
Hansen menyunggingkan senyum melihat wanitanya berbuat sesuatu yang menantang, tentu saja dia merasa senang. Bola mata Hansen tidak lepas dari pemandangan indah itu, lemah gemulai Chika mampu membangkitkan Hasrat dalam dirinya. Tanpa tunggu lama mereka melakukan sebuah keindahan. Sorot mentari masuk menyelinap di balik sela sela fentilasi ruangan, cahayanya seolah malu melihat mereka dalam sebuah romansa.
" Sekarang kamu mulai berani, sayang." Bisik Hansen di sela sela keindahan.
Betapa malunya Chika kala itu, tidak di sangka dia melakukan hal gila hanya demi seorang Hansen, lelaki yang telah mengurung hidupnya seumur hidup.
" Berikan aku sesuatu yang berbeda..." Hansen mulai meminta lebih dari apa yang Chika beri.
Dengan lincah Chika menuruti permintaan Hansen. Dia pun mampu mengembalikan mood suaminya meski harus menggunakan aksi nekat. Hansen pun meladeni godaan dari istri kecilnya tersebut. Dengan ganas Hansen kembali membuat Chika menahan sakit pada seluruh badan, namun hanya ini satu satunya cara untuk membuat suaminya kembali tersenyum.
Sering kali Chika merasa muak atas kehidupan yang kini di jalani, tapi dia tidak bisa berbuat banyak seolah dunianya adalah milik Hansen. Dunia telah mengantarkan Takdirnya bersama lelaki kejam macam Hansen. Meski demikian Chika masih menaruh harap tuk kesadaran Hansen suatu hari nanti, bahkan dia berharap sifat Hansen berubah menjadi seorang lelaki yang baik dan lembut.
Impian bagi banyak wanita adalah memiliki lelaki yang baik dan lembut, namun dunia ini tidak di ciptakan hanya untuk manusia alim saja melainkan juga para pendosa. Jika saat ini mereka(Pendosa) belum mampu masuk dalam kategori alim, akan ada masanya Tuhan membalikkan hati mereka.
Tidak banyak para pendosa merasa kesal dengan hidupnya sendiri, tapi di saat mereka ingin merubah apakah semua orang bisa percaya lalu menerima mereka sebagai seorang Alim?
Tentunya tidak. Banyak mata menganggap perubahan mereka hanya berpura, tanpa mereka tau betapa sulitnya merubah diri. Bagi mereka yang tidak mampu berdiri kokoh tentunya mereka roboh.
__ADS_1
" Mas, sudah cukup, saya mohon ampun..." Setelah sekian lamanya Chika meminta Hansen menyudahi aksi mereka di atas ranjang.
" Aku suka cara kamu kali ini..." Bisik Hansen dengan membaringkan diri di sisi istrinya.
Chika melihat ada senyum berbeda dari suaminya, senyum kehangatan yang begitu indah. Benar, baru kali ini Chika melihatnya seperti itu, hingga kerap kali Hansen berbisik mesra saat mereka beradu menjadi satu dalam gejolak Hasrat.
" Mas, aku ingin membersihkan diri." Ucap Chika dengan menatap mata suaminya.
Hansen mengangguk lalu memberi usapan lembut di kepalanya.
" Apa kamu butuh bantuan?" Kembali Hansen meraih lengan Chika lalu membawa paksa menuju kamar mandi.
Sehari bisa melakukan itu berulang kali...
Monster kejam.
Chika terus menggerutu kesal karena Hansen bisa membuatnya lumpuh dengan keganasan Nafsunya....
__ADS_1
Di dalam kamar mandi lagi-lagi Hansen membuat Chika kewalahan, Hasrat dalam dirinya kembali bangkit lalu menghantam diri Chika.
" Ini baru istriku." Ucap Hansen dengan memapah tubuh Chika keluar dari kamar mandi.
Entah sadar atau tidak mereka lupa untuk menjemput keluarga Hansen. Dengan sengaja pintu kamar di buka oleh seseorang, di saat itu pula Hansen tengah bercumbu mesra dengan istrinya.
" ******...." Teriak seorang wanita cantik berbadan tinggi, tubuhnya sangat indah bagai artis papan atas. Amarah di matanya terpancar jelas sampai menancap di dalam hati.
" Berani sekali kamu naik ke ranjang tunangan ku..." Dengan kasar wanita itu menyeret Chika dari dekapan Hansen.
Plak....
" Wanita murahan seperti kamu hanya pantas bersama lelaki jalanan." Ketus Veronica.
" Ada apa ini?" Datang lagi dua orang, mereka adalah kedua orang tua Hansen.
" Mama lihat wanita ****** ini, dia berani naik ranjang Hansen."
__ADS_1
" Oh...jadi kamu mulai berani menggoda anak saya, dasar tidak tau malu." Ketika ibunda Hansen hendak melayangkan satu tamparan, tiba-tiba saja Hansen menghentikan dengan berdiri di depan Chika.
" Apa hak kalian menghina wanita saya? setidaknya saya mendapatkan apa yang tidak saya dapat dari kalian." Ucap Hansen datar seolah tidak sedang berbicara kepada kedua orang tuanya.