
Chapter 45
.
.
.
.
"Bibi," kata Shion.
"Kamu kenapa diluar? Kenapa Tidak masuk saja?"
"Saya, baru mau pulang..."
"Ooh, bibi kira Shion mau mampir."
"Naru."
"Apa, Sayang?" tanya Naruko disusul oleh senyumnya.
'Hnn, manisnya,' kata batin Sasuke.
"Bibi, saya pamit dulu."
"Aah, iya. Kamu tidak mau mampir dulu."
"Lain kali, Bi."
"Baiklah, lain kali mampir ya?"
"Iya..."
Shion pamit pergi bersama perasaan kecewanya. Naruko merasa kasihan karena Menma selalu menolak gadis yang baik seperti Shion. "Sasuke, menurutmu anak kita cocok dengannya tidak?"
"... Mungkin cocok."
"Mungkin?"
"Hn."
Ketika Naruko masuk kedalam rumah yang pertama menyambutnya adalah kedua anak kembarnya, Nasuke dan Saruto. "Mama, aku kangen..."
"Saruto, anak mama yang paling tampan kangen apanya dari mama?"
"Kangen tiap pagi dibuatkan jus pisang...jadi ingin jus pisang."
Naruko tersenyum garing, ia kalah dengan jus pisang.
"Na-nanti mama buatkan."
"Ma, aku tadi belajar buat cerita!"
"Cerita?" beo Naruko penasaran. "Cerita tentang apa, yang Nasu, buat?"
"Cerita cinta antar remaja!"
"Wah, bagus!"
"Jelas bagus! Dua murid laki-laki Shinobi yang menjalankan misi bersama dibumbui kisah cinta mereka."
Naruko langsung syok mendengar ucapan Nasuke.
"Ho-homo...lagi..."Naruko menoleh kearah Sasuke yang langsung angkat kaki seakan menyerahkan Nasuke agar dilimpahkan ke sang istri.
"Sasuke, bagaimana ini?"
"Hn? Kau ibunya, kau yang urus wataknya."
'Sialan, giliran buatnya kau semangat sekali."
__ADS_1
Naruko menasehati agar Nasuke tidak membuat cerita seperti itu dan berhenti membaca buku homoseksual lagi. Nasuke hanya diam sembari cemberut karena ibunya mulai tak mendukung yang Nasuke suka.
"Ma! Aku punya sesuatu untuk Mama!"
"Sesuatu?"
Saruto mengajak ibunya ke kamar. Saruto menunjukan gambar, kalau ia akan membuat kebun yang dipenuhi pohon pisang. Naruko melihat dan mengamati dengan seksama biarpun gambar Saruto sangat sulit dipahami. "Ooh, jadi nanti Saruto, mau berkebun?"
"Iya, iya...aku mau buat kebun pisang yang luas, seluas Konoha!"
"Wah, apa tidak terlalu luas..." Naruko sedikit khawatir dengan anaknya yang satu ini seperti berbanding terbalik antara sifat dan fisiknya.
'Apa akan baik saja ya...ini salahku juga terlalu memanjakan anakku,' kata batin Naruko.
Naruko Jadi sedikit pusing karena terlalu banyak berpikir, ia beranggapan ini karena ia sedang hamil. "Mama mau pergi ke kamar dulu...Saruto main dengan Nasuke, ya."
"Iya, Ma!"
"Pintar, jangan nakal."
'Susahnya harus bersikap seperti ini tapi demi mereka juga, kalau aku seperti saat di rumah Ibu, bagaimana jadinya nanti...ahh, aku ingin kembali ke masa remaja ku,' kata batin Naruko.
Menma buru-buru menuruni anak tangga dan menuju kearah Naruko. "Bu, aku rindu sekali, Ibuku tercinta yang paling cantik sedunia!" Naruko hanya bisa pasrah di peluk anaknya yang paling besar dan manja. "Bu, lama sekali pulangnya? Apa Ibu tak mencintaiku lagi...hiks...teganya..."
Naruko membelai rambut hitam Menma. Anak nya yang satu ini paling aneh dan paling sulit di mengerti karena suka menggodanya namun tak pernah menggoda gadis sebayanya.
"Tadi temanmu, mencarimu...Shion."
"Mmm...aku sudah tau, Bu."
"Hah? Kenapa tidak kamu ajak masuk ke rumah?"
"Untuk apa?"
"Hei, nak, dia suka kamu loh, Sayang...Menma pasti paham kan? Menma kan paling peka?"
"Aku tau...Shion suka aku dari dulu Bu, dia kekanak-kanakan."
"Maksud Ibu apa? Aku jahat?"
Naruko memegang kedua pundak Menma, dan menjelaskan maksud dari kata-katanya tadi. "Ibu tidak suka Menma seperti ini terus...seseorang yang mencintai ketika cintanya tak terbalas itu menyakitkan, Menma tak memiliki kekasih, seharusnya masih bisa mempertimbangkan untuk membalas perasan cinta Shion 'kan?"
"... Tidak..."
Menghembuskan nafas dan menatap tegas, Naruko melanjutkan ucapannya. "Dulu Ibu pernah tak membalas perasaan seseorang yang baik kepada Ibu, tapi Ibu punya alasan menolak karena mencintai Ayahmu..."
"... Begitu ya... Tapi, aku tidak suka dan tidak mencintai Shion, Bu..."
"Ibu dulu juga tidak menyukai dan mencintai Ayahmu...kami dijodohkan...lama-kelamaan Ibu mencintai Ayahmu, ceritanya panjang kalau di ceritakan banyak membuang waktu, hehe," kata Naruko, malu dan hampir kembali ke watak aslinya.
"Bu, apa aku boleh jujur tentang sesuatu?"
"Boleh, mau jujur tentang apa?"
"Sebenarnya, aku mencintai Ibu, mencintai ... Sebagai seorang wanita bukan seperti cinta anak ke Ibunya..."
"Ooh, terus...?"
"!? ... Ibu tidak terkejut?"
"Tidak... Ibu, sudah tau."
"Su-sudah tau! Sejak kapan Bu!"
"Sejak kapan ya...sudah lama..."
"..."
Naruko melepas pegangan di pundak dan menyentuh bibir nya sendiri dengan telunjuk.
"Cara melihat Menma mirip seperti seseorang.
__ADS_1
Memperhatikan dengan cara yang aneh...karena sudah lama mengenal sifatnya jadi hafal...caranya melihat dengan cinta yang tak di ucapkan."
Menma tak mengerti maksud dari Ibunya yang rumit. Menma hanya tahu kalau seseorang itu pasti ayahnya sendiri. Beberapa detik kemudian Menma baru mengerti maksud Ibunya kalau cara Menma memperhatikan seperti ayahnya. "Aku kira Ibu orang yang tak peka."
"Mmm...itu dulu, sekarang beda."
Sasuke mendengar semua percakapan Naruko dan anaknya, Sasuke hampir tak percaya kalau pola pikir Naruko lebih dewasa. Sasuke seperti dibohongi istrinya sendiri yang menyembunyikan sifat dewasanya itu ditambah lagi, ia ketahuan kalau memperhatikan seperti itu. Sasuke hanya mengelus dada dan bersandar di dinding. 'Ternyata kau bisa dewasa juga Naru.'
Sasuke tak sadar akan perubahan istrinya sendiri. Naruko lebih sering bersikap sama seperti dulu pertama mereka berdua kenal sampai sekarang, dan bersikap seperti seorang istri yang lembah lembut ketika dihadapan anaknya. Sasuke berpikir cukup lama dan kenapa ia sampai tak tahu perubahan pola pikir istrinya sendiri kenapa juga Naruko tak pernah menunjukan sikap seperti itu? Sasuke butuh jawaban untuk menghilangkan rasa penasaran.
Ketika larut malam hanya ada mereka berdua di kamar bersama keheningan. Sasuke memberi tahu semuanya bahwa Sasuke mendengar percapakan itu dan tak masalah dengan pola pikir anaknya yang sudah sadar kalau rasa cintanya itu salah.
Naruko benar-benar malu karena ketahuan dengan pola pikir rumit dan mirip orangtua yang begitu bijak menentukan sesuatu. "Kau pintar pura-pura bodoh Sayang."
"Sa-sakit, jangan cubit pipiku, Sasuke!"
"Kenapa pura-pura bodoh!"
"Aah, baiklah aku jujur..." Naruko menarik nafas dan memeluk Sasuke. "Karena aku cuma bisa bersifat manja kepadamu Sayang...lelah loh, jadi lemah lembut terus rasanya tekanan batin hehe...maaf yaa...bukannya aku berbohong."
"Hn."
"Aduh, dia marah?!" Naruko berbisik. "Gantikan aku jadi Hokage ya? Waktu di rumah Ibu memang awalnya aku niat tapi setelah aku lihat Shion jadi berubah pikiran."
"Hn, kenapa?"
"Kenapa? Kau kenapa jadi bodoh Sayang?"
"Bodoh?" Sasuke penasaran kenapa ia yang selalu di cap jenius dikatai bodoh oleh istrinya sendiri.
"Aku pikir lebih memilih menjaga anak saja, seperti katamu ada benarnya kalau aku lebih di rumah saja...anak kita juga suatu saat menikah, aku kepikiran ketika melihat Shion."
Sasuke hanya tersenyum karena Naruko bisa memikirkan hal seperti itu. "Kau benar-benar sudah jadi seorang istri Sayang."
"Ooh, jelas. Aku kan sudah punya 3 anak, aku beda denganmu Sayang, yang cuma mikirin buat anak terus tiap malam."
"Ha!?"
"Hahahahah..."
Sasuke benar-benar kesal karena sindiran Naruko sangat keterlaluan walaupun kenyataan itu benar adanya. "Hn, malam ini puaskan aku sayang."
"Celaka matilah aku, kuda liar ku mulai lagi..."
"Cih."
"Hahahaha, jangan marah, iya, ayo kita mulai Sayang, senyum ya, ya?"
"Sudah."
"Pintarnya cintaku! Sini aku bukan baju mu Sayang."
"Cepat."
"Sabar!"
.
.
.
.
Next Chapter 46
Note : Eak, Sasuke kalah dewasanya :v
Aku hanya ikutin perkembangan Naruko aja di posisi udah punya 3 anak ditambah selalu gurusin anaknya dan semua kebutuhan rumah, pola pikir yang disembunyikan Ibu-ibu :v
Ini namanya perkembangan sifat karakter karena berjalannya waktu...sorry baru aku bongkar sekarang aahaha.....
__ADS_1