Dunia Gelap Chika

Dunia Gelap Chika
Episode 36


__ADS_3

Setalah beberapa menit kemudian Chika bergegas menuju kantor suaminya, di antar supir pribadinya yang sengaja Hansen tugaskan khusus untuk mengantarnya kemana pun dia pergi. Sepanjang jalan hati Chika resah. Bayangan luka dan derita kembali teringan sampai berkali-kali Chika mengetuk pelan kepalanya.


" Ada apa, Nyonya?" Tanya pak supir.


" Tidak apa-apa, Pak. Bapak fokus sama jalan saja..." Ucapnya dengan melempar pandang. Dia baru sadar bahwa ulahnya di awasi oleh supir bayaran Suaminya.


Tak lama kemudian sampailah mereka di depan kantor Hansen....


" Bapak tunggu di sini sebentar, ya..." Segera Chika turun dari mobil membawa bekal makanan untuk suaminya. Ketika dia baru masuk beberapa langkah tiba-tiba ada seorang wanita menghampirinya...


" Maaf, anda sedang apa di sini? jika anda hanya ingin menawarkan dagangan anda, mohon maaf anda bisa keluar sekarang juga..." Wanita tadi membawa Chika keluar tanpa mendengar kejelasan darinya. Meski begitu Chika hanya diam lalu kembali ke dalam mobil.


" Nyonya, kenapa anda membawa makanan itu kembali?" Pak supir yang tadinya sudah mengirim pesan kepada Hansen, sontak terkejut melihat Chika kembali dengan wajah muram.


" Kantor ini menolak saya. Jadi, segera bawa saya menjauh dari sini." Kesal Chika.


Sebelum Supir itu melakukan perintah Chika, dia lebih dulu menghubungi Hansen supaya Hansen bisa mendengar langsung ucapan Chika.


" Nyonya, mohon maaf saya ijin ke toilet sebentar, boleh? perut saya rasanya mules sekali..."


Chika melihat wajah lelaki paruh baya itu yang meringis kesakitan dengan memegangi perut...


" Baiklah. Tapi, jangan lama-lama ya pak....."

__ADS_1


Pak supir segera keluar dari mobil menuju samping kantor yang terdapat kamar mandi umum bagi pekerja atau pun pengunjung. Setalah merasa aman barulah dia menghubungi Bosnya dan ternyata Hansen sedang berjalan menuju arah Chika saat ini.


" Chika...." Perlahan Hansen mengetuk kaca mobil. Tentu saja Chika terkejut melihat sosok suaminya tersebut.


" Buka pintunya..." Saat Chika membuka pintu Hansen segera masuk ke dalam mobil.


" Ada apa? siapa yang berani mengusir mu dari kantor ku?" Hansen menggenggam erat tangan istrinya.


" Tidak ada." Segera Chika menarik tangannya kemudian membuang muka.


" Kamu ikut aku..." Hansen membawa paksa Chika masuk ke dalam kantornya.


" Semuanya kumpul sekarang juga..." Teriak Hansen dari kejauhan. Lantangnya ucapan Hansen membuat para pegawai segera berlari menuju arahnya.


" Siapa yang berani mengusir istri saya?" Lantang Hansen dengan melihat wajah semua orang yang ada di sana. Kebetulan wanita yang tadi mengusir Chika sedang pergi ke kamar mandi. Jadi, dia tidak tau bahwa dirinya dalam bahaya besar.


" Kenapa kalian semua diam? sekali lagi saya tanya sama kalian semua, siapa yang mengusir istri saya?" Tatapan mematikan Hansen membuat semua wajah tertunduk. Mereka tau jika sedikit saja mereka salah berucap pasti akan menjadi ancaman besar bagi mereka semua.


" Sudahlah, mas. Mereka tidak salah. Mungkin karena aku tidak pantas di pandang sebagai istrimu." Chika melepas genggaman tangan Hansen. Namun Hansen segera meraihnya kembali.


" Jika kalian tidak mengakui siapa orangnya saya pastikan bulan bonus di tahan, dan jangan harap juga bulan ini kalian bisa istirahat dengan tenang."


Para tenaga kerja saling berpandangan satu dengan yang lain.

__ADS_1


Setalah mendengar suara gaduh keluarlah wanita yang tadinya mengusir Chika...


" Ada apa ini?" Dengan tergesa-gesa wanita itu berlari menuju kumpulan para pegawai.


" Dia orangnya, Tuan." Salah satu antara mereka menunjuk wanita yang baru saja datang. Sontak saja wanita itu mematung ketika melihat wanita yang di usianya ada dalam dekapan bos.


" Jadi dia?" Segera Hansen mendekati wanita itu seraya membawa Chika. " Apa kamu buta? wanita yang baru kamu usir adalah istri saya. Sekarang juga kamu imut saya ke ruangan." Ketus Hansen dengan melangkah menuju ruang kerjanya dengan di ikuti istri dan wanita tersebut.


" Sayang, duduklah." Hansen menarik kursi miliknya, menginginkan sang istri duduk di tempatnya.


" Tapi mas..." Belum sempat Chika berucap, Hansen lebih dulu membungkam mulutnya menggunakan jari telunjuk...


" Sekarang biarkan wanita ini tau posisi kamu di kantor ini sebagai siapa?" Hansen menatap kejam wanita yang masih berdiri di depan meja kerjanya.


" Maaf, Tuan. Saya tidak tau jika Nona ini adalah istri anda." Jelasnya dengan nada gemetar.


Hansen berdiri di samping istrinya seraya memandang wajah istrinya...


" Karena kesalahan kamu membuat istri cantik saya muram. Jadi, kamu harus keluar dari kantor ini..."


Chika menatap mata Hansen dengan menggeleng kepala...


" Mas, jangan ambil keputusan seperti ini. Semua hanya salah paham dan aku sudah memaafkan dia." Chika berusaha menahan Suaminya untuk tidak memberhentikan karyawan itu.

__ADS_1


" Keputusanku sudah bulat. Sekarang juga kamu keluar dari ruangan saya dan segera angkat kaki dari kantor ini. Lain kali tidak akan ada kata ampun bagi kalian yang tidak menghormati istri saya." Segera Hansen mendorong wanita itu keluar dari ruangannya.


__ADS_2