Dunia Gelap Chika

Dunia Gelap Chika
Episode 31


__ADS_3

Setelah mengantar Erick sampai teras rumah, Hansen dan Chika memutuskan duduk di depan rumah sembari menikmati angin siang. Mereka saling menatap, lalu Chika tersadar lukanya belum mengering. Hatinya kembali sakit dengan semua siksaan dan hinaan Hansen kepadanya selama ini, tak ingin tenggelam dalam lautan cinta, Chika segera beralih pandang.


" Aku masuk dulu..." Ketika Chika hendak beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba saja Hansen meraih tangan Chika.


"Tinggallah di sini sebentar, temani aku." Pinta Hansen dengan kembali membawa Chika duduk di kursi.


"Semua yang aku lakukan tadi semata hanya menjaga nama baik mu di depan Dokter Erick, tidak lebih dari itu." Ketus Chika dengan mengingatkan kembali sikap lembutnya semata hanya untuk menutupi rasa benci terhadapnya. Sikap arogan serta kekanakan membuat Chika mulai lelah.


" Jadi semua itu palsu?" Tanya Hansen. Tatapan matanya seolah menggali lebih dalam tentang rasa di hati Chika yang di rasa sudah memudar dan hampir menghilang.


"Iya, itu benar." Jawab Chika ketus. Dia berusaha menjadi wanita kuat, tidak mudah di tindas, dan mampu membalas semua perbuatan kejam Hansen selama ini.


"Kalau begitu aku mau masuk dulu, di luar panas." Segera Chika bangkit dengan mengipas kedua tangannya.


" Tunggu..." Sengaja Hansen menarik pinggang Chika, berharap membuatnya jatuh dalam pelukan. Dan benar saja, tubuh mungil Chika terpelanting hingga kehilangan kendali dan roboh tepat di pangkuan Hansen.


"Kamu tak apa?" Tanya Hansen.

__ADS_1


Belum sempat Chika menjawab, datanglah seseorang lelaki memakai Helm dan kaca mata hitam. Dia membawa sebuah bingkisan.


"Maaf saya mengganggu. Apakah benar ini rumah Mbak Chika?"


" Benar. Dengan saya sendiri..." Secepat kilat Chika melepaskan diri dari dekapan sang suami lalu mendekati lelaki paruh baya tersebut. Chika meraih bingkisan itu lalu membolak-balikkan mencari tanda pengenal atau apa saja yang bisa membuatnya tau siapa pengirim bingkisan tersebut.


"Tidak ada tanda pengenal sama sekali. Siapa nama pengirimnya, pak?" Tanya Chika heran.


"Maaf, saya tidak tau. Tadi saya hanya di suruh mengantar bingkisan ke alamat rumah ini. Beliau juga tidak memberi tau namanya, dan hanya menyuruh saya mengantar ini kepada Anda. Kalau begitu saya permisi..." Setelah meminta tanda tangan sebagai bukti paket sudah di terima oleh pemilik nama, seorang tadi pergi dengan sepeda motor yang terparkir di depan pintu gerbang.


"Ih apaan sih. Jangan asal ambil milik orang lain.." Kembali Chika meraih bingkisan itu lalu membawanya masuk tanpa perduli dengan perasana Hansen.


Hansen mengepalkan tangan, Ia nampak marah karena Chika mengacuhkan dirinya hanya demi sebuah bingkisan. Meski marah, tapi Hansen tidak ingin mengulang kesalahan yang baru saja di perbuat. Berusaha bersikap lembut demi mendapatkan hati sang istri.


"Untuk kali ini aku harus menahannya. Harus bisa mengendalikan emosi ku sendiri" Berusaha mengatur nafas, supaya tidak di kuasai amarah yang nantinya semakin menjauhkan Chika darinya.


Hansen berusaha keras mengendalikan diri supaya tidak teebakar api kemarahan. Ia memilih duduk kembali kemudian meraih ponsel "Carikan hadian paling mahal untuk istri saya, cepat. Hari ini juga harus sudah di antar ke rumah" Titah Hansen pada seseorang di telepon.

__ADS_1


Di sisi lain, Chika membawa bingkisan itu ke dalam kamar. Perlahan dia membuka kertas itu lalu mengambil sebuah kotak dari dalamnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat sepenggal nama terukir di atasnya.


"Astaga, Revan...." Chika membungkam mulutnya saat melihat beberapa lembar foto wajah Revan hancur.


"Pasti semua ini ulah anak buah Hansen. Dia memang kejam, bahkan lebih kejam dari binatang." Air mata Chika mengalir deras, meratapi nasib lelaki yang telah menolongnya.


Dear, Chika


Anggap saja ini hadiah terindah atas perpisahan kita. Maaf, aku harus pergi ke luar Negri untuk menjalani pengobatan. Bukan kamu yang salah, tapi aku terlalu bodoh karena telah mencintai kamu, istri dari pengusaha ternama di kota ini. Aku, Revan Dwi Candra, Bersumpah akan menjadi jauh lebih kaya darinya supaya aku bisa membebaskan kamu dari jeratan iblis seperti dia. Maaf, jika aku terlambat mengabari kamu, karena di saat kamu membaca surat ini pasti aku sudah meninggalkan kota. Chika, tunggu aku pulang bawa kesuksesan baru ajak kamu keluar dari neraka itu.


Salam hangat ; Revan


Begitulah isi surat dari Revan.


Air mata kian membanjiri wajah, betapa hancur dan berkeping hati Chika saat ini melihat sebuah potret wajah Revan babak belur, tertutup perban dan banyak luka di bagian tubuh lainnya. Semua akibat perbuatan sang suami.


"Aku nggak nyangka dia berbuat kejahat itu sama kamu" Air mata Chika bukan berarti menggambarkan cinta untuk Revan, melainkan rasa kecewanya kepada sang suami. Ia mengira sifat kasar sang suami perlahan akan menjadi pribadai yang baik. Namun, semua tidak seperti yang di harapkan.

__ADS_1


__ADS_2