
Beberapa hari kemudian. Chika dan Revan hendak berangkat ke kota tujuan mereka untuk menghindari Gansen. Mereka berangkat dari kediaman Revan menuju bandara sekitar pukul enam pagi. Sepanjang perjalanan Chika menatap keluar jendela mobil "Selamat tinggal tanah kelahiran ku..." Lirihnya sembari melihat sekeliling.
Revan tau jika hati Chika masih enggan meninggalkan kota tersebut. Tapi, Revan hanya mengikuti permintaan Chika untuk pergi dari kota ini demi melindungi dirinya.
" Tuan Muda...di depan ada mobil menghadang jalan kita." Ucap seorang supir.
" Siapa sih?" Revan pun keluar dari mobilnya.
Tok tok...
Di ketuk kaca mobil yang menghadang jalannya. " Maaf Tuan. Mobil anda menghalangi mobil saya..." Ucap Revan dengan membungkuk mencoba melihat sosok yang ada dalam mobil.
Tak lama setelah itu seorang turun dari mobil belakang....
Betapa terkejutnya Revan saat tau seorang itu adalah Hansen, lelaki yang di kenal sebagai majikan Chika.
__ADS_1
" Kalian urus dia..." Ucap Hansen pada seorang di telepon. Lalu dengan cepat Revan di kepung beberapa orang bertubuh tinggi kekar.
" Jangan sakiti dia..." Turunlah Chika dari mobil, menghampiri mereka.
" Chika, sayang. Maafkan aku..." Hansen hendak menghampirinya, tapi Chika berjalan cepat tanpa perduli dengan Hansen.
" Chika..." Karena merasa di acuhkan, Hansen menarik tangan Chika dengan sangat kasar.
" Kamu dengar aku tidak?" Bentak Hansen.
" Hey....jangan sakiti dia. Kalau kamu laki laki hadapi aku." Teriak Revan seraya berusaha melepaskan diri dari banyaknya anak buah Hansen.
" Istri?" Revan tidak menyangka bahwa status Chika adalah istri sari Hansen. Seketika itu Revan menatap dalam mata Chika.
" Kamu ikut aku." Dengan kasar pula Hansen membawa Chika masuk ke dalam mobil.
" Kamu mau bawa dia kemana? Chika jangan mau ikut dengan dia... " Ingin sekali lepas dari tangan para anak buah Hansen. Tapi dia tidak mampu melarikan diri dari puluhan orang tersebut.
__ADS_1
Dari kejauhan Chika memberi kode tangan, bertujuan memohon maaf atas semua kejadian itu.
" Tolong lepaskan dia...." Ucap Chika tanpa ingin memandang wajah suaminya.
" Kenapa aku harus menuruti semua perkataan mu?" Merasa di abaikan, Hansen pun menghentikan mobil mendadak.
" Kamu perduli dengannya? siapa dia? apa hubungan kalian?" Lagi lagi Hansen tidak mampu mengontrol amarahnya, sampai tangan kekar itu mencengkeram erat pergelangan tangan Chika dengan memandang mata penuh amarah.
" Dia yang menolong ku malam itu. Jika dia tidak ada, aku pastikan kamu tidak akan melihatku lagi di dunia ini." Jelas Chika membuang muka. Rasa sakit itu kembali menusuk hatinya....
" Kalau saja dia tidak menyelamatkan aku dari para lelaki itu, pasti aku sudah bunuh diri atas kotornya diri ini."
" Cukup! sudah cukup kamu menyebut nama dia di depan ku." Geram mendengar wanitanya mengagungkan lelaki lain, tanpa perduli dengan hatinya saat ini.
Chika terdiam dengan menunduk kepala, tak ingin berdebat lebih dengannya. Karena saat ini dia muak berhadapan dengan Ego Suaminya itu.
" Tatap aku..." Hansen memaksa Chika menatap matanya.
__ADS_1
" Maafkan semua kesalahan ku malam itu. Aku pikir dengan membuat mu seperti itu kamu mau memohon padaku. Tapi, kamu malah pergi. Dan taukah kamu? seminggu lamanya aku mencari kamu seperti orang gila sampai aku menyewa mata mata untuk mencari keberadaan kamu. Mohon maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi...." Ucap Hansen berusaha meyakinkan Chika.
" Saya sudah melupakan semuanya." Melepas tangan lalu beralih pandang pada jendela mobil. " Mari kita berpisah."