
Sekilas, Gadis itu nampak biasa aja. Namun kalau dilihat lebih teliti, Gadis tersebut memakai pakaian yang aneh. Pakaian itu tidak terlalu mencolok karena ia memakai hoodie sebagai penutupnya.
Kalau dilihat lebih seksama lagi, gadis itu tidak identik dengan ras atau suku tertentu. Mungkin hasil persilangan? Tapi... sepertinya bukan karena dia mencoba mengcover agar fisiknya tak terlihat. Dia juga mengcover mulutnya dengan masker hitam sehingga aku hanya melihat mata yang berwarna emas. Sayang sekali aku hanya bisa melihat matanya saja.
Gadis itu berambut pirang emas dengan kulit berwarna putih susu. Seperti orang bule, tapi bukan itu yang membuatku merasa aneh. Melaikan telinganya yang aneh. Sulit untukku mendeskripsikan telinganya. Telinganya mirip elf seperti di cerita fiksi, tapi tidak bisa juga disebut telinganya mirip elf.
Ahh Aku bingung.. Apa mungkin dia operasi? Kayaknya gak mungkin deh... Bisa dibully nanti dia.
Tapi kalau memang benar dia operasi, dia akan terkena efek samping dari operasi tersebut mengingat umurnya juga sepertinya masih muda dan juga dia tidak akan mendapatkan keuntungan apapun selain fisiknya seperti tokoh fiksi.
Tak terasa, Aku sudah berada di depan rumah. Aku pun masuk dan menaruh sepatuku di rak lalu setelahnya Aku menuju dapur untuk memasak makanan. Aku berfikir untuk memasak telur dan mie karena makanan itu cukup mudah untuk dibuat dan rasanya juga enak.
Ketika ingin mengambil telur di dalam kulkas, Aku melihat sepucuk surat tertempel di pintu kulkas. Surat itu ditulis oleh mamah.
Mamah pergi selama 2 hari, semua makanan dan bahannya sudah tersedia.
Hanya itu yang tertulis. Aku lalu menghela napas tak peduli dan segera mengambil telur yang kuperlukan.
Aku hanya memiliki mamah sebagai anggota keluarga dan itu pun kami tak akrab satu sama lain. Ia juga jarang di rumah. Untuk papah... Jangan di tanya. Aku pun tak tau dimana ia berada sekarang. Mamah sama sekali tutup mulut apabila Aku bertanya, lama-kelamaan Aku juga mulai bosan bertanya kepadanya.
Setelah memasak semuanya, Aku membawa mie dan telor yang kumasak menuju ke kamar. Aku lalu makan dengan lahap. Setelah menyelesaikan makanku, Aku menjatuhkan diri di atas kasur yang empuk. Aku benar-benar cape atas semua yang terjadi.
Aku menatap plafon rumah dengan muka lesu seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya. Aku memikirkan Gadis yang kutemui tadi sore. Gadis yang aneh dan hebatnya Aku lupa menanyakan namanya. Aku benar-benar kesal, harusnya tadi Aku mengikutinya agar rasa penasaranku terbayarkan.
"Kenapa bisa lupa sih! Ahh.. Tapi nanti juga kami akan bertemu lagi dan sepertinya hanya Aku yang menyadarinya." Aku tersenyum puas dan berfikir bahwa sebentar lagi sesuatu yang menarik akan menarikku dengan sendirinya tampa harus ku pancing.
"Aku benar-benar tak sabar!!"
Tiba-tiba saja, rasa kantuk menyerangku secara tiba-tiba membuatku tampa sadar mulai tertidur.
------------------------------------------------------------------------
"Dimana ini?" Aku terbangun di sebuah tempat tak dikenal. Tempat yang benar-benar asing. Aku mulai melihat sekeliling, berusaha menangkap apa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1
Ahh.. selalu saja seperti ini.
Tempat ini penuh dengan kristal, bunga, dan benda-benda yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Tentunya semuanya aneh dan ada beberapa yang mengerikan. Sepertinya Aku berada di sebuah taman?
Tak jauh dari tempatku berdiri, Terdapat sebuah istana besar dan megah yang terbuat dari beberapa bahan. Tentunya Aku tak tahu apa saja bahan-bahan yang diperlukan untuk membangun istana itu. Aku hanya bisa mengenali kristal dan itu pun Aku masih ragu.
Terdapat juga pepohonan dan tanaman aneh yang menghiasi tempat ini. Di tengah-tengah taman ini, terdapat air mancur yang sangat indah dengan air yang mengalir seperti berlian.
Tak jauh dari sana, terdapat sebuah gazebo yang sangat cantik serta meja untuk melangsungkan pesta minum teh. Mirip banget dengan cerita dongeng.
"Ntah bagaimana caranya Aku bisa masuk ke sini. Selalu saja seperti ini."
Sekilas mataku menangkap sesuatu. Di dekat gazebo tersebut, terdapat seorang anak kecil yang berusia sekitar 10 tahun sedang berdiri sambil memainkan kedua pedangnya. Pedang panjang dan tipis disertai dengan ukiran yang sangat indah menghiasi pedang tersebut.
Ahh.. Dia sadar.. Dari tadi... Mungkin.. sejak Aku hadir disini.
Aku tau hal itu, dia hanya berpura-pura tak tau. Dia hanya bersandiwara. Dia menunggu reaksiku sambil memainkan pedangnya. Aku tersenyum kearahnya. Dia tidak melihat karena posisiku membelakangi tubuhnya. Namun, ia berhenti memainkan kedua pedangnya.
"Ahh.. seperti biasa..yah.."
"Kak kapan main lagi denganku..? Pedangku bisa berkarat loh.." Anak itu lalu melepaskanku dan berdiri di depanku. "Aku kangen..."
Aku mematung, tak tau harus memberikan reaksi apa ke dia. Pikiranku penuh dengan pertanyaan yang terhubung menjadi satu.
Aku berusaha tetap tenang karena ekspresi anak itu yang membuat jantungku ingin berhenti berdetak. Aku tak mengenalnya, tapi kenapa dia memanggilku kakak?
"Ya. Apa maumu?!"
Anak itu hanya tersenyum sinis. Dia senang karena Aku menjawab itu. Dia lalu berlari-lari mengelilingiku layaknya sedang bermain kejar-kejaran.
Anak ini.. Ku harus hati-hati. Dia lebih pintar dan berbahaya dariku.
Aku terus memperhatikan tingkah-lakunya yang sangat kekanakan. Aku berusaha mencari informasi sebanyak apapun darinya. Semua yang dia lalukan, Aku analisa semuanya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, dia berhenti.
Suasana yang ceria pun berubah menjadi menyeramkan. Langit yang cerah pun berubah menjadi merah disertai kabut merah yang seakan mulai merasuki tubuhku. Semua yang ada disini berubah menjadi merah seperti darah. Tempat ini telah tercover oleh darah segar seutuhnya.
"Aku senang bertemu dengan Kaka, Aku sangat bahagia! Tapi.. Kakak melupakanku.. Aku sedih. Kakak sangat hati-hati yah. Aku kagum, Tapi sayangnya.. Semua telah sesuai dengan alur yang kumau. Hehe."
"Tampa diberitahu pun, Aku sudah tau. Sendari awal, Aku mengikuti alurmu. Sampai sekarang."
"Ahh.. Aku senang Kakak menyadarinya. Tapi.. Aku hanya sebentar. Suatu saat nanti, Aku menunggu."
Ia lalu dengan cepat memotong kakiku hingga putus. Aku terjatuh ke tanah dengan sangat keras. Aku berusaha melihat kakiku yang terpotong. Darah segar mengalir dari sana. Kulitku mulai memucat. Aku kaget ia akan melalukan ini, Aku tau dia akan menyerangku setelahnya. Tapi tetap saja, Aku belum siap.
"Kau sangat baik yah..."
"Hehe, makasih. Aku kecewa karena kaka gak ingat. Tapi.. Aku akan datang lagi nanti. Maaf waktuku sudah habis. Tunggu Aku, Kak."
Pedangnya lalu membelah tubuhku menjadi dua bagian.
------------------------------------------------------------------------
"Hahh?!"
Aku lalu bangun dengan keadaan berkeringat dingin disekujur tubuh. Napasku tak beraturan. "Mimpi... hanya mimpi.. Tapi terasa nyata." Aku memegang kakiku, Aku merasakan sakit disana. Tapi tak ada satu pun bekas sayatan disana.
"Jadi rohku yang terluka yah?"
Aku berusaha menenangkan diri dengan meminum segelas air putih. Setelah tenang, Aku lalu mencoba menarik kesimpulan. Mimpi itu punya maksud tersendiri. Otakku berusaha merekam semua yang terjadi dan melahirkan banyak pertanyaan bercabang-cabang. Aku lalu merangkai semua pertanyaan itu dan menjadikannya satu pertanyaan.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku belum bisa menyimpulkan apa-apa karena kekurangan informasi yang valid. Aku lalu memutuskan mengerjakan PR matemantika di rumah Nanda. Aku mengirim pesan kepadanya dan langsung dibalas dengan cepat. Kebetulan masih pukul 07.00 malam jadi Aku tak akan mengganggunya apabila datang jam segini. Sekalian Aku menceritakan mimpinya, walau tidak semua yang akan ku ceritakan nanti.
------------------------------------------------------------------------
__ADS_1
Jangan lupa di rate, like, comment dan share yah. >_<