkan ketakutan luar biasa. Setelah semua hal buruk yang selama ini di alami, membuatnya tenggelam dalam ketakutan. Selama ini ia hanya memikirkan cara bagaimana membuat Hansen senang sampai dia aman dari petaka. Hidup terbelenggu bagai sebuah tali mengikat kedua tangan dengan erat. Andai bisa ingin ia terlepas dari heratan takdir hidup ini.


" Siapa Hansen?" Tanya Revan penasaran.


" Dia....dia majikan ku." Jawabnya singkat.


"Kenapa kamu mengigau namanya dengan nada ketakutan? apa yang dia lakukan sama kamu?"


Chika tidak berani berterus terang. Mendengan namanya saja membuat pikiran terrus terbayang wajah jahatnya.


"Please, jangam bahas itu lagi"

__ADS_1


"Baiklah. Aku tidak akan membahas dia lagi. Bagimana pun aku akan selalu ada untuk mu..." Revan menyunggingkan senyum dengan menyibakkan beberapa helai rambut Chika.


Chika berusaha menatap dalam mata lelaki itu, mulutnya perlahan membuka"Bantu aku pergi dari kota ini..." Air mata mengalir deras di iringi permohonan menyakitkan itu.


" Pergi? maksud kamu kita pergi dari kota ini? mengapa?" Sontak saja Revan terkejut.


" Kalau kamu pergi lalu bagaimana dengan kuliah kamu?"


" Sudah lama aku keluar dari kampus. Kamu mau kan membantu aku pergi dari sini?"


Revan hanya mampu mengangguk. Meski dia sendiri belum ada pikiran melarikan diri dengan seorang wanita.


" Kamu jangan banyak gerak dulu. Kata doktee kamu harus banyak istirahat" Revan membantu Chika duduk.


" Terima kasih. Tapi aku tidak ingin seperti ini terus. Aku ingin segera kelaur dari sini" Lirihnya dengan mengulas senyum.


Dalam hati Revan merasa ada hal aneh yang sengaja di sembunyikan, tapi dia tidak mungkin bertanya di waktu seperti sekarang ini, sebab hal utama adalah membuat Chika pulih dari kondisi lemahnya.


" Revan....aku benar benar ingin segera pergi dari kota ini, kalau bisa secepatnya." Lagi lagi Chika meminta hal yang telah di setujui, dengan begitu Revan semakin yakin bahwa saat ini Chika dalam bahaya besar.


" Iya, pasti aku bawa kamu pergi dari sini, tapi ku harus cepat sembuh." Ucap Revan meyakinkan Chika.


Setelah mendengarnya tentu saja Chika senang. Dia pun mengusap air matanya lalu tersenyum tipis..." Terima kasih."


" Berapa kali kamu mengucap terima kasih? dasar gadis kecil..." Satu cubitan lembut di pipi kanannya.


" Ih....sakit." Rengek Chika, semakin membuat Revan jatuh cinta padanya.


" Aku lebih suka melihat senyum kamu ini di banding air mata kamu."


" Jangan gombal..." Chika menepis tangan Evan yang mana saat itu tengah membelai mesra rambutnya.


" Gombal itu makanan apa minuman sih?" Banyolan Revan mampu menggulingkan sakit di hati Chika sampai berganti senyum indah.


" Minuman dingin di kasih es batu tambah lemon...." Jawab Chika seraya mencubit lengan Revan.


" Enak dong...."


" Sudah ah, aku haus mau minum...."


Segera Revan bangkit meraih air mineral di meja sebelah ranjang.


" Terima kasih..." Ukiran senyum nan indah membuat semua mata terpana.

__ADS_1


Betapa lega hati Revan kala mendapat senyum darinya, seolah rasa takutnya tadi terganti bahagia. Sungguh tidak ada keindahan melebihi senyum seorang tercinta.


__ADS_2