
Panas tubuh Laika tak kunjung turun dari kemarin malam membuat Resya yang sedang mengompres kening Laika memakai handuk basah pun menatapnya khawatir karena wajah Laika yang sangat pucat, sedangkan Laika hanya bisa tertidur dengan sesekali meracau tak jelas mungkin saja karena efek tubuhnya yang sangat panas, saat Refand baru saja memasuki kamar Laika Resya langsung menatapnya.
"Paa panas Laika gak turun-turun kita bawa ke rumah sakit aja ya"ucap Resya yang agak panik membuat Refand menganggukkan kepalanya.
"Yaudah mama tunggu dulu ya biar papa siapin mobil nya dulu" Resya hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah sampai di rumah sakit, ternyata mau tidak mau Laika harus dirawat dirumah sakit karena panasnya yang terlalu tinggi takutnya jika dia tidak di rawat ia akan kenapa-napa.
Laika hanya bisa pasrah ketika dokter menyarankan ia harus tetap berada di rumah sakit.
"Mama jagain Laika dulu ya biar papa yang ambil pakaian Laika ke rumah" Resya menganggukkan kepalanya membuat Refand langsung melenggang pergi.
"Ma kepala Lai sakit banget"
"Iya Lai sabar nanti minum obat biar gak sakit lagi"
Laika memilih untuk memejamkan matanya sejenak, ia tak ingin memberitahu semua temannya bahwa Laika tidak masuk karena sakit, Laika pun memberi pesan juga kepada mama dan papa agar hanya memberitahu gurunya tidak dengan teman-temannya, keduanya pun hanya mengangguk setuju walaupun mereka tidak tahu mengapa Laika seperti itu. Laika juga sengaja tidak mencharger ponselnya karena tidak ingin mendengar notif dari semua temannya.
"Laika jangan pikirin hal-hal lain dulu, kamu cuma harus fokus sama kesembuhan kamu aja" Laika tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian Laika memejamkan matanya mencoba menahan nyeri di kepala.
*******
Sedangkan disisi lain terlihat Galih yang tak bersemangat membuat semua menatapnya dengan tatapan kasian.
"Lo bertiga beneran gak tau kenapa Laika gak sekolah?"tanya Naren pada Zahra, Andira dan Calista membuat mereka menggeleng lemah.
"Padahal kemaren baru aja gue kerumah Laika, terus katanya dia gak papa tapi gue liat mukanya pucat gitu, gue jadi yakin kalau dia sakit"ucap Galih yang baru membuka suaranya membuat Andira menegakkan tubuhnya dan menatap Galih.
"Kok kak Galih gak bilang sih sama kita kalau mau ke rumah Laika" Galih menaikkan bahunya.
"Itu aja dia kayak enggan gitu bukain gue pintu, mukanya ngejelasin kayak dia gak mau ketemu gue atau bisa dibilang dia terpaksa"ucap Galih.
"Nanti pulang sekolah gue mau coba cari ke rumahnya"ucap Zahra yang diangguki oleh mereka berenam.
Setelah itu mereka menyibukkan diri dengan melamun kembali memikirkan bagaimana Laika sekarang mereka benar-benar sangat khawatir, mana bisa mereka bersenang-senang sementara mereka sendiri tidak tau dimana Laika, mana bisa mereka tertawa sementara Laika tidak ada bersama mereka.
Skip..
Entah kenapa Laika sangat bosen diam di ruangan yang hanya tercium bau obat-obatan, Laika menghela nafasnya seraya menatap ke arah langit-langit kamar rawatnya. Laika merasa rindu dengan semua sahabat nya termasuk Mervin.
"Eh Laika udah bangun, yuk makan dulu"ucap Resya tiba-tiba membuat lamunan Laika terbuyar, dan ia berusaha mencoba untuk duduk.
"Kepalanya masih sakit?"tanya Resya membuat Laika menggelengkan kepalanya.
"Udah nggak ma cuman lemes aja"ucap Laika dengan suara melemah. Resya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian ia mengaduk buburnya sebentar lalu menyuapi Laika, sementara Laika mau tak mau menerima suapan itu dan langsung mengunyahnya.
"Makan yang banyak biar gak lama-lama disini, Laika pasti gak nyaman kan?"tanya Resya membuat Laika menganggukkan kepalanya.
"Setiap kali nyium bau obat rasanya kayak pengen muntah gitu, mual"ucap Laika membuat Resya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya mama ngerti Lai jadi kamu pikirin kesembuhan kamu aja jangan mikirin yang lain, oh iya soal Laika gak sekolah mama udah bilang sama wali kelas Laika"
"Tapi mama udah kasi tau kan, jangan sampai teman-teman Keisha tau?" Resya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Udah kok tenang aja" setelah suapan terakhir Laika langsung meminum obatnya dan memainkan ponselnya sebentar karena merasa bosan. Banyak notif yang tertera di layar ponsel Laika tetapi Laika enggan membuka pesan itu.
******
Setelah seminggu Laika dirawat di rumah sakit, akhirnya Laika diperbolehkan pulang membuat Laika sangat senang karena ia tidak akan lagi mencium bau obat-obatnya karena ia sangat membenci itu.
Laika dan Resya berjalan beriringan menuju parkiran sedangkan Refand berjalan lebih dulu sambil membawa tas yang berisi pakaian Laika.
Saat berada di mobil Laika masih tidak membuka suaranya ia menatap kosong ke arah kaca yang ada disebelahnya. Resya menatapnya sambil tersenyum tipis.
"Laika udah gak ada yang sakit kan?"tanya Resya membuat Laika menoleh dan menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di garasi rumah, membuat Laika langsung berjalan memasuki rumahnya.
"Ma nanti sore Laika mau ke taman sebentar ya"ucap Laika yang menghempaskan bokongnya ke sofa, sedangkan Resya menatapnya.
"Tapi kan Laika baru aja pulih" Laika tersenyum tipis.
"Laika udah gak lemes lagi kok, lagian Laika pengen cari udara segar aja" Resya menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya.
"Yaudah deh tapi Laika hati-hati ya" Laika tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Hallo"
'Assalamualaikum Laika'
Laika terkekeh sedikit karena dia lupa mengucapkan salam.
"Assalamualaikum Rel ada apa?"
'Nah gitu dong, waalaikumsalam. Gimana keadaan lo? Sumpah dah Lai gue kaget banget waktu tau lo masuk rumah sakit gue kirain lo gak bisa sakit ternyata bisa toh'
"Sialan lo emang, kalau lo nelpon gue cuman nanya hal yang gak penting mending gue matiin"
'Eh ehh jangan elah, gue nanya keadaan lo gimana itu gak penting Lai? Lo bisa kan bedain mana penting mana nggak?'
Ucapan Ferrel membuat Laika terkekeh.
"Iya iyaa, gue udah sehat kok baru aja pulang dari rumah sakit"
Terdengar disana Ferrel yang menghela nafasnya.
'Syukur deh kalau lo udah sembuh, sumpah dah gue bener-bener panik Lai gila, mama papa gue juga panik'
Laika tertawa.
__ADS_1
"Udahh gue gak papa kok bilang sama mama papa lo Rel biar gak khawatir lagi"
'hm iya deh lo istirahat sana jangan main hp mulu, jangan bergadang, dan yang paling penting jangan pacaran terus itu juga gak baik untuk kesehatan'
"Yeu sirik aja lo, udah ah bye" ucap Laika dan langsung mematikan teleponnya, setelah itu ia kembali meletakkan ponselnya dan berniat untuk nonton tv sebentar.
Tanpa sadar Laika langsung menatap ke arah jam dindingnya yang menunjuk ke arah jam 5 sore membuat Laika langsung bangkit duduknya berjalan menuju kamarnya karena ia ingin pergi ke taman.
Saat telah sampai di taman, Laika memilih duduk di bangku kosong dekat anak-anak bermain, ia tersenyum menatap mereka yang sangat bahagia bermain, Laika jadi ingin kembali ke masa kecilnya dimana kedua orang tuanya masih hidup, ia harus bisa menerima kenyataan pahit ini bagaimana pun juga itu sudah takdir dari tuhan mau bagaimana pun caranya tetap saja Laika tak bisa mengubah takdir itu.
Laika sedang larut dengan pikirannya yang entah kemana sampai pada akhirnya matanya tertuju pada satu titik yang membuat jantungnya seakan ingin berhenti berdetak, Laika menajamkan pandangannya takut jika ia salah lihat.
Deg..
Di bangku yang berjarak beberapa meter darinya terlihat Mervin dan Gladys tengah bercanda ria entah apa yang mereka lakukan sampai mereka sebegitu bahagianya, Laika juga tidak tahu bahwa pada akhirnya akan begini rasanya jika jatuh cinta, apakah Laika boleh menyesal karena telah mencintai orang yang pada akhirnya orang itu akan pergi meninggalkannya begitu saja. Laika tidak ingin hal itu sampai terjadi Laika masih sangat menyayangi Mervin sungguh Laika tidak bohong.
Laika tersenyum kecut saat melihat Mervin menggelitiki Gladys, Laika jadi berfikir bahwa selama seminggu ia tidak ada Mervin sama sekali tidak mengkhawatirkannya mungkin dia bahagia sekarang karena tidak ada Laika yang mengganggu momennya dengan mantannya, bahkan Mervin sama sekali tidak mengabarinya, air mata Laika mengalir begitu saja membuat Laika dengan cepat menghapus air matanya ia tak ingin berlama-lama karena itu sungguh membuat nya terasa sangat sakit ia pun memilih untuk kembali pulang dengan pikirannya yang masih tertuju kepada kedua insan tadi.
Saat sampai di rumah Laika langsung berlari menuju kamarnya sedangkan Resya yang melihat perubahan wajah Laika pun menggelengkan kepalanya, Resya ingin membiarkan dia sendiri karena Resya tau pasti Laika sedang ada masalah.
Sesampai dikamar Laika menyender di belakang pintu kamarnya ia mencoba menahan sesak didadanya, baru kali ini ia merasakan sesuatu sampai sesakit ini, bahkan ini baru pertama kalinya untuk Laika pertama kalinya sudah disakiti oleh lelakinya sendiri, Laika tak bisa menahan air matanya agar tidak keluar membuat ia terus menghapus air matanya.
Mungkin saja Laika hanya menjadi pelampiasan ketika Gladys tidak ada dan sekarang Gladys sudah datang Laika berfikir mungkin saja ia akan ditinggalkan.
.
.
..
.
.
.
.
Bersambung...
***jangan lupa vote dan komennya yaa makasihhh:)))
@velisateophania***
.
.
__ADS_1