
Hansen menuju rumah temannya yang bernama Jaka. Suasana hatinya sangat kacau, darah seakan mendidih dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hansen mengetuk pintu rumah jaka dengan sangat keras...
" Siapa sih? nggak sabar banget..." Kesal Jaka saat dia mendengar pintu di ketuk dengan kerasnya. " Siapa?" Setelah membuka pintu, Jaka di kejutkan dengan adanya Hansen. Wajah merah dan kepalan tangannya membuat Jaka ngeri.
" Ada apa Hans, kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Jaka.
Hansen tidak menunggu lama untuk di persilahkan masuk. Dia sangat kesal sampai dirinya masuk tanpa permisi, bahkan Jaka masih mematung di depan pintu menatapnya masuk begitu saja...
" Bahaya ini..." Keluh Jaka saat melihat amarah Hansen. " Semua barang ku bisa hancur." Lirihnya dengan kembali menutup pintu.
Hansen duduk di sofa dengan melipat kaki dan tangan yang masih mengepal...
" Kenapa, sih?" Jaka mendekat dan mencoba menggali permasalahan.
" Nggak ada..." Ketus Hansen.
" Kalau gitu, biar aku ambilkan minum dulu." Segera Jaka menuju dapur, mengambilkan air minum untuknya.
__ADS_1
" Nih...minum dulu. siapa tau bisa ngademin otak kamu " Segelas es sirup tersedia di depan meja.
" Aku sangat kesal. Bisa-bisanya dia membela Kedua orang tua itu di banding aku, suaminya sendiri."
Jaka hampir tersedak saat mendengar akar permasalahan itu...
" Hanya karena itu kamu jadi semarah ini? astaga Hans, kamu berlebihan." Satu ucapan Jaka membuat Hansen memanas, gelas yang hendak di minum akhirnya mendapat amukan dari tangan kekarnya.
" Hans, hentikan. Tangan mu berdarah. Maafkan aku, tadi aku hanya asal bicara saja." Jaka menggapai tangan sahabatnya lalu membantu Hansen melepaskan beberapa sisa kaca di telapak tangannya.
" Hans, tunggu dulu, kita bisa bicara baik-baik." Sia-sia Jaka menghentikan langkahnya karena saat ini Hansen terbakar emosi maha dasyat yang sulit di padamkan.
" Astaga bagaimana ini?" Jaka cemas melihat sahabatnya pergi dengan luka dalam di tangannya, sedangkan dia tidak akan bisa menyetir dengan hanya menggunakan satu tangan kiri saja.
" Aku harus menghubungi Chika, kalau tidak Hansen bisa dalam bahaya." Segera Jaka menghubungi Chika, memintanya menghubungi Hansen serta menenangkan hatinya. Karena saat ini yang mampu menghadapi sifat Paranoid Hansen hanyalah Chika seorang.
" Kalau begitu cepat hubungi dia sebelum bahaya mengintai...." Ucap Jaka cemas kepada Chika yang saat ini berada di rumah.
__ADS_1
Tak berapa lama setelah Jaka memberi tau, Chika segera menghubungi suaminya dan benar saja dia mengangkat telepon darinya...
" Hans, perut ku sakit." Chika berpura sakit untuk bisa mendapatkan diri Hansen kembali.
Tanpa menjawab Hansen langsung meninggalkan mobilnya di tepi jalan, karena tangannya tidak kuat mengendalikan stir kemudi. Rasa cemasnya terhadap Chika membuatnya tak perduli dengan segala hal.
" Taksi.." Panggil Hansen pada salah satu taksi yang kebetulan tengah melintas di depannya.
Setelah sampai di depan rumah, Hansen segera berlari dan mencari keberadaan istrinya, tanpa perduli darah mengalir di tangannya.
" Tuan, tangan anda terluka. Biar saya obati dulu..." Ucap salah satu asisten.
" Minggir dari jalan ku. Kalian harusnya menjaga istri ku dengan baik, lalu kenapa dia bisa sakit perut? kalau terjadi sesuatu padanya kalian semua akan saya pecat." Tanpa tunggu lama Hansen menaiki anak tangga.
" Tapi, Tuan. Nyonya...." Belum sempat berucap Hansen sudah menghilang dari pandangannya.
" Bukankah Nyonya baik-baik saja, lalu kenapa Tuan bilang seperti itu?" Lirihnya dengan heran.
__ADS_1