
Chapter 21
.
.
.
.
Pukul 12 malam kediaman keluarga Namikaze- kamar Naruko.
Hampir setiap malam hari. Naruko dan Sasuke bercumbu dengan mesranya. Saling membalas ciuman dengan penuh nafsu? Mungkin ada yang berpikir mereka berdua sangatlah aneh? Karena seharusnya mereka bisa memilih untuk menikah saja kan?
"Sasuke, pelan-pelan...sshhh~," desahan Naruko tak tertahan.
"Stth. Kau cerewet sekali."
"Bu-bukannya ce...rewet tapi sshh...kau terlalu kasar! Sshh.."
(Note : Bah, Naru diapain aja coba?)
Memiliki seorang kekasih yang tampan, tidak banyak bicara, tapi dibalik semua itu punya sifat yang mesum? Naruko tidak habis pikir setiap malam, Sasuke hanya datang untuk ini? Mau tidak mau Naruko harus menurutinya kalau tidak maka si tampan itu pasti bersikap lebih dingin dari biasanya.
Kurama sering menasehati Naruko agar berhenti, tapi wanita yang sedang kasmaran dan ikut bergejolak nafsu bagaimana cara untuk menyampaikannya? Jika berlanjut akan terjadi masalah yang besar. Bayangkan saja kalau Naruko hamil diluar nikah? Apa yang bisa ia katakan nanti kepada orangtuanya?
Kurama memang tidak memberitahu kalau kemungkinan itu terjadi, nanti jika tidak ada pilihan lain Kurama pasti akan memberitahunya. Rasa tidak tega selalu menghalangi Kurama. Apakah Kurama terlalu memanjakan Naruko? Sampai memberitahu kemungkinan yang terburuk begitu berat?
Pagi harinya....
KRIIIIINNG!!
Jam weker berdering keras tepat waktu dipukul tujuh. Naruko masih menggeliat menikmati keindahan semalam. Tubuhnya masih terasa pegal-pegal karena kekasih tercintanya begitu kasar dalam bercinta?
Sadar atau tidak ia masih telanjang bulat tertutupi oleh selimut tebalnya. Mengucek mata karena kesal dengan jam weker yang terus berdering tanpa hentinya.
"Ahh, sudah pagi ternyata." Mengangkat kedua tangan keatas, merenggangkan otot-otot yang kaku. Dia cemberut kesal, setiap kali melihat sekeliling kamar hanya ada dia sendiri di kamarnya.
"Tech, dia itu ada cuma pas ingin saja!"
Naruko buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia menatap cermin yang ada di kamar mandi, tanda kemerahan di leher, sampai di dadanya membuatnya menghela nafas panjang.
"Sasuke itu keterlaluan sekali! Sudah leher nyasar ke bawah-bawah lagi! Dia pikir aku ini apa mirip roti saja di cemilin dikit-dikit, huuh!"
Mandi air hangat di bak mandi berharap rasa pegal nya sedikit berkurang. Naruko mengingat kejadian tiap malam benar-benar memalukan! Ia sampai mendesah terus menahan paksaan Sasuke.
"Ahh, makin kuingat malah makin malu-maluin!" gumamnya sambil menutup wajahnya.
Memejamkan mata sambil menyamankan diri di bak mandi, sekaligus masuk dalam alam bawah sadarnya. Kurama geleng-geleng kepala bagaimana bisa gadis bodoh ini menemuinya dengan telanjang bulat? Apa urat malunya sudah putus? Apa memang sudah lupa arti malu dan sopan santun?
"Yo, Kurama. Waktunya dengar curhatku!"
__ADS_1
"Umuh, tapi Naru kau masih keadaan-."
"Cuma telanjang abaikan saja!"
"?"
Naruko bercerita tentang kejadian semalam sambil malu-malu, tapi masih senang untuk melanjutkannya. Kurama sebenarnya tanpa Naruko beritahu, ia sudah tahu betul dari awal sampai akhir adegan yang tak pantas itu.
"Ak-aku senang Sasuke setiap malam selalu uhh, gimana ya bilangnya....mm..selalu bercinta denganku, kyaa!"
"DASAR BODOH! SUDAH HENTIKAN BACOT JOROKMU ITU GADIS KEGATELAN!" Kurama berteriak sampai Naruko harus menahan tubuhnya agar tidak diterbangkan oleh terpaan angin yang dibuat dari suara teriakan Kurama.
"Kurama, kenapa kau marah! Dan kenapa kau bilang aku ini gadis kegatelan! Aku kan sedang cerita serius ini!"
"KAU TIDAK PUNYA OTAK!"
"Kau yang tak punya otak rubah tuaaaa! Suruh denger malah ngamuk tak jelas!"
Kurama memalingkan wajahnya diikuti Naruko melakukan hal yang serupa. Naruko tak tahu apa penyebabnya Kurama marah. Dan seumur-umur baru kali ini Kurama marah seperti itu?
"GRRR!"
"Apa kau menantangku bakuhantam hah! Mengerang begitu hah! Dasar rubah tua!"
"GADIS BODOH SIALAN! AKU MENASEHATIMU SEPANJANG HARI CUMA KAU ANGGAP ANGIN LEWAT! PAKAI OTAKMU ITU BAGAIMANA NANTI KALAU KAU HAMIL!"
"Ha-hamil? Kurama apa kau bercanda? Aku hamil mana mungkin aku kan belum menikah dengan Sasuke?"
Ya-ya, tiap malam kadang waktu jalan main ke taman ada tempat sepi disana juga."
( PLAK! )
Kurama menepuk jidatnya sendiri. Dia benar-benar tidak menyangka harus mendengar kata-kata blak-blakan yang tak tahu malu itu. Tanpa ambil pusing Naruko pergi meninggalkan Kurama.
Kurama melirik disebelah sisi tubuhnya. Dia menghela nafas berat, dengan lembut ia menatap benda yang seperti bola kristal di dalamnya ada secercah cahaya keemasan.
"Hidup barumu akan dimulai Naru," gumam Kurama dan ia kembali tertidur seperti biasanya.
(Note : Naruko gak liat soalnya di tutupi ma badan Kurama. Itu bayi loh~)
.
.
.
.
Satu Minggu kemudian/kediaman Namikaze.
"Huukh...hukkh!"
__ADS_1
"Sayang kau kenapa?!"
"Heheh, sepertinya aku masuk angin, Bu," balas Naruko.
"Masuk angin? Kau sudah minum obat?"
"Sudah tapi tetap saja mual."
( Tap )
"Tapi, kau tidak demam sayang. Aneh sekali? Biasanya mual masuk angin pasti bersamaan sama demam?" kata Kushina sambil menyentuh kening Naruko.
Kushina merasa ada yang janggal tidak mungkin gejala masuk angin seperti ini. Terselip kecurigaan yang langsung Kushina tepis karena Naruko bukan tipe gadis yang seperti itu walaupun ia sudah jadi wanita dewasa.
Naruko melangkah kembali ke ruang makan, tapi ketika ia ingin sarapan mual kembali ia rasakan dan akhirnya ia urungkan untuk sarapan.
Naruko tidak mengerti dengan keanehan pada dirinya sendiri, selain mual ia merasa takut karena hampir 2 Minggu ia telat datang bulan.
"Bu, aku telat datang bulan, Ibu tau tidak apa penyebabnya?"
Kushina yang asik mengepel lantai rumahnya. Dia tidak terlalu mendengar ucapannya Naruko yang terlalu pelan dan tempat ia berdiri cukup jauh, ia merasa aneh karena takut nanti penyakit ganas bersarang di tubuhnya?
"Naru sayang, kenapa kau mengintip di pintu seperti itu?"
"Bu, aku telat," ujar Naruko merasa takut.
"Telat? Maksudmu telat apa sayang?"
"Telat datang bulan."
Ooh, telat datang bulan. Ibu kira kena-. APA KAU BILANG!"
"!"
Naruko mendapatkan amukan membabi-buta dari ibunya yang panik bercampur amarah yang meledak-ledak! Tanpa banyak berpikir lagi ia menarik Naruko dengan kasar dan membawanya ke rumah sakit. Hasil yang benar-benar yang tak terpikirkan oleh Kushina walaupun tadinya ia yakin bahwa putrinya hamil cuma ia abaikan saja dan memutuskan membawanya ke rumah sakit.
( PLAK! )
"Dasar anak yang tak tau malu! Kau pikir aku membesarkanmu untuk melakukan hal memalukan seperti ini!"
"Hikss...hikss..." Naruko terisak sambil menyentuh pipinya sendiri. Dia tertunduk takut untuk menatap ibunya.
Naruko menceritakan semuanya pada ibunya dan mendapatkan tamparan yang keras bukan hanya pipinya yang sakit selain pipinya dalam dadanya lebih sakit lagi karena baru kali ini ia mendapat tamparan dari ibunya yang selalu menyayangi dengan penuh kasih.
Next Chapter 22
Note : Semoga aja ada pelajaran dibalik cerita ini ya! Naruko hamil dan semoga aja Sasuke tanggung jawab ya!
Weeh, Kurama kasihan malah kena marah Naruko (\=.\=) Niatnya baik padahal.
Aduh, Kushina ngamuk! Gimana nanti respon Minato ya? Alamak putri kesayangannya bunting uppss hamil, ah sama aja cuma beda tulisan hehe...
__ADS_1
Makasih udah baca! Tunggu di bagian next Chapter selanjutnya ya!!