
Sesampainya di depan rumah, Chika segera meminta Revan pergi. Dia tidak ingin ada petaka terjadi. Di saat Revan sudah pergi diapun segera membuka gerbang, perasaan takut menghantui sampai seluruh badan bergetar hebat.
Perlahan Chika membuka pintu rumah, nampak hening, tapi ada hal aneh dalam rumah itu, lampu yang biasanya menyala sampai pagi terlihat gelap tanpa ada satu pun cahaya.
" Kenapa gelap sekali..." Ucap Chika seraya berjalan perlahan.
Dughhhh....
Chika menabrak sesuatu sampai dia terjatuh ke lantai. Sepertinya ia menabrak tiang atau tembok penghubung ruang tamu dan ruang keluarga, tapi dia juga tidak tau pasti karena keadaan ruangan gelap gulita.
" Aww...." Chika memekik kesakitan saat sebuah benda menginjak tangannya.
" Sakit...." satu tangan lainnya berusaha menggapai sesuatu yang menimpanya, namun kejanggalan mulai membuatnya semakin takut.
" Sakit ya....?" Sekejap saja lampu di nyalakan. Sosok Hansen ada di depan mata dengan kaki menginjak tangan Chika.
" Berani sekali kamu mengabaikan aku dan kamu malah pergi dengan lelaki lain. Sekarang kamu semakin liar saja ya" Dengan kasar Hansen membuat Chika berdiri tegak. Ada tiga pasang mata melihat mereka dengan tersenyum girang, Virgo, Farah, dan Veronica. Mereka bertiga sengaja membaka api dalam diri Hansen supaya hubungan mereka hancur.
__ADS_1
" Maaf....tadi saya tidak sengaja bertemu Revan di jalan." Jelas Chika menunduk kepala.
" Oh....nama lelaki itu Revan, berani sekali kamu menyebut nama lelaki lain di depan suami kamu sendiri." Hansen sangat murka sampai dia menjambak Chika.
" Hansen, sakit."
" Itu balasan untuk wanita ****** macam kamu." Ketus Farah yang berjalan mendekati mereka.
" Pasti mereka sudah melakukan hal itu..." Farah menunjuk baju Chika yang berantakan karena tadi Revan membawa motor dengan cepat seolah mereka habis melakukan sesuatu.
"Apa benar semua itu?" Bentak Hansen dengan tatapan mematikan.
Plak.....
Tamparan keras dari Hansen membuat badan Chika terbanting ke lantai.
" Kamu pergi dari sini, sekarang!" Dengan tega Hansen menyeret Chika keluar dari rumah. Dia tidak perduli dengan luka memar di pipi akibat tamparan tangannya.
__ADS_1
" Pergi dari sini dan jangan ada barang yang kamu bawa..." Hansen mendekatkan wajah kepada Chika yang menangis di tersungkur di depan pintu. " Semua barang kamu adalah pemberianku, jadi kamu tidak ada hak untuk membawanya. Dan pakaian kamu ini juga milikku, sekarang aku mau kamu lepas semua baju dan celana itu."
" Tolong jangan lakukan itu, saya janji tidak akan bertemu dengan lelaki lain lagi. Saya mohon ampuni saya." Chika meraih kedua kaki Hansen, memohon pengampunan. Akan tetapi Hansen sudah banyak di siram minyak sehingga sedikit saja percikan api dapat membakar dirinya.
" Lepas..." Ketus Hansen sembari mendorong tubuh Chika sampai kembali tersungkur di lantai. " Jika kamu tidak mau melepaskan pakaian itu biar aku yang bantu lepas..." Segera Hansen melucuti pakaian Chika tanpa perduli dengan air mata istrinya tersebut.
" Hansen benar benar mengerikan." Ucap Vero yang saat itu menyaksikan penghinaan seorang lelaki terhadap wanita.
" ****** seperti dia pantas mendapatkan hinaan." Jawab Farah seraya membalikkan badan suaminya, tak ingin mata Virgo melihat pemandangan indah seperti itu.
" Kamu masuk kamar jangan mengintip." Ucap Farah.
" Aduh cuma lihat apa salahnya..." Protes Virgo berusaha menoleh namun Farah mendorong Suaminya masuk ke dalam kamar.
Semua kekejaman Hansen masih berlanjut, sampai Chika hanya bisa meringkuk dengan hanya memakai pakaian dalam.
" Aku masih berbaik hati membiarkan kamu memakai pakaian dalam, jadi jangan anggap aku jahat." Tanpa belas asih Hansen meninggalkan Chika di teras rumah kemudian dia menutup pintu rapat rapat.
__ADS_1
" Sekarang tanggung sendiri akibatnya sudah membuatku marah." Hansen berjalan penuh amarah menuju kamarnya.
" Sepertinya dia benar benar marah besar..." Ucap Farah yang baru saja keluar dari kamar.