Dunia Gelap Chika

Dunia Gelap Chika
Episode 14


__ADS_3

Kini tinggal mereka bertiga yang ada di dalam kamar itu, dengan kasar Hansen melempar Vero keluar.


" Jangan pernah bermimpi menjadi wanitaku!" Ketus Hansen sebelum dia menutup rapat pintu kamar.


" Kamu jahat, Hansen. Lihat saja apa yang bisa aku perbuat..." Teriak Vero dari luar.


" Dia pikir aku takut..." Lirihnya sembari menghempaskan tubuh di atas ranjang.


" Mas...."


" Hem..."Jawab Hansen sembari melihat Chika duduk di tepi ranjang tengah menatap ke bawah. Mata indahnya bercerita tentang rasa sakit yang selama ini terpendam.


" Jangan pikirkan masalah yang bersangkutan dengan mereka. Lebih baik kamu temani aku tidur..." Tangan kekar Hansen menelisik di sela sela lengan Chika, memeluk erat pinggang rampingnya.


" Sekarang pijat kepala ku. Kepala ku pusing sekali...." Beralih posisi membaringkan kepala di atas paha Chika. Dia menutup mata bersiap mendapatkan pijatan lembut yang membuatnya nyaman.


Tangan lembut Chika mulai memijat pelan dengan sesekali memberi sentuhan di lembut seolah tengah mengusap kepala Hansen.

__ADS_1


" Kamu harus melakukan semua peran itu sampai mereka keluar dari rumah ini. Kamu juga jangan lemah, kuat dikit dong..." Cubitan kecil di lengan Chika.


" Bagaimana aku bisa kuat sedangkan mereka melukai hati saya sampai sedalam itu. Jika tidak menyangkut kehormatan orang tua, maka saya pastikan tidak akan goyah seperti ini...." Air mata Chika mengalir deras hingga berjatuhan menyentuh wajah Hansen.


Seorang lelaki paling tidak suka dengan yang namanya air mata, Hansen pun segera terduduk membelakangi Chika lalu mengeratkan rahang...


" Aku paling benci air mata, sekarang kamu mandi dulu bersihkan semua air mata itu." Titahnya sembari beranjak dari ranjang menuju pintu kamar yang menghadap luar.


Kenapa dia harus menangis, membuat ku kesal saja....


" Hari ini dunia nampak rapuh...." Melenguh mengadu di bawah terik siang itu, Mencoba menengadahkan kepala ke atas sampai sinarnya menyentuh wajah.


Hampir beberapa detik Hansen berdiri mendongak ke atas, padahal siang itu sangat terik. Tapi di saat ini Hansen tengah bersandar pada dunia. Baginya alam adalah keluarga, matahari adalah Ibu, angin sebagai Ayah, air sebagai saudara. Mereka yang tidak akan pernah meninggalkan Hansen dalam kondisi apa pun, meski terkadang matahari redup terbungkus awan hitam, tapi kepergiannya mendatangkan hujan lalu mendatangkan pelangi.


" Perasaan apa ini...." Pertama kali Hansen merasa gelisah atas air mata Chika.


Entah apa yang di pikirkan sampai dirinya mengadu pada alam semesta....

__ADS_1


Jangan sampai kebaikan ini membuat ku lemah...


Setelah hampir satu jam berdiri di bawah terik dia pun kembali ke dalam kamar. Di lihatnya Chika duduk bersandar pada bahu ranjang dan masih memakai handuk di kepala.


" Masih memikirkan tentang tadi?" Tanya Hansen yang duduk di kursi depan meja rias.


" Mas, bolehkah saya pergi ke makam ibu?"


Hansen beralih pandang ke arah Chika, menatap kegalauan di matanya. Meski Hansen tau semua itu sangat menyakitkan tapi dia ada masih ingin melihat seberapa dalam kebencian Chika pada Ayahnya.


" Ya, tapi aku juga ikut." Segera Hansen mendekati Chika dan meraih tangannya, membawa dalam pelukan.


Sesaat sifat Hansen melunak, terkadang pula kasarnya melebihi batas. Asalkan Chika patuh dan membuatnya senang maka dia akan bersikap lembut.


Setelah Chika ada dalam pelukan Suaminya kehangatan pun di dapat, rasanya bagai mimpi...


Sosok seperti itulah yang Chika ingin dari Hansen.

__ADS_1


__ADS_2