
Setelah bersiap-siap, Aku lalu mengambil tas, membawa HP, serta buku-buku yang diperlukan. Tak lupa Aku mengunci pintu rumah agar barang-barang rumah tetap aman. Waktu masih menunjukkan pukul 8 malam, suasana Komplek Nur cenderung sepi dan hening.
Hal itu dikarenakan masyarakat yang tinggal biasanya setelah jam 6 sore, mereka menetap di dalam rumah karena ada suatu kepercayaan yang mengatakan bahwa.
Siapa pun yang keluar rumah setelah jam 6 sore, maka hidupnya tidak akan membawa berkah.
Tentunya Aku tak peduli tentang itu semua bahkan Aku tak mempercayainya sedikit pun. Itu hanyalah mitos, tak ada yang bisa menjelaskannya dan tidak ada yang bisa membuktikannya pula. Aku berfikir cerita itu hanya dibuat agar anak-anak tidak keluar rumah saat malam hari.
Aku terus berjalan melewati gang sempit yang tak jauh dari rumahku. Tepat didepan gang terdapat sebuah kios yang menyediakan jajanan untuk anak-anak yang biasanya bermain di lapangan dekat kios tersebut. Aku menghampiri kios itu dan disapa oleh Pak Tomo pemilik kios.
"Mau ke rumah Nanda ya, Sarah? Biasanya Adek datangnya sore. Jarang Adek keluar malam-malam gini." Senyum ramah laki-laki paruh baya tersebut. "Iya Pak, mau ngerjain tugas, tadi sore ketiduran." Jawabku malu sambil menundukan kepala.
"Gak usah malu, Adek mau beli apa?"
"Mau beli susu coklat 2, sama beberapa cemilan untuk Sarah sama Nanda."
"Sebentar yah."
Lelaki itu lalu berjalan mendekati etalase dan mengambil beberapa barang yang kuminta. "Adek benar-benar dekat yah sama Nanda." Aku tersenyum. Nanda dan Aku sudah saling mengenal sejak lama. Ia adalah orang yang paling berharga untukku. Aku menyayanginya. Aku akan melakukan apapun untuknya.
Banyak hal yang telah kami lalui bersama, salah satunya adalah saat kami balapan menggunakan sepeda.
------------------------------------------------------------------------
Aku dan Nanda memutuskan untuk balapan di sebuah jalanan yang sepi agar tidak mengganggu orang-orang yang beraktifitas. Kami lalu menyiapkan garis start dan finish yang cukup jauh dari tempat kami berada. Setelahnya kami bersiap di garis start. Sebelum dimulai, Aku membeli beberapa snack dan juga obat-obatan di salah satu kios.
"Buat apa?"
"Nanti berguna kok."
"Kita cuman balapan doang, gak ngobatin orang sakit."
"Kau akan tau nanti."
Nanda pun berhenti bertanya. Ia tau kalau Sarah telah memperkirakan semua yang akan terjadi. Sarah adalah anak yang pintar. Ia tidak pintar secara akademik, tetapi ia pintar dalam hal strategi dan hal lain. Diumur yang masih belia, Sarah sering menyelesaikan konflik-konflik yang ada disekitarnya.
Tak jarang ia menyelesaikan konflik internal atau konflik-konflik berat lainnya. Ia sering disebut "Anak Ajaib" oleh orang-orang disekitarnya. Tapi walau begitu, Sarah tak pandai dalam hal pertemanan. Sampai saat ini, hanya Nanda yang merupakan satu-satunya teman Sarah. Itu pun Nanda harus bersusah-payah dahulu agar bisa akrab dengan Sarah.
Sarah... umur kita masih 5 tahun... tapi kau menakjubkan, Aku berharap bisa sepertimu...
"Nan? Kamu mikirin apa?"
Nanda tersentak dari tempat duduknya. Aku lalu tersenyum kearahnya dan membantunya berdiri.
"Ayo mulai!"
__ADS_1
"Okay"
Dengan cepat Nanda berlari kearah sepedanya yang berwarna ungu tersebut. Sesaat Aku melihat wajah bahagia yang terpancar dari wajahnya. Aku senang melihatnya.
Nan... Aku tak sebaik dirimu... suatu hari kau akan menyadarinya...
Kami telah bersiap di garis start dengan sepeda masing-masing. Kami pun memulai hitungan mundur dari 3... 2... 1... "Wusss" Sepeda kami pun melaju dengan cepat.
Kami berdua saling mendahului satu sama lain. Aku lalu menambah kecepatanku agar dapat mendahului Nanda. Tapi Nanda tak akan mengalah ia juga menambah kecepatannya.
Ahh.. tidak! Dia terlalu cepat!"
Benar saja seperti dugaanku. Nanda mengayuh sepedanya terlalu cepat hingga ia pun tercebur kedalam sebuah selokan besar. Aku yang menyaksikan kejadian itu pun tertawa terbahak-bahak.
Nanda marah kepada orang-orang yang telah membuat selokannya disini, sehingga ia tercebur kedalamnya. Aku hanya menyaksikannya sambil berusaha menahan tawaku. Karena berdiri terlalu pinggir, tiba-tiba saja Aku jatuh terpeleset kedalam selokan itu. Pada akhirnya kami pun terjebak di dalam selokan yang lumayan dalam.
"Yey ada temen!!"
"Sekarang gimana caranya kita keluar!? Sepi tau disini. Manjat?"
"Ehh!? Itu..."
Kami berdua pun terdiam dan memikirkan bagaimana cara keluar dari sini. Ada 2 pilihan, pertama teriak minta tolong tapi karena suara kami kecil jadi kemungkinan lolosnya hanya beberapa persen saja.
Kedua memanjat selokan ini tapi kami harus meninggalkan sepeda kami karena mustahil untuk kami bawa.
"Sakit..."
Aku menoleh kearah Nanda. Nanda duduk di salah satu batu yang paling besar dengan luka di kaki dan tangannya. Ia nampak terus memegangi bagian tubuhnya yang sakit sambil menahan tangis.
Sepertinya.. Aku harus mencari jalan lain..
Aku mengambil tas selempang kecil berwarna hitam di dekat sepedaku. Aku lalu berjalan mendekati Nanda yang berusaha menahan rasa sakitnya. Aku lalu mengeluarkan sebotol air mineral untuk membasuh lukanya sebelum memberinya obat.
"Perih.."
"Tahan yah. Ini juga salah kamu sih."
"I..Iya.."
Sesudah membersihkan lukanya, Aku lalu memberikan obat luka di area yang terluka. Setelahnya Aku menghansaplast area tersebut. Untuk area kaki, Aku memperbannya agar kuman dan bakteri tidak menginfeksi lukanya.
"Done. Gimana?"
"Udah mendingan.. Makasih..."
__ADS_1
"Bisa jalan?"
Nanda hanya terdiam. Aku memahami maksudnya. Aku lalu melihat sekeliling selokan ini. Selokan ini lumayan besar, banyak batuan tajam yang tersebar dimana-mana yang membuatku harus berhati-hati dalam melangkah.
Aku menyentuh dinding selokan. Dindingnya terbuat dari batu-batuan, jadi masih memungkinkanku untuk memanjatnya. Tapi, Nanda...
"Dindingnya dari batu-batuan... Tapi... Ini bakal susah buat dipanjat... Hmm..."
Aku berfikir keras. Berusaha mencari jalan lain. Aku lalu melihat sekeliling lagi dengan Seksama. Aku memperhatikan detail selokan ini.
Hmmm.. Sepertinya... Aku harus berfikir keluar jalur...
Aku lalu melihat beberapa tanaman pendek yang tumbuh di beberapa sisi selokan. Ada juga beberapa tumpukan sampah yang dibuang warga.
Aku tau harus apa..
"Nanda! Disini sebentar yah! Aku pergi sebentar. Ini obat dan makanannya."
"Eh!?"
Aku lalu tersenyum dan pergi membawa kedua sepeda kami.
"Nanda baik-baik saja. Aku yakin itu."
"Yah.. Ninggalin lagi.. Sebel.."
Nanda lalu melempar beberapa batu ke air yang membuat batu tersebut memantul.
Seperti melodi musik aja..
Nanda lalu memakan makanan yang diberikan oleh Sarah kepadanya. Lalu meminum air mineral yang juga diberikan oleh Sarah. Nanda bingung dengan sikap Sarah. Nanda benar-benar tidak bisa menebak tingkahnya maupun jalan pikirannya.
Nanda beranggapan bahwa Sarah seperti orang dewasa yang memiliki wujud anak berusia 5 tahun. Nanda tak pernah bertemu atau melihat anak setenang Sarah.
Bagi Nanda, Sarah adalah orang yang sangat berharga melebihi apapun. Nanda selalu dibantu oleh Sarah. Nanda juga sering berlindung dibalik punggung Sarah. Hal itu yang sering membuat Nanda merasa sangat bergantung dengan Sarah.
"Aku menyayanginya. Aku sangat menyayanginya. Aku berjanji.. Sarah... Suatu saat nanti.. Aku lah yang akan melindungimu."
Nanda lalu mengeluarkan sebuah liontin emas berbentuk kupu-kupu dari sakunya. Itu adalah hadiah persahabatan dari dirinya sendiri untuk Sarah. Mereka memakai liontin yang sama dengan motif yang sama pula.
Air mata pun mulai membasahi pipinya yang lembut. Nanda tidak tahu berapa lama lagi pertemanan ini akan bertahan. Semua memiliki akhir dan tidak ada seorang pun yang dapat menghindar dari itu. Nanda lalu memutuskan sesuatu hal, hal yang akan dilakukannya saat dewasa nanti.
Aku tak akan menghindarinya. Aku tak akan menghindari akhirnya. Aku tak tau sampai kapan kita bertahan...Sarah...
Aku sangat berharap... Aku melihat senyummu saat kita dewasa nanti
__ADS_1
------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa di rate, like, comment dan share yah. >_<