
Revan berlari kecil dan segera meraih tangan Chika, membawanya pergi dari tempat tersebut. Sebab Revan melihat Hansen berjalan menuju ke arah Chika.
" Hey...ada apa?" Tanya Chika.
Revan menghentikan langkah kakinya sembari melihat belakang....
" Sepertinya sudah aman..." Lirihnya dengan mengusap dada.
Chika semakin penasaran...
" Aman? memangnya ada apa?"
Revan menatap mata Chika " Dia ada di sini."
" Dia?"
" Majikan kamu."
Ucapan Revan membuatnya terkejut sampai badannya seolah kaku tak bisa bergerak dari tempatnya. Untuk menyebut namanya saja Chika sudah sangat takut apa lagi harus berhadapan langsung.....
__ADS_1
" Bawa aku pergi dari sini..." Segera Chika menggandeng tangan Revan.
Revan masih belum tau masalah antara mereka. Tapi Revan yakin hal menyakitkan telah terjadi. " Kita lewat samping..." Ucap Revan dengan menarik Chika masuk pintu rahasia. Revan tau seluk beluk di Rumah Sakit itu karena dulunya dia punya seorang teman yang bekerja di sana. Jadi dia bisa tau semua jalan keluar dari Rumah Sakit tersebut.
Setelah berhasil keluar dari Rumah Sakit, Revan terus menggandeng tangan Chika...
" Dimana dia?" Mencari keberadaan seseorang.
" Siapa?"
" Tidak ada. Kita duduk di sana yuk..." Ajak Revan menuju sudut parkiran yang mana tidak akan mungkin seorang kaya seperti Hansen memarkirkan mobil di sana.
Sontak saja Revan terkejut, tak menyangka seorang lelaki menghina seorang wanita sampai serendah itu. Bahkan dengan membiarkan Chika keluar berlarian di olok puluhan warga dengan hanya melingkarkan handuk di badan.
Sungguh keji lelaki itu, sampai Revan bertekat untuk membalas penghinaan itu.
" Kalau benar begitu kenapa kamu tidak lapor polisi? ini sudah melanggar hukum negara kita," Ucap Revan dengan amarahnya.
" Jangan! Aku tidak ingin terlibat masalah lebih dengannya." Rasa takut atas kekejaman Hansen membuat Chika enggan melibatkan siapa pun termasuk keamanan setempat.
__ADS_1
" Chika, dia harus di hukum...." Belum sempat Revan berucap jari telunjuk Chika membungkam mulutnya.
Di saat seperti itu jantung Revan berdebar dengan kencang, pandangan mata yang tadinya marah kian melemah.
" Kalau kamu keberatan membantu ku, maka aku bisa meminta tolong pada yang lain." Ucap Chika seolah mengancam Revan, memaksanya menutup pembicaraan tentang diri Hansen.
" Aku tidak keberatan sama sekali. Hanya saja orang jahat seperti dia layak di hukum." Ketus Revan sembari mengeratkan rahang seolah ingin segera menghabisi iblis kejam seperti Hansen.
" Aku sudah tidak mau berurusan dengan dia lagi. Ku mohon...." Dengan mata berkaca kaca Chika memohon pada Revan.
" Baiklah kalau begitu, sekarang kita pergi dari sini. Aku ada tempat untuk kamu tinggal." Segera Revan meraih lengan Chika membantunya berdiri, kemudian mereka pergi dari sana.
Revan sudah meminta Bryan menjemput mereka namun di tengah jalan ban mobilnya bocor, jadi dia tidak bisa menjemput mereka, dan terpaksa Raka memesan taksi online.
Setelah taksi online sampai, mereka segera menuju tempat yang telah Revan janjikan.
Perjalan lumayan jauh dari tempat mereka semula, perjalan menuju tempat itu memakan hampir dua jam perjalanan, setalah sampai tempat tujuan Revan mengajak Chika masuk ke dalam rumah lamanya yang telah lama tidak di huni. Sebab Revan tidak nyaman berada di rumah sebesar itu sendirian. Jadi, dia memilih tinggal bersama Bryan.
" Yuk masuk..." Uluran tangan Revan mengajak Chika masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
" Tuan Muda kembali." Ucap salah seorang lelaki yang membuka pintu. Dia adalah pak Dono, kepercayaan keluarga mereka.