
Sesampainya di parkiran Chika mencari keberadaan mobil Hansen...
" Dia dimana ya..." Melihat puluhan mobil berbaris di parkiran, mencari satu mobil milik Tuannya.
Seorang anak kecil penjual koran menghampiri Chika dan memintanya mendekati sebuah mobil...
" Masuk..." Seorang lelaki memanggilnya dari kejauhan. Benar saja dia adalah Hansen.
" Kamu ikut aku..."
" Kemana?"
" Catatan sipil." Ucap Hansen segera melajukan kendaraan.
" Maksudnya apa?" Heran Chika.
Hansen tidak menjelaskan sedikit pun tujuannya, hanya sebuah senyuman terlukis di wajahnya.
Sesampainya mereka disana Hansen sudah mendaftarkan pernikahan mereka. Tentunya Chika tercengang mendapati kenyataan itu, tapi lagi-lagi Chika tidak bisa berbuat banyak. Dia merasa kehidupannya sudah tidak bisa di perjuangkan kembali. Dia pun memilih mengikuti semua aturan Hansen, meski dia sendiri sangat senang bisa menjelma menjadi istri dari seorang Hansen, berharap Hansen akan menyadari cintanya lalu mereka bisa hidup bahagia.
" Mulai sekarang kamu adalah istriku dan lakukan tugas barumu, sayang." Di depan semua saksi Hansen mencium kening Chika.
Senyum Hansen nampak menyimpan beberapa teka-teki. Dapat di simpulkan bahwa Hansen memiliki sesuatu di balik pernikahan ini.
Apakah ini nyata ataukah hanya sebuah mimpi....
Chika mencubit tangannya sendiri sebelum mereka keluar dari catatan sipil tersebut.
__ADS_1
Melihat wanitanya tersenyum malu, pastinya Hansen merasa berhasil...
Dengan begitu dia tidak akan lepas dariku, bahkan tidak bisa di miliki lelaki lain, toh ini hanya pernikahan di atas kertas...
Setelah sesaat saling bertatap muka, Hansen menyentuh pundak Chika mendekatkan wajah...
" Tapi pernikahan ini hanya berlaku di rumah tidak di luar, jangan mencoba mengusik masalah pribadiku." Bisik Hansen.
" Saya mengerti." Rasa bahagia yang baru saja di dapat terganti menjadi sebuah petaka dalam kehidupannya.
Mereka pun kembali pulang dengan status baru. Hansen merasa tenang atas pernikahan ini karena dengan cara ini dia bisa mengikat Chika seumur hidup tanpa takut kehilangan.
" Sekarang kamu bisa tinggal di kamar ku..." Ucap Hansen sembari menghempaskan tubuh di sofa ruang tamu.
Sedikit bersantai dengan kepala bersandar bahu sofa, Hansen memikirkan kedatangan orang tuanya besok.
Chika yang tengah melepas sepatu Hansen...
" Iya."
" Besok para orang tua itu datang, kamu harus membantuku keluar dari perjodohan karena status kamu sekarang adalah istri sah Hansen Abraham. Rubah sifat lemah kamu saat berhadapan dengan para orang tua menyebalkan itu, lakukan tugasmu sebagai Nyonya Abraham. Ku ijinkan kamu melakukan hal yang bisa membuat mereka pergi dari tempatku." Hansen membawa tubuh Chika dalam pangkuannya.
Jantung berdegup kencang mendapatkan perlakuan semacam itu, sebab tidak sekali pun Hansen memperlakukan dia sebaik saat ini. Bagi seorang sehat mental pasti mereka mengira itu sebuah cinta, nyatanya kelembutan Hansen bisa berubah kapan pun dia mau...
" Perjodohan?" Lirihnya dalam pangkuan seorang lelaki yang baru saja menikahinya.
" Selama kamu memainkan peran ini dengan baik, jaminan kelembutan pasti kamu dapatkan." Hasrat dalam diri Hansen mulai memeluknya kembali lalu perlahan melakukan pergerakan di bagian tubuh tertentu.
__ADS_1
Astaga, dia bisa membunuhku dengan nafsunya....
" Jangan..." Mengentikan pergerakan tangan dengan berusaha lepas dari pangkuan suaminya. " Saya tidak mampu menerimanya. Tubuh saya terlalu lemah." Ucap Chika tertunduk. Sungguh hal menyakitkan apabila dia mengikuti Hasrat bercintanya, sebab dia belum begitu pulih dari kebrutalan diri Hansen beberapa jam lalu.
" Sekarang tidak ada batasnya untuk aku menyentuh kamu, karena semuanya sudah menjadi milikku." Ucap Hansen, segera memapah tubuh mungil Chika menuju kamar pribadinya yang saat ini menjadi kamar Chika.
" Saya mohon tidak untuk hari ini..." Berusaha memohon tapi tidak sedikit pun Hansen menghiraukan ucapan Chika. Bukannya mundur rapi di semakin tertarik.
" Siapa kamu berhak menolak?" Dengan kasar Hansen melempar tubuh Chika.
Kembali dalam kesakitan menerima perlakuan kasar untuk sekian kali, namun Chika tidak bisa menolak karena saat ini dirinya telah menjadi hak milik lelaki berkelakuan kasar itu.
" Menurutlah jangan sampai amarah ku menyakiti tubuh mungil ini..." Lidah menyapu samping bawah telinga, menjalar hingga seluruh tubuh.
" Pelan sedikit..." Pekik Chika menahan sakit teramat.
Setalah Hasrat dalam dirinya tersalur, Hansen memeluk tubuh Chika yang menggigil kesakitan, meringkuk melingkarkan tangan di atas perut. " Istirahatlah, nanti malam kita makan di luar." Ucap Hansen sembari mengusap kepala istrinya.
" Baik." Memaksakan senyum.
Merasa lega melihat wanitanya sudah dalam genggaman, tanpa takut siapa pun merebut miliknya. Entah cinta atau hanya sekedar Opsesi intinya Hansen tidak akan membiarkan mainannya di miliki orang lain.
Dalam dekapan suaminya Chika meneteskan air mata...
Sampai kapan aku menerima perlakuan bagai hewan seperti ini, hatiku sakit tiap kali dia menyentuh butuhku...
Sampai kapan kamu terus menjadikan aku seolah aku ini budak nafsumu, kapan saatnya kamu melihat cinta ku...
__ADS_1