
Betapa terpukulnya Hansen saat ini. Sebagai seorang suami, ia merasa gagal menjadi pelindung untuk keluarga. Ucapan Chika membuatnya tersadar akan kesalahan yang telah di perbuat. Perbuatan buruknya membelenggu di hati istrinya sampai cinta perlahan memudar. Kerap kali Chika berdoa untuk kesadaran Hansen tapi, tidak ada hal yang berubah darinya.
Tatapan mata Hansen tertuju pada mata Chika yang mana tatapan kebencian terpancar....
" Iya, kamu benar, Aku adalah orang bodoh. Tapi, seorang jahat seperti ku butuh waktu dalam menjalani perbaikan. Apakah kamu mau menerima perbaikan ku selama itu? apakah kamu percaya padaku?" Perlahan Hansen mendekati Chika, sedangkan langkah kaki Hansen semakin mendorongnya masuk dalam kamar. Mereka masih saling menatap, sampai akhirnya diri mereka sepenuhnya masuk.
" Jika kamu percaya padaku, maka dengarkan semua penjelasan ku." Langkah kaki terhenti saat Chika terbentur oleh kasur di belakangnya.
" Semua sudah jelas. Kamu telah banyak menyiksa orang lain dan kamu tidak pernah belajar arti kehidupan. Mungkin bagi mu hidup itu adalah bagaimana mendapatkan uang. Tapi, bagi orang seperti kami yang sering kamu rendahkan dengan uang, kami merasa sangat membenci mu sampai perbaikan sekecil ada pun dalam dirimu masih belum cukup meyakinkan kami."
Hansen mengepalkan kedua tangannya lalu kembali melangkah maju sampai tidak ada jarak antara tubuh mereka berdua.
__ADS_1
" Jadi, kamu mau aku berbuat seperti apa lagi? perbaikan belum tentu di terima, apakah kamu menunggu ku muak dan kembali pada sifat lamaku?" Setalah berapa saat saling menatap, tubuh Chika tumbang dan tentunya Hansen menindihnya.
Jantung Chika berdetak kencang melihat pandangan aneh dari mata suaminya. Sekilas ada bayangan kesedihan. Namun Chika sudah lelah menerima setiap kata maaf darinya. Selama bertahun lamanya hidup bersama, tidak ada satu pun kelembutan dari sosok Hansen. Setiap hari menerima perlakuan buruk, di lecehkan, serta di hina sesuka hati. Sekian lamanya diam dengan perasaan takut, sekarang Chika muak dan memberontak.
" Aku sangat mencintai kamu. Tapi, kenapa kamu tidak melihat rasa ini?" Sadar bahwa Hasrat dalam diri telah mengendalikan dirinya, Hansen segera bangkit, membelakangi Chika lalu beranjak pergi.
" Aku pergi kerja dulu. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan." Tak berapa lama Hansen pergi.
Chika masih tergeletak di atas kasur. Ia merasa sangat bersalah, karena ia tau suaminya berusaha keras sembunyi dari Hasratnya.
" Mungkin sudah saatnya aku memaafkan dia. Lebih baik aku masak dan membawanya ke kantor." Segera Chika mengusap air mata lalu bangkit menuju dapur.
__ADS_1
Chika meminta para asisten untuk keluar dari dapur, karena ia hanya ingin masak khusus untuk suaminya tanpa ada bantuan dari yang lain. Setelah hampir satu jam lamanya, Chika berhasil membuat makanan kesukaan suaminya....
" Pasti dia belum sempat sarapan..." Senyum terlukis di wajah cantiknya.
" Kamu lihat tidak, Nyonya tersenyum setelah sekian lamanya diam?" Bisik salah satu asisten Rumah Tangga.
" Iya. Apakah mereka sudah tidak marahan lagi?" sambung yang lainnya.
Di saat mereka berdua mengintip Majikannya, datanglah Ratih dari belakang menyeret baju mereka...
" Jangan suka mengintip. Nanti mata kalian bisa bintitan."
__ADS_1
" Hehe....kami cuma melihat sedikit saja." Mereka menyeringai melihat wajah marah Ratih.
" Lain kali sedikit apa pun jangan ikut campur urusan mereka. Paham?!"