
Beberapa hari kemudian...
Hansen tidak mengijinkan Chika keluar rumah, meski dengan alasan kuliah sekali pun. Chika pun mematuhi perintah Hansen karena ijin darinya adalah wajib.
" Pakaikan dasi..." Ucap Hansen.
Chika segera mengambilkan dasi senada dengan setelan jas yang di pakai Hansen.
Perintahnya adalah sesuatu yang harus di lakukan, tanpa ada satu penolakan.
" Hari ini aku pulang sedikit terlambat. Ingat, kamu jangan pergi kemana mana. Aku sampai rumah kamu harus sudah menyiapakan makanan" Ujar Hansen.
" Baik, Tuan." Ucap Chika sembari membantu memakaikan dasi seperti yang Hansen minta.
Hansen melirik Wajah cantik Chika, tersenyum tipis melihat wanitanya patuh seperti biasa...
" Bisakah kamu tersenyum untukku?"
Entah hal apa yang membuatnya meminta Chika tersenyum, namun lagi-lagi Chika menuruti permintaan Hansen.
" Kalau begitu aku berangkat dulu." Entah setan mana yang merasuki Hansen, karena hari ini memperlakukan Chika dengan sangat baik. Begitulah sifat Hansen. Terkadang baik dan terkadang seperti srigala. Sebentar baik sebentar jahat.
"Biar saya bawakan" Meraih tas kerja Hansen kemudian Chika mengantarkan sampai depan rumah.
" Aku berangkat kerja dulu...." Segera Hansen pergi.
"Hati hati, tuan." Setalah itu Chika kembali masuk ke dalam rumah, membersihkan setiap ruangan
" Sampai kapan aku harus merasa terancam seperti ini, sungguh aku tidak kuat menjalani kehidupan keras ini..." Air matanya berjatuhan merasakan apa yang telah dia alami selama ini.
__ADS_1
Selama bersama dengan Hansen tidak sedikitpun dia merasa tenang, bahkan dalam tidurnya tidak bisa memejamkan mata tanpa perasaan ketakutan. Seorang paranoid seperti Hansen mudah berubah sifat, terkadang baik dan terkadang mengerikan. Meski begitu Chika perlahan menaruh hati padanya.
Kebersamaan terjalin sekian lama seiring timbulnya sebuah rasa, meski dia tau perasaan itu adalah kesalahan. Rasa yang semakin menyakitinya, mengikat dalam lembah kesakitan, mencekik setiap deru nafasnya.
Chika melihat ponselnya, ada begitu banyak pesan singkat dan panggilan tidak terjawab.
" Astaga, ada apa ini?" Lirihnya dengan segera menelepon sahabatnya.
Ternyata dia mendapat kabar jika kakek Ana masuk Rumah sakit karena penyakit jantung yang di derita.
" Aku harus menemui Hansen, meminta ijin darinya..." Segera Chika bergegas menuju kantor Hansen. Dia berusaha mencari ojek tapi tidak satupun menemukan ojek tersebut...
" Chika...sedang apa kamu disana?" Seorang pengendara motor menghentikan laju kendaraan lalu menemui Chika.
" Saya mau menemui seseorang..." Lirih Chika.
" Terima kasih, tapi saya...." Ucapnya terhenti ketika Revan meraih tangannya, memaksanya segera naik ke atas motor.
Celakanya di saat bersamaan, Hansen kembali ke rumah untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Dia melihat Chika berboncengan dengan seorang lelaki.
" Sudah berani menentang ku, kalau begitu aku akan segera membawa dia kedalam lembah kesedihan." Stir kemudi menjadi sasaran utama amarahnya.
Tanpa pikir panjang Hansen membatalkan semua meeting lalu memutuskan mengikuti kemana Chika pergi.
Hampir sepuluh menit mengikuti Chika, akhirnya motor itu berhenti tepat di depan kantornya, sedangkan lelaki itu melambaikan tangan pergi meninggalkan Chika.
" Berani sekali lelaki itu membawa peliharaanku..." Untuk kesekian kali Stir kemudi terkena pukulan darinya.
" Kenapa dia kesini?" Segera Hansen keluar dari mobil berjalan masuk ke dalam kantor.
__ADS_1
" Mohon maaf Tuan Hansen sedang tidak di tempat." Ucap asisten pribadi Hansen.
" Ada apa?" Datanglah Hansen memasang wajah garang.
" Anu, saya mau..." Tanpa menunggu lama Hansen menyeret Chika masuk ke dalam ruang kerjanya. " Siapa lelaki itu?" Amarah Hansen meluap sampai dia mendorong Chika sampai dirinya terbentur dinding.
Chika gemetar mendapat perlakuan kasar dari Hansen, dia pun tak berani menatap matanya dan hanya mampu terdiam menyilangkan kedua tangan di dadanya, takut atas amukan yang akan di terima.
" Kenapa diam, siapa lelaki itu?" Satu hentakan tangan mendarat tepat di samping wajahnya.
" Dia Revan, teman kampus saya. Tadi saya ingin datang kesini meminta ijin untuk berkunjung ke Rumah Ana, tapi sangat sulit mendapatkan ojek di jam seperti ini. Lalu dia datang dan...."
Brak....
Kembali Hansen melakukan hal gila dengan menendang pintu yang tidak jauh dari tempatnya sekarang....
" Cukup! Memangnya kamu begitu bodoh ya, untuk apa punya ponsel? kenapa tidak menelepon saja." Bentak Hansen kembali membuat Chika ketakutan.
Dengan badan menggigil Chika berusaha membuka kedua tangannya lalu perlahan menatap mata lelaki di depannya....
" Bukankah kamu tidak mengijinkan aku mempunyai nomer telepon kamu, lalu bagaimana cara menghubungi kamu.." Bantah Chika hingga dia mampu membungkam mulut Hansen.
Sial aku lupa jika dia tidak punya nomer ku...
Segera Hansen membawa Chika ke dalam kamar di sudut ruang kerjanya, tempat terindah yang ada di dalam ruangan tersebut.
" Buat aku senang dulu, baru aku antar kamu temui sahabat kamu itu."
Dengan sangat terpaksa Chika menuruti semua perintah darinya. Mereka pun melakukan hal yang sering terjadi, namun kali ini Hansen benar-benar kelewat batas. Dia memperlakukan Chika dengan sangat kasar sampai seluruh tubuhnya di warnai noda merah.
__ADS_1