
"Kring..." Bel pulang sekolah pun berbunyi. Anak-anak pun segera keluar pulang. Teman-temanku yang berada di dalam kelas pun berbondong-bondong keluar kelas menyisakan Aku, Siska, dan Nanda yang masih sibuk membereskan barang-barang kami.
Sambil membereskan barang, Siska mengingatkanku tentang PR matemantika yang akan dikumpul besok. Aku lalu tersenyum mengisyaratkan bahwa Aku tak akan melupakannya.
"Tok.. Tok.. Tok.." Terdengar suara ketukan pintu kelas. Aku mendekat kearah pintu dan melihat Bu Dewi berdiri sambil membawa buku-buku B. Indonesia di tangannya. "Tolong bantu Ibu menaruh buku-buku ini ke meja Ibu yah! Ibu kesulitan membawanya." Aku lalu mengiyakan dan segera membantu Bu Dewi membawa buku-buku yang lumayan banyak. "Aku bantu yah?" Nanda lalu mengambil sebangian buku yang ku bawa tampa menunggu jawabanku.
Kami lalu menuruni tangga sekolah menuju ke ruang guru. Setelah sampai di ruang guru, Aku dan Nanda lalu meletakan buku-buku tersebut di meja Bu Dewi. Bu Dewi berterima kasih kepada kami yang telah membantu membawakan buku-bukunya.
"Iya bu, sama-sama."
Setelah mengambil tas, kami pun pergi menuju gerbang sekolah. Kami melewati kelas 8 untuk sampai ke gerbang sekolah. Saat di depan gerbang, Aku melihat Ibu Nanda yang sendari tadi menunggu kami pulang.
"Kenapa lama pulangnya?"
__ADS_1
"Tadi Nanda sama Sarah membantu Bu Dewi membawakan buku-buku ke ruang guru."
Ibu Nanda pun tersenyum lalu menawariku untuk ikut pulang bersamanya menaiki sebuah mobil. Aku menolaknya dengan alasan bahwa Aku bisa pulang sendiri. Lagi pula, Aku lebih suka berjalan kaki ketimbang menaiki kendaraan. Setelah berpamitan, Aku pun pulang ke rumah.
Jarak antara rumah dan sekolah membutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Walau lebih baik Aku menaiki kendaraan atau sepeda saja, nyatanya Aku lebih memilih berjalan kaki ketimbang itu semua. Karena biasanya saat berangkat atau pulang sekolah, jalanan biasanya macet dan Aku gak mau harus nunggu lama agar bisa terbebas dari kemacetan. Lagi pula kalau berjalan kaki, Aku bisa lebih cepat sampai ke sekolah sekaligus berolahraga pagi.
Aku lalu memandang sekelilingku, melihat kota yang bersih dan tertata rapi. Kota dengan keindahan alam yang dapat membuat siapa pun betah untuk tinggal lebih lama. Kota ramai penduduk dengan orang-orang yang baik dan ramah. Serta kota yang jarang terjadi kasus kriminal, itu pun membuat kota ini mendapatkan julukan. Perfect Place, Dream City, Forest City dan masih banyak lagi.
Aku lalu membantunya mengambil kertas yang berserakan. Aku tersenyum melihat isi kertas-kertas tersebut, "Nampaknya akan ada hal menarik nantinya." Pikirku tak sabar menantikannya. "Mauf yak, ini sahahku karenna jalan gak mehihat jalan." Gadis itu meminta maaf sambil membungkuk. "Gak papa kok, Aku yang salah karena melamun terus." Aku lalu tersenyum dan gadis itu pergi dengan cepat.
Aku tetap diam di tempat sampai gadis itu menghilang dari hadapanku. "Pakaian yang aneh banget, kurang menguasai bahasa, menutupi sesuatu. Gadis itu benar-benar membuatku penasaran setengah mati! Akhirnya hidupku yang membosankan akan segera berakhir." Ujarku pelan dibarengi dengan senyum sinis.
------------------------------------------------------------------------
__ADS_1
Hola, Aku Feli yg nulis cerita ini
(Sebenarnya cuman Nickname sih..)
Makasih udh mau baca cerita ini ≧∇≦. Makasih udh mau meluangkan waktu buat baca T_T.
Maaf yah... ceritanya sampe sini doang. mager nulis hehe
//plak
Ok sekian dlu, tinggalkan like, rate, comment, dan share yah..
^_^
__ADS_1