
Mereka berdua makan sampai lupa waktu, celakanya lagi Chika juga lupa bahwa malam ini dia harus menemani suaminya makan malam. Chika merasa bahagia ada bersama Revan, semua banyolan dan sikapnya membuat Chika nyaman. Tidak sedikitpun kesedihan saat bersamanya. Setelah makan selesai Revan mengajak Chika ke sebuah tempat, tepatnya di pinggir kota ada sebuah danau kecil yang belum banyak orang datang kesana, letaknya lumayan jauh dari kota. Sesampainya disana Chika merasa takjub atas keindahan alam malam hari, bulan bintang berhias indah pada air danau yang terlihat menghitam, tentu saja nampak hitam karena mereka melihatnya pada malam hari dan hanya ada remang cahaya remang remang dari lampu di sekitar danau.
Sesekali Chika melepas lelah dengan memejamkan mata kemudian mendongak menengadah pada sinar rembulan. Sedangkan Revan terus menatap indah wajah Chika dengan melebarkan senyum.
Aku sungguh menyukainya...
Rasa dalam diri Revan sulit terkendali, ingin sekali dia ucapkan sebuah kata berjuta makna, tapi dia masih mencari sesuatu hal dari mata Chika yang seolah penuh dengan kegelapan.
" Kamu suka tempat ini?" Tiba tiba saja Revan memecah fokus Chika sampai dia membuka mata dan menatapnya.
" Suka, aku suka tempat ini. Udaranya sejuk dan nyaman." Jawab Chika sembari mengulas senyum.
" Semua keindahan ini tidak sebanding dengan senyum kamu malam ini.." Revan mendekat, menatap lebih dalam mata Chika sampai dia mendapatkan ada sebuah kegelapan yang mengikat mata itu, tapi dia masih belum tau hal apa di dalamnya.
" Revan...." Chika sedikit mendorong tubuh Revan saat wajahnya semakin mendekat.
" Kamu pikir aku mau apa? aku itu hanya mau mengambil daun di rambut kamu ..." Tangan kanan Revan menyentuh kepala Chika kemudian mengambil satu daun kering yang tersangkut. " Daun ini lebih suka ada di dekatmu..."
" Maksud kamu?" Tanya Chika heran.
__ADS_1
" Sudahlah kamu tidak akan mengerti. Sekarang kita duduk di sana saja.." Jari telunjuk Revan menuju pada sebuah kursi panjang penuh dedaunan.
" Sepertinya tidak ada orang yang datang kesini ya?" Chika mencoba mencari pengunjung di sekitar sana.
" Tempat ini belum banyak di ketahui umum, sepertinya hanya segelintir orang saja yang tau. Bukankah lebih nyaman seperti ini, tidak ada kebisingan?" Jawab Revan sembari membersihkan daun daun di kursi tersebut.
" Silahkan duduk..."
" Terima kasih." Santun Chika.
Setelah mereka duduk di kursi panjang itu Chika menatap wajah Revan dengan senyum tipis...
" Kenapa?"
" Mulai sekarang apapun yang kamu mau pasti semua akan tersuguh di hadapanmu, manis."
Chika tersipu malu, sebab baru pertama kali mendapat sebuah pujian seperti itu....
" Jangan gombal ah.." Chika semakin malu.
__ADS_1
" Oh iya, kamu tidak apa apa pulang telat?"
Mendengar ucapan Revan sontak saja Chika teringat bahwa malam ini dia ada janji dengan suaminya.
" Astaga, ini jam berapa?" Wajah Chika panik saat dia teringat akan janjinya.
Revan melihat jam tangan....
" Jam sepuluh malam."
" Apa?" Chika terkejut sembari bangkit dari duduknya. Kepanikan semakin bertambah karena Hansen tidak akan memaafkan dirinya. " Matilah aku..."
" Kenapa?" Tanya Hansen heran.
" Malam ini aku harus makam malam sama su...." Lidahnya membeku ketika hendak menyebut suaminya.
" Su? siapa?"
" Su, Sumi, iya Sumi. Kamu bisa antar aku pulang sekarang? ku mohon..." Pinta Chika dengan menyentuh kedua tangan Revan.
__ADS_1