Dunia Gelap Chika

Dunia Gelap Chika
Episode 37


__ADS_3

Sepulang dari kantor Hansen mengajak Chiko makan di sebuah cafe mewah. Ada sebuah kejutan untuk sang istri. Sebelumnya Hansen lebih dulu memainta orang kepercayaannya menyiapkan sebuah kejutan berupa makan malam romantis. Hansen ingin menebus semua kesalahannya kapada sang istri "Sayang, kamu tutup mata ya, ada kejutan untuk kamu" Hansen menutup mata Chika menggunakan sebuah kain hitam.


"Kenapa harus tutup mata segala, mas? nanti aku tidak bisa jalan" Protes Chika sembari menghentikan tangan Hansen. Penutup mata belum sempat menutup mata sang istri, perlahan ia ambil kembali kain hitan tersebut "Namanya bukan kejutan kalau tidak tutup mata. Percayalah, suami mu ini akan menjadi penunjun jalan"


Chika menatap kedua mata Hansen "Sebelumnya aku mau bicara sesuatu sama kamu, mas. Mungkin sikap ku terlalu berlebihan kemarin, sekarang aku sadar semua yang kamu lakukan karena terlalu takut kehilangan aku. Meski begitu jangan pernah bertindak gegabah sebelum tau kebenarannya" Menyentuh wajah sang suami sambil mengusap lembut. Tatapan mendalam seolah menggembarkan betapa tersiksanya Hansen selama ini.


Meraih tangan Chika kemudian menciuminya berberapa kali "Emuah....terima kasih sayang ku. Kamu telah membuka pintu maaf untuk suami mu ini. Jujur, tidak ada hukukan lebih kejam dari pada diamnya seorang istri. Jangan begitu lagi ya, semua terlalu menyakitkan untuk ku" ketulusan terlihat jelas di mata Hansen.


Mengulas senyum sambil berkata "Karena hukuman terbaik bagi seorang suami adalah diam. Cemburu boleh tapi jangan terlalu. Aku tidak suka melihat suami ku ini menjadi lepas kendali. Mulai hari ini jadilah suami terbaik untuk ku dan ayah terbaik untuk anak anak kita nantinya"

__ADS_1


Memeluk sang istri penuh rasa penyesalan "Aku janji tidak akan berbuat seperti kemarin lagi. Mulai hari ini dsn seterusnya, aku akan menjadi suami terbaik, dan semoga kita cepat dapat momongan" Mengecup kening Chika penuh rasa cinta.


"Kalau begitu kita masuk yuk. Tapi, tutup mata dulu"


Chiko tersenyum sambil mengangguk. Setelah menutup mata sang istri, Hansen pun menuntunnya masuk ke dalam cafe. Dari pintu depan sudah tercium semerbak bunga lili kesukaan Chiko "Ada bau bunga lili, kita sebenarnya mau makan malam atau ke taman bunga?"


Hansen memberi kode pada semua pelayan di cafe tersebut. Seketika lampu mati. Setelah itu Hansen melepas penutup mata Chika "Kenapa gelap sekali. Mas kamu di mana?" Sengaja Hansen melepas tangan sang istri karena dia ada ingin menunjukkan sesuatu pada sang istri.


"Aku nggak suka main main kaya gini. Ayolah mas kamu di mana"

__ADS_1


Tiba tiba saja satu persatu ada sinar lilin di sekelilingnya. Suara piano terdengar indah.


"Malam gelap berikan arti terbaik dalam hidup. Mengajarkan cara berbisik tanpa melihat. Di balik gelapnya malam terdatap satu cahaya terang. Cahaya itu adalah kamu, sayang ku" Sebuah lampu sorot terarah pada Chika. Chika terlihat tersipu malu sambil terus melihat sekeliling. Hanya ada remang cahaya lilin dan keheningan.


"Untuk mu ku persembahkan sebuah puisi cinta" Terdsngar suara Hansen tapi tidak nampak batang hidungnya. Suara piano mengiringi setiap kata.


"Wahai sang rembulan pinjamkan sebentar sinar kilaumu. Sendu bercembu malam. Terlihat senyum mengembang di ujung bibir manismu. Kalu perlihatkan kilau indah cinta tulusmu. Tiada cinta seindah cinta mu untuk ku. Terima kasih cinta atas segala anugerah yang kau berikan. Malam berselimut dingin menjadi saksi rasa cinta ini untuk mu bidadariku" Tiba tiba saja lampu menyala dan gemuruh tepuk tangan terdsngar riuh di telinga. Betapa terkejutnya Chika kala melihat sekeliling ada banyak para pegawai cafr tengah menatap ke arahnya. Banyak bunga lili terlihat di sekitaran cafe yang di dekorasi sedemikian indah.


"Astaga, ini semua untuk ku" Dengan mata berkaca kaca Chika berlari ke arah suaminya.

__ADS_1


"Kamu senang sayang?"


Chika tersenyum sambil memeluk sang suami "Sangat, aku sangat bahagia"


__ADS_2