Dunia Gelap Chika

Dunia Gelap Chika
Episode 27


__ADS_3

Setalah kejadian itu kedua orang tua Hansen memutuskan segera kembali tanpa berpamitan. Mereka berdua merasa kecewa dengan perlakuan putra kandungnya itu. Bahkan sebelum pergi mereka tidak sempat sedikit pun melihat wajah Hansen.


Esok hari Chika turun dan di sambut oleh ketiga asisten rumah tangga...


" Selamat pagi Nyonya..." Salah seorang asisten pribadi yang di tugaskan menjaga Chika membantunya menuruni anak tangga.


" Tidak perlu, saya bisa sendiri. Oh iya, mulai hari ini jangan terlalu formal seperti itu. Saya lebih suka mengerjakan segala sesuatu sediri, bahkan kalian seolah membuat ku tidak bisa bergerak. Kalian kerjakan tugas lain dan jangan campuri urusan saya, apa lagi sampai membantu saya turun dari tangga, itu sangat mengganggu ku." Ucap Elya seraya menuju meja makan.


" Tapi kami di suruh Tuan untuk..."


" Kalian tidak dengar istri saya bilang apa? turuti apa yang dia mau." Tiba tiba Hansen turun dan mendekati istrinya.


" Apa pun yang dia minta kalian tidak boleh menolaknya." Ketus Hansen pada mereka bertiga. Tatapan Hansen saat itu memberi kode agar mereka bertiga lekas pergi dari tempat itu.


" Baik, Tuan. Kalau begitu kami permisi." Segera mereka pergi, kemudian Hansen mendekati Chika yang sudah duduk di meja makan.


" Kamu tidak membangunkan aku, sayang?" Hansen menyentuh pundak Chika.

__ADS_1


Chika mendongak ke atas, melihat wajah suaminya yang saat ini berubah menjadi sangat hangat dan perhatian. Namun entah kenapa rasa sakit hatinya masih belum bisa membuatnya menerima semua perubahan Hansen saat ini.


" Mana berani aku membangunkan kamu.." Segera Chika membuka piring untuk suaminya lalu menuangkan nasi beserta lauk pauknya.


" Siapa yang melarang seorang istri membangunkan suaminya sendiri? kamu itu nyonya di rumah ini. Jadi kamu berkuasa atas aku dan semua isi rumah ini." Hansen mencium pipi Chika kala dia tengah sibuk menyiapkan makanan untuk suaminya.


" Apa sih..." Chika berusaha mendorong Hansen sedikit menjauh dari dirinya.


" Ada banyak mata di sini. Bagaimana jika mereka tau?"


Hansen meraih pinggang istrinya, membawanya dalam pelukan...


" Lapas..."


" Astaga, maafkan saya Tuan. Saya tidak melihatnya." Salah satu asisten yang datang seketika berbalik badan.


Wajah Hansen muram atas kedatangan seorang asisten yang tengah menggangu kemesraan itu...

__ADS_1


" Ada apa?" Ketusnya seraya duduk di sebelah Chika.


" Tuan Besar dan Nyonya Besar tidak ada di kamar. Sepertinya beliau pergi." Jelasnya lalu pamit undur diri.


" Siapa perduli."


Chika menatap wajah tenang suaminya...


" Mereka pergi dan kamu tenang seperti ini? apa kamu tidak mencari mereka? bagaimana pun mereka adalah orang tua kamu. Hidup kamu sekarang ini adalah karena mereka." Ucap Chika berusaha menyadarkan Hansen.


Akan tetapi rasa sakit dalam dirinya membuat beku hati Hansen sampai dia mengacuhkan kedua orang tuanya.


" Seharusnya kamu beruntung masih punya orang tua yang siap menerima kamu dalam susah mau pun senang..."


" Cukup! jangan menceramahi aku..." Kesal dengan ucapan Chika, Hansen pun tanpa sengaja kembali pada sifat lamanya.


" Hansen, tunggu jangan marah dulu." Berusaha menahan kepergian suaminya, namun Hansen telah di kuasai amarahnya sampai tanpa sadar dia mendorong istrinya sampai terjatuh.

__ADS_1


Hansen mengepalkan tangan seraya pergi dari rumah. Entah kenapa amarahnya meledak begitu saja, akan tetapi dia memilih pergi agar Chika tidak mendapat sasaran dari amarahnya tersebut.


" Arggghhh..." Stir kemudi menjadi sasaran amarahnya. Dengan secepat kilat dia mengendarai mobil tanpa perduli dengan sekitarnya.


__ADS_2