
Chapter 43
.
.
.
.
"Hueekhh..hueeekhh..."
Di pagi hari Naruko mual-mual dan ia yakin pasti akan hamil lagi. Naruko tidak menyangka akan hamil lagi diusiannya yang sudah 38 tahun. Naruko tak bisa menutupi rasa malunya kali ini.
"Aah, Sasuke kenapa ... Kau buat aku hamil lagi..." Naruko membuka pintu kamar mandi sembari mengeluh dalam hatinya, 'malu sekali sudah tua hamil...'
"Naru, apa kamu mual lagi?"
"Ibu dengar ya? Bu, apa wajar kalau aku punya anak diumur 38 tahun?"
"Wajar saja...biarpun sedikit memalukan."
"Aah, benar yang kupikirkan!"
Kushina yang sekarang berusia 60 tahun, ia masih terlihat cantik walaupun ada beberapa keriput di wajahnya. Naruko buru-buru ke halaman rumah untuk menemui Sasuke. Sasuke yang sedang menikmati teh hijau, ia sampai tersedak karena Naruko berteriak.
"Bodoh, sudah kubilang keluarkan diluar, aku jadi hamil lagi kan!"
"Uhuk! Hamil?"
Sasuke sengaja melakukan itu tapi tak menyangka kalau Naruko akan hamil lagi di usia yang terbilang sudah tua.
"Kenapa diam! Kau harus minat maaf padaku! Aku malu sudah tua hamil! Kushina geleng kepala karena kelakuan Naruko sama sekali tak berubah setiap berada di rumah kecuali di depan ke tiga anaknya, Naruko tampil bagaikan ibu yang lemah lembut.
"Ehem... Aku minta maaf."
"Bagus!"
Naruko tersenyum lebar ciri khas nya dan memeluk Sasuke. "Sasuke, aku malu sudah tua punya anak lagi." Sasuke membalas pelukan dan menjawab, "sudah takdirmu punya anak lagi, Naru."
"Aissshhh..."
Kedua pasangan suami istri yang harmonis sampai usia mereka tak muda lagi. Kushina berharap kebahagian anaknya dan menantunya akan selalu seperti sekarang. Kushina akhir-akhir ini sangat mengawatirkan suaminya yang mulai sakit-sakitan karena usia lanjut dan sibuk dengan pekerjaan. "Naru, Sasuke, kalian bisa membantu ibu tidak?
"Ibu mau minta bantu apa?" Naruko penasaran karena ibunya tak pernah meminta bantuan sama sekali, dan ini jadi yang pertama kalinya. "Sebenarnya, ayahmu sering mengeluh dengan kesehatannya...mungkin kalian mau membantu ibu dengan menggantikan posisi ayah kalian jadi Hokage."
Sasuke dan Naruko saling menoleh berniat ingin membantu Kushina yang menunjukan rasa cemas nya dari ekspresi wajah. "Sasuke apa kau mau?"
"Tidak." Sasuke menolak pertanyaan Naruko yang menyarankan untuk jadi Hokage secara tidak langsung. Kushina, Naruko mencari solusi siapa yang cocok menggantikan Minato yang menjabat sebagai Hokage. "Bu, kalau Kakashi bagaimana?"
"Tidak cocok lagian sudah tua."
"Iya juga ya 50 tahunan."
"Konohamaru?"
"Masih bau kencur."
"Iya ya masih belum ada pengalaman."
Sasuke hanya diam sembari mendengarkan percakapan ibu dan anak yang tak menemukan titik temu untuk memutuskan.
"Bu, kalau aku saja bagaimana?"
"Naru?"
"Hnn!"
"Kan aku lebih kuat dari ayah jadi yang paling cocok cuma aku kan?"
"Baiklah, Naru saja jadi Hokage."
"Aku tidak setuju." Sasuke angkat bicara menolak keputusan mertuanya. Sasuke tak ingin Naruko akan selalu sibuk dan tak ada waktu untuk bermesraan bersamanya.
"Kenapa? Aku kan paling kuat di Konoha?"
"Kau sedang hamil."
"Tapikan habis melahirkan bisa kan?"
"Tidak."
"Sasuke, aku ingin jadi Hokage juga siapa tau itu cocok denganku."
"Naru, lebih cocok masak di dapur."
"Sialan kau suami kejam."
Naruko dan Sasuke berdebat karena Naruko ngotot ingin jadi pengganti ayahnya sebagai Hokage. Kushina hanya tersenyum melihat perdebatan itu sangatlah lucu diusia mereka berdua yang bukan remaja lagi.
Sementara yang mereka khawatir kini sedang mengeluh ketika baru selesai menyetempel semua laporan yang ada di meja. "Lelah sekali hari ini..."
Kakashi meletakan segelas air dan 3 butir pil obat untuk Minato minum.
__ADS_1
"Terimakasih Kakashi."
"Saya gantikan mengerjakan semuanya, untuk hari ini. Guru istirahat saja."
"Ah, kau kebiasaan lagi memanggilku seperti itu."
"Maaf, tapi tak ada orang lain jadi saya pikir tidak apa-apa memanggil guru."
"Haha...benar juga tak apa terserahmu saja." Kakashi membantu Minato untuk keruangan istirahat pribadinya tak jauh dari kantor Hokage. "Sepertinya aku harus cepat pensiun ... Aku sudah tua untuk melakukan pekerjaan seperti ini."
"Saya kira juga begitu."
Kakashi kembali ke ruangan Minato untuk mengambil obat dan segelas air yang ia tinggalkan. Minato istirahat di tempat tidur setelah meminum obatnya. "Jangan beritahu ini pada siapapun, sebenarnya aku mulai lelah."
"Guru..."
Kakashi menggantikan pekerjaan Minato. Yamato yang baru masuk kantor Hokage, sampai tersenyum bangga karena sahabat baiknya dengan senang hati menanggung beban berat Minato.
"Kau cocok sekali duduk disitu."
"Hah? Aku hanya mengerjakan tugasku sebagai wakil." Kakashi memang berniat ingin seperti Minato suatu saat nanti namun ia tak ingin mengatakan kepada siapapun kalau menjadi Hokage adalah cita-citanya dari kecil. "Ada keperluan apa kau tumben sekali datang."
"Ada sesuatu yang serius, aku curiga kalau Akatsuki masih ada."
"Ada? Bukannya mereka sudah hilang? Kabarnya anggota mereka membubarkan sejak Naruko, mengalahkan Sasori dan Deidara waktu itu?"
"Mmm...tapi ada 3 orang yang dulunya jadi murid Jiraiya."
"Hah? Dari mana kau tau? Bukannya semua murid Jiraiya sudah kalah mereka terbunuh saat Danzo mengepung mereka?"
"Yah... Aku cuma dengar kabar dari Itachi, Itachi kan selalu tepat memberikan informasi. Kau tau sendiri itu."
"Jadi Itachi masih sempat..."
"Itachi tetap bersiaga tanpa kau tau. Aku pun baru tau saat dia tadi menemui ku."
"Jadi begitu...murid Jiraiya ya.."
Jiraiya yang Kakashi pikirkan adalah seorang Sannin, yang meninggal setelah Kushina melahirkan Putrinya. Penyebab Jiraiya meninggal karena penyakit usianya yang sudah lanjut.
"Begini saja, kau bantu Itachi menyelidiki kebenarannya."
"Baiklah aku akan menyusul Itachi kalau begitu." Yamato pamit dan lekas menemui Itachi di rumahnya. Kakashi menekan pelipis matanya karena tak menyangka kalau murid Jiraiya masih hidup dan bergabung dengan anggota seperti Akatsuki.
"Sebenarnya apa yang mereka pikirkan sampai bergabung dengan Akatsuki?"
Pekerjaan yang semakin menumpuk namun Kakashi masih bisa untuk menyelesaikannya, setelah itu ia menumui Minato dan mengantarkan Minato pulang dengan cara di gendong. "Maaf merepotkan mu lagi, Kakashi."
"Tidak apa-apa Guru santai saja dan lanjut istirahat."
"Terimakasih, kau turunkan aku dekat rumah saja."
"Baik."
Minato tak ingin Kushina tahu kalau keadaanya semakin memburuk sampai tak ingin siapapun tahu. Jika masih ada Senju Tsunade mungkin Minato akan minta bantuan beliau namun itu tak akan mungkin terjadi karena Tsunade tak pernah ada kabarnya lagi. "Kushina?"
"Aku menunggumu pulang, Sayang."
"Harusnya kau tidur saja..."
"Bagaimana aku bisa tidur, kau kan belum pulang?"
"Kau ini selalu sama saja tak berubah sedikitpun, aku sampai lelah menasehati mu."
"Ara~ aku kan istri yang setia pada suamiku."
"Haha.. Dimana Naruko dan Sasuke? Mereka sudah tidur?"
"Baru saja tidur."
Kushina mengajak suaminya untuk ke kamar. Wajah Minato benar-benar terlihat pucat karena kelelahan. Minato langsung merebahkan di ke tempat tidur ia sampai enggan untuk mandi. Kushina merasa harus cepat bertindak mencari seseorang yang cocok mengentikan kesibukan suaminya. Kushina tak ingin lebih lama lagi melihat Minato kelelahan seperti sekarang. "Tidurlah Sayang."
"Aku benar-benar merasa semakin tua kalau kau bicara seperti itu."
"Kenapa begitu?"
"Hanya merasa saja," kata Minato.
"Aku lepaskan jubah mu ya?"
"Astaga, aku sampai lupa. Tolong ya Sayang."
"Iyaa..."
Sementara di lantai 2 kamar yang Naruko dan Sasuke gunakan, Sasuke benar-benar suami yang tak pantas untuk di contoh, suami yang mesum suka memaksa istri nya. "Sasuke, aku lelah."
"Aku belum lelah."
"Hah, jadi kau harus lelah dulu baru kita tidur?"
"Hnn," sahut Sasuke. Naruko menepuk jidat nya sendiri karena kelakuannya Sasuke sudah kelewatan. "Kau benar-benar suami terburuk di dunia Sayang."
"Aku tidak peduli."
__ADS_1
"Dasar egois kau jelek!" Naruko mendepak Sasuke sampai terjatuh dari tempat tidur. Sasuke membalas dengan menggelitik pinggang Naruko. "Hahahaha, ampun Sasuke nanti aku ngompol karena banyak tertawa! Haahaha.."
"Hn, hukuman buatmu, Sayang."
"Hahahaha ampun! Ahahahaha..."
"Hn, rasakan kubuat kau ngompol di kasur."
"Ahahaha...sudah geli nanti kalau aku ngompol sungguhan aku marah padamu, jelek!"
Naruko sampai menimpuk Sasuke dengan bantal, Sasuke tetap menggelitik pinggang Naruko sampai Naruko benar-benar tertawa lepas. "Hahahaha...." Tak selang beberapa lama yang Naruko takutkan terjadi, ia benar-benar melakukan hal yang memalukan.
"Kan, ngompol sungguhan jadinya!"
"Hnn, salahmu sendiri bocor."
"Sialan ini salahmu! Aku tadi bilang berhenti malah kau gelitiki terus!" Naruko mengusap wajah Sasuke dengan tangan, tangan Naruko sengaja ia basahi dengan bekas seni nya yang ada di kasur seketika itu juga Naruko kabur ke kamar mandi. "Hahahahaha!"
"Naru!"
Mereka berdua malah kejar-kejaran seperti orang gila tanpa busana, dan malu dengan tingkah sendiri pada akhirnya. Mereka berdua memutuskan untuk mandi bersama di kamar mandi, selesainya mandi, mereka memakai piyama yang baru Naruko beli kemarin dan mengambil kasur baru untuk tidur di lantai. Piyama putih dengan banyak gambar anak ayam berwarna kuning begitu terlihat mencolok di mata Sasuke.
"Cih, kau suka sekali piyama anak-anak."
"Lucu kan ini hobiku sejak kita menikah, hehe.."
"Hnn.." Sasuke mengecup bibir Naruko. Naruko hanya diam lalu tersenyum.
"Kau punya selera paling buruk Naru."
"Biarin, yang penting aku suka piyama model seperti ini." Naruko menarik selimut dan tidur membelakangi Sasuke, Sasuke memeluk dari belakang karena ia tahu kalau istrinya pasti tersinggung dengan ucapannya. "Sasuke, apa kau pernah bosan dengan semua yang kita lakukan?"
"Tidak."
Naruko berbalik dan bertanya, "kenapa tidak bosan?"
"Karena kau istriku, jadi tidak akan bosan." Sasuke menjawab dengan nada suara yang datar.
"Pintarnya bicara si jelek ini."
"Hnn."
"Sasuke, nanti anak kita namanya siapa?" Naruko mengalihkan arah pembicaraan. "Aku berniat kasih nama Kurama saja." Kurama yang tadinya asik tertidur sampai terbangun dan melotot terkejut dan tak percaya namanya akan dipakai sebagai nama anaknya Naruko yang semuanya punya pemikiran yang aneh-aneh.
"Hnn, terserahmu kali ini."
"Sungguh! Aku temui Kurama dulu ya!" Naruko memejamkan matanya untuk ke alam bawah sadarnya.
"Kurama aku pa-."
"JANGAN PAKAI NAMA KU UNTUK ANAKMU, SIALAAAAAN!" Kurama berteriak sangat nyaring sampai Naruko terhempas jauh kebelakang. "AWAS KALAU KAU PAKAI NAMA KU!"
"Aah, kau pelit sekali. Aku kan ingin anakku pakai nama Kurama."
"GRRRRR....."
"Eh, dia marah sungguhan?"
"KAU PIKIR AKU BERTERIAK SEPERTI INI TIDAK MARAH!"
Naruko menutup kedua telinga nya dengan tangan. Suara Kurama semakin menggelegar seakan bisa menghancurkan gendang telinga seseorang. "Aaaihhh...." Kurama sedikit menunjukkan senyum sebenarnya ia senang kalau Naruko punya pemikiran seperti itu, Kurama hanya takut nanti namanya akan rusak karena kelakuan anak Naruko pasti tidak jelas.
"Boleh kan?"
"Tidak."
"Ayolah Kurama, jangan keras kepala seperti Sasuke."
"Jangan samakan aku dengan Uchiha."
"Haaah...boleh tidak?"
"Tidak."
"Beh!"
Naruko angkat kaki dan pergi sambil berkata, "anakku nanti namanya Kurama!"
"Terserahmu saja."
Naruko tersenyum dan kembali ke dunia nyata. Sasuke yang menunggu cukup lama sampai memainkan surai pirang milik Naruko. "Sudah dapat ijin!" Sasuke sampai terkejut untungnya Sasuke tidak punya penyakit jantung.
"Hn, baguslah."
Naruko dan Sasuke memutuskan untuk lekas tidur dan kembali menghabiskan waktunya di rumah Uzumaki. Naruko senang setelah mendapatkan izin dari Kurama yang selalu tak jujur dengan apa yang ia suka. Naruko tahu hal itu karena sudah mengenal rubah ekor 9 itu dari Naruko masih kecil.
.
.
.
.
__ADS_1
**Next Chapter 44
Note : Yah efek sibuk dadakan jadi gak panjang ceritanya, hehehe... Cuma nyampe 2000 kata kurang dikit**.