
Setelah berhasil melepas sabuk pengaman, Hansen melihat Chika berdiri menengadah wajah seperti itu, dengan cepat Hansen mengambil payung lalu keluar....
Dia melihat raut bahagia sang istri hingga tanpa sadar bibirnya pun ikut tersenyum.
Baru kali ini aku melihatmu bahagia...
Segera Hansen mendekati Chika dan memberi dia tempat berlindung.
" Nanti kamu bisa sakit..." Wajah yang tadinya di sengaja menengadah air hujan, kini terhalang oleh payung Hansen, sehingga Chika menurunkan wajahnya menatap mata suaminya.
Banyak hal yang ingin dia tau dari sisi lain seorang Hansen. Tapi semua itu tidak mudah, ego Hansen terkadang membuatnya benci dan kelembutan Hansen kadang pula membuat Chika yakin untuk perubahan.
Setiap manusia di ciptakan sama, hanya saja karakter merekalah yang membedakan. Bahkan dalam sebuah ikatan saudara, mereka terhalang dengan sebuah karakter dari masing-masing orang. Ibarat buah jambu yang tumbuh di batang yang sama, berbuah dari bunga yang sama, tapi proses pematangannya mereka berbeda.
Kenapa?
__ADS_1
Karena di setiap buah memiliki proses bertumbuh berbeda. Begitu pula dengan kehidupan manusia, meski mereka terlahir dari rahim yang sama, di bumi yang sama, dan dari benih yang sama, tapi karakter dan proses yang membedakan mereka.
Pola pikir dari satu orang tidak akan menyamakan dengan pemikiran yang lainnya.
Tuhan menciptakan manusia dengan wajah, pikiran, dan bentuk fisik yang berbeda supaya mereka mencari arti hidup mereka sendiri.
Karakter tidak bisa di rubah oleh siapa pun kecuali Takdir. Bahkan diri mereka sendiri kesulitan merubah kelemahan itu menjadi sebuah kelebihan.
" Aku masih ingin di sini. Kalau kamu tidak suka kembalilah...." Ucapnya dengan mendorong Hansen sampai payung itu jatuh dan membuah badan Hansen basah kuyup. Melihat suaminya berusaha meraih payung yang terbawa angin, Chika kembali menengadah wajah dengan memejamkan mata.
" Biarlah hari ini aku mengadu kepada hujan. Rasa sakit ku sudah melebihi batas sampai diri tidak mampu menyangganya. Kamu tidak perlu perdulikan aku, karena aku hanyalah pilar bagimu yang siap menopang kapan pun kamu mau dan siap menjaga kamu dari apa pun...." Seketika saja Hansen membekap mulut Chika dengan saling menatap.
" Kamu adalah istriku, sekarang, nanti, dan selamanya. Tidak ada kata pilar lagi dalam hubungan ini. Aku sungguh ingin hidup layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Bari aku kesempatan..." Mata Hansen nampak melemah saat Chika tidak merespon ucapannya.
Setalah merasa tenang, Hansen melepas tangannya dari mulut Chika lalu menggapai kedua tangannya....
" Kita mulai dari awal, ya?" Lagi lagi Hansen menundukkan kepala di depan seorang wanita.
__ADS_1
" Maaf, aku tidak ingin membahas ini lagi." Cetus Chika dengan melempar pandang. Dalam derasnya hujan, mereka melibatkan perasaan dalam diri mereka sampai para rintik air ikut mengusap air mata di antara mereka berdua.
Saat Chika hendak pergi, tiba tiba Hansen meraih tangannya kembali...
" Sudahlah, jika kamu tidak ingin melihatku menolak maka perbaiki semua sikap kamu itu dan berhenti menyakiti orang di sekitar mu." Ucap Chika.
Duarrrrr.....
Suara petir menggelegar sampai tanpa sadar Chika memeluk Hansen dengan erat.
" Sekarang kita masuk mobil. Tidak aman di luar saat hujan lebat seperti ini..." Dengan masih memeluk istrinya, Hansen membawanya masuk ke dalam mobil.
" Sekarang kita pulang..."
Terlihat wajah pucat Chika dan badan menggigil kedinginan. Saat ini kedua tangannya menutup dua telinganya supaya tidak terdengar suara dentuman petir.
Melihat Chika ketakutan, Hansen pun segera melajukan kendaraan menuju rumah mereka.
__ADS_1