
Chapter 8
.
.
.
.
.
Ketika kembali ke desa Konoha. Naruko masih mengingat kata-kata Sasori, dengan jelas. Dengan cara yang tak mungkin Naruko terima menjadi satu-satunya cara mereka mengapai kedamaian dunia merubah dunia yang kacau seperti sekarang menjadi damai.
Merenungi semua itu di kamar sembari melihat pejalan kaki penduduk desa dari jendela kamar. Naruko menghembuskan nafas berat setiap menimbang-nimbang kata-kata itu.
"Yang benar saja! Mana bisa seperti itu'kan? Dia itu salah besar! Dasar Akatsuki, yang hanya bisa menindas dengan alasan manis mengutamakan perubahan! Dunia baru katanya? Tech, aku sama sekali tak percaya alasan sebodoh itu!"
"Fiuhhh... Kau terlalu banyak berpikir, Naruko, kau harus menerimanya semua orang memiliki tujuan dengan cara mereka masing-masing."
Kurama mengutarakan apa yang dia pikirkan.
"Hah, berarti katanya itu hal wajar ya, Kurama?"
"Umu, bisa dibilang begitu juga." Kurama menjawab singkat pada intinya.
Pukul 3 menjelang sore, Naruko hanya diam di kamarnya.
Dia hanya mengenakan tank top berwarna putih dan serta celana dalam saja. Gadis yang selalu tidak peduli dengan namanya kesopanan ini berpikir di dalam kamar siapa yang akan melihatnya berpenampilan seperti ini kan?
Di kediaman Sasuke, yang hanya ada Sasuke yang diminta agar diam dirumah, untuk menjaga Naruko.
Naruko dijaga?
Naruko itu sangat susah untuk diam, ia selalu keluar malam untuk jalan-jalan terkadang berkunjung ke kedai-kedai sekitar. Yang paling sering Naruko kunjungi adalah kedai ramen.
Tok..tok..tok.
"Ada apa?" Naruko menjawab ketukan pintu yang ia yakini hanya ada Sasuke di rumah.
"Kau masih hidup?"
"Ah, jelaslah! Kau pikir aku sudah mati, hah!"
Tok..tok..
"Apa lagi!"
"Kau sedang datang bulan ya?"
"Eeeeh! Kau bicara ngawur ya, Sasuke!"
Sepulang dari misi mereka. Naruko menjadi murung dan langsung pergi ke kamar, keluar kamar hanya untuk membantu ibunya Sasuke, dan untuk mandi.
__ADS_1
"Boleh aku masuk?"
"Untuk apa?"
Hening selama 25 detik...
"Kau belum makan apapun hari ini."
Naruko menatap pintu kamarnya, ia heran dengan Sasuke yang bertingkah aneh seperti orangtuanya saja.
"Aku tidak selera makan. Kau tumben sekali cemas padaku,"
"...."
"Sasuke, masuklah santai saja lagian ini kan rumahmu," kata Naruko tanpa basa-basi dan malas melanjutkan kata-katanya tadi.
Sasuke membuka pintu seketika itu juga ia hanya bisa diam membisu menyaksikan pemandangan dihadapannya. Naruko yang sedang duduk ditepi ranjang, kedua tangan kebelakang dengan ekspresi wajah yang cuek.
"Kenapa kau melihatku begitu?"
"Hn?" Sasuke hanya menyahut singkat tanpa bisa menjawab apapun lagi selain kata ambigu andalannya.
Sasuke melangkah kearah lemari pakaian. Dia membuka lemari itu, memilihkan piyama berwarna biru muda. Naruko menaikkan alisnya yang sebelah kiri karena heran dengan lelaki yang satu ini.
"Pakai ini," kata Sasuke setelah ia mendekat berdiri didepan Naruko.
"Untuk apa?"
"Kau bodoh atau apa? Lihat dirimu sekarang."
Bagaikan disambar petir. Naruko baru sadar ia hanya mengenakan tank top dan celana dalam untunglah tank top yang ia pakai cukup unik karena cukup panjang.
"Ap-pa kau lihat cel-."
"Tidak." Sasuke berkata tegas.
Clekh.
"Naru, ibu mau bil-." Mikoto yang langsung membuka pintu kamarnya Naruko. Mikoto hanya bisa membeku terdiam tak mampu bicara karena melihat hal yang tabu dikeluarga Uchiha.
"Kalian belum boleh melakukannya, kalian belum resmi menikah.." Kata-kata yang begitu kaku seperti robot.
Sasuke dan Naruko tidak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan kesalahan pahaman ini. Sasuke masih memegang piyama yang dia ambil, sementara Naruko membeku di posisi sebelumnya dan ketika ia menoleh kearah kanan tepat diatas ranjang- bra warna biru muda lupa ia kenakan kembali saat melepaskannya ketika melamun didekat jendela.
Sasuke mengikuti arah pandangan Naruko- Sasuke menelan ludahnya sendiri sampai terdengar suaranya oleh Naruko.
"Awas kau, nanti kalau berfantasi ya..," kata pelan Naruko ke Sasuke yang membalas dengan anggukan santai.
Brukh.
"Ibu!" Sasuke dan Naruko berteriak bersamaan karena Mikoto ambruk seketika itu juga setelah ikut melihat kearah bra Naruko yang diatas ranjang.
.
__ADS_1
.
.
.
"Apa-apaan kalian berdua ini! Sasuke kau harus jelaskan semua perbuatan bodoh mu itu!" Fugaku Uchiha sangat marah setelah mendengar segala cerita dari istrinya yang baru sadar dari pingsan.
Naruko sampai meringis ngeri walaupun Sasuke, yang terkena amarahnya ayahnya sendiri. Sasuke menjelaskan semuanya dari awal sampai bagaimana ibunya salah paham dengan apa yang dia pikirkan dan lihat.
"Aa, ayah, sudah-sudah ini semua bukan sepenuhnya kesalahan, Sasuke." Naruko mencoba menenangkan amarah Fugaku, langsung menghela nafasnya.
"Kau harusnya tidak terlalu ceroboh," kata Fugaku pelan.
"I-iya, jadi ayah tenanglah dulu ya."
Atas permintaan Naruko agar masalah itu tidak diperpanjang lagi. Ayah dan ibunya Sasuke, pun mengiyakan permintaan tersebut. Naruko melirik Sasuke, yang hanya diam berekspresi tegas seperti biasanya.
Kali ini Naruko mendapatkan pelajaran yang harus ia pikirkan lagi. Dia harus tidak bersikap ceroboh seperti saat di rumah sendiri. Naruko yang tidak enak terhadap Sasuke. Naruko menghampiri Sasuke yang sedang duduk dilantai halaman belakang rumahnya.
"Fiuhhh... Kita kena marah, aku sudah membelamu jadi kau harus mengatakan terimakasih kepadaku ini ya!"
"Hn?" Respon Sasuke ketika ia menoleh ke kiri untuk menatap Naruko yang sedang duduk disampingnya.
Fugaku dan Mikoto diam-diam mengintip dari pintu yang terbuka- sisi tembok di pintu.
"Mereka benar-benar semakin akrab ya, Sayang?"
"Mm, ini lebih baik dan rencana yang telah kupikir berhasil," gumam Fugaku menjawab istrinya dengan ambigu.
Naruko bercerita lelucon yang tidak lucu bagi Sasuke. Gadis itu tertawa dengan lelucon buatannya sendiri. Biarpun Sasuke hanya diam ada senyum tipis yang tak Naruko sadari.
Sasuke tersenyum bukan karena lelucon garing Naruko, namun karena alasan gadis disampingnya itulah yang lucu melebihi lelucon buatannya.
"Nah, terus saat aku dan keluargaku liburan ke pantai. Ayahku disuruh mengumpulkan banyak kepiti-."
Taph.
Naruko diam seketika saat laki-laki yang ada disebelahnya tertidur bersandar di pundak kanannya. Naruko hanya diam sembari melihat langit yang indah dengan warna oranye menunjukkan hari sore yang menjelang malam.
"Suasana ini terbalik!" Mikoto bergumam, Fugaku menoleh seketika.
"Maksudmu?"
"Apa yang maksudmu, Sayang. Harusnya Naruko yang bersandar bukannya, Sasuke."
"Oh, karena itu... Mungkin saja Sasuke yang menyukai Naru lebih dulu," jelas Fugaku. Mikoto hanya menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Suaminya benar-benar paham masalah yang berbau romantis seperti ini.
.
.
.
__ADS_1
.
Next Chapter 9