
Mendapati perilaku Hansen yang seolah tidak perduli membuat Ibunda Hansen murka. Dia mendekati Chika dengan membawakan tatapan kejam....
" Kamu sudah berani menyalahgunakan kepercayaan saya. Sekarang juga saya pecat kamu. Pergi dari rumah ini dan jangan sekali pun menampakkan kepala di dalam rumah ini lagi." Ketus Farah(Ibunda Hansen).
Dengan sigap Hansen menghalangi pandangan Farah dengan berdiri di depan Chika, sengaja menyembunyikan Chika di balik badan untuk menambah rasa kesal di hatinya....
" Apa hak anda mengusir dia dari sini? rumah ini dan segala isinya adalah milik saya. Jadi jangan pernah mengatur semua barang saya." Hansen meraih tangan Chika, membawanya dalam pelukan. Di samping itu Vero melihat mereka dengan amarah membara, kedua tangannya mengepal, dia pun mendekati mereka.
" Mama berhak, karena dia ada disini atas ijin mama." Jawab Farah.
" Lalu?" Hansen semakin menggali amarah dalam diri ibundanya.
" Jadi Mama mau di pergi dari sini."
" Baiklah kalau begitu aku juga keluar..." Tanpa pikir panjang Hansen meraih tangan Chika, hendak melangkah keluar dari kamar tersebut.
" Kamu keterlaluan Hansen. Kita sudah lama di jodohkan bahkan kita sudah tunangan, tapi kamu mencampakkan aku sempai serendah ini...." Ucap Vero dengan mata berkaca kaca. Tangannya meraih lengan Hansen memohon sesuatu di kabulkan.
" Singkirkan tangan kotor kamu itu..." Segera Hansen menepis keras tangan gadis cantik nan seksi tersebut. Pandangan mata Hansen seolah jijik melihat Veronica sampai dia tak ingin bersentuhan dengannya.
__ADS_1
Jika di lihat dari sifat Hansen tentunya dia sangat doyan dengan gadis seperti Vero, tapi tidak sedikit pun Dia melihat Vero....
" Chika, sekarang kita pergi dari sini."
" Mau kemana kalian?" Tiba tiba Farah menghadang langkah mereka. Tatapan mata tajamnya tidak lepas dari wajah Chika yang saat ini tertunduk dan hanya bisa diam dalam rangkulan Suaminya.
" Sekarang waktunya telah tiba...." Bisik Hansen.
Chika bergetar ketika bersiap menghadapi kekejaman mereka lalu beralih peran menjadi seorang antagonis. Debar jantungnya seolah memanas sampai menjalar hingga ubun-ubun.
Meski ada rasa takut tapi dia sudah berjanji untuk melakoni peran itu, dia mencoba memejamkan mata sejenak lalu perlahan menatap wajah Farah.
" Jangan kotori tangan kamu biar aku saja.." Bisik Virgo lalu dengan tatapan yang sama menatap gadis cantik itu.
Plak....
Tamparan keras itu mengenai pipi kiri Chika. Sontak saja Chika merasa sakit dan panas pada pipinya sampai baru beberapa detik saja tanda merah sudah terlihat jelas.
" Kamu itu hanya pembantu kotor yang meracuni anak saya. Apakah kamu ingin bernasib sama seperti ibu kamu itu...." Tanpa sadar Virgo melontarkan kalimat yang membuat Chika murka. Karena selama ini Virgo sudah banyak menyiksa mereka terutama ibunya....
__ADS_1
Dahulu sewaktu Chika berusia delapan tahun, Dia pernah melihat Virgo berbuat bejat kepada ibunya dan berulang kali memperlakukan ibunya bagai seorang budak. Kerja setiap hari tanpa menerima upah, dan juga banyak siksaan fisik di tubuh ibunya.
" Tuan Virgo Hadinata....." Teriak Chika seraya menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk.
" Jangan sampai saya membongkar semua kebusukan anda di depan keluarga anda sendiri."
" Jaga mulut kamu, Chika." Kembali Virgo mengangkat tangan hendak menampar wajah Chika, namun Hansen menangkap tangan Ayahnya...
" Sekali lagi anda menyakiti dia maka jangan harap saya bisa memaafkan anda..." Ketus Hansen.
" Biar saja dia menamparku, karena dengan begitu aku semakin ingin mengungkap tentang keburukannya selama ini..." Ucap Chika seolah menantang maut yang ada di hadapannya.
Sontak saja semua orang menatap Chika yang hendak membuka sebuah rahasia.
Akan tetapi belum sempat Chika berucap, Hansen lebih dulu memeluk istrinya.
" Belum saatnya...." Bisik Hansen.
" Jelaskan kepada saya apa yang di lakukan suami saya?" Farah mencoba bertanya tapi dia di seret paksa oleh suaminya. Mereka keluar dari kamar Hansen. Suara keributan terdengan menggema di seluruh penjuru rumah.
__ADS_1