
Chapter 22
.
.
.
.
Pukul 12 siang....
Minato benar-benar tidak ingin mempercayai ucapan istrinya sendiri yang berkata bahwa putrinya sedang hamil? Kenyataan yang sangat tidak ingin Minato terima harus ia terima dengan lapang dada.
Tanpa mengulur waktu dan berpikir, Minato langsung menuju kediaman Uchiha. Dia harus bersikap tegas jika perlu memberikan hukuman kepada pemuda yang nekat seperti Sasuke itu.
"Apa kau bilang?!"
Fugaku sangat terkejut ketika Minato memberitahunya. Sasuke yang menjadi kebanggaan keluarga melakukan hal yang kurang ajar seperti itu.
Mikoto sangat kecewa dengan putranya dan ia merasa kasihan kepada Naruko yang hamil diluar nikah. Benar-benar hal yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya Mikoto. Itachi yang paling terkejut ketimbang orangtuanya, ia tahu seperti apa sifat adiknya, tapi ia sama sekali tidak menyangka sampai seperti ini.
Sementara Naruko yang sedang duduk di ranjang kamarnya. Dia menutup rapat mulutnya dan tidak mampu membantah perkataan pedas ibunya. Dia sadar ini kesalahannya juga dan ia tidak ingin menyalahkan Sasuke karena ia mencintainya.
"Sudah Bu. Tolong jangan jelek-jelakan Sasuke lagi," kata lemas Naruko.
"Dasar kau ini benar-benar anak yang bodoh! Kau sudah dihamilinya, tapi tetap membelanya!"
Naruko menatap ibunya dengan tegas dan rasa heran ada dalam benak Kushina. Naruko tersenyum dengan polosnya dan seketika itu juga Kushina tidak mengerti dengan sikap putrinya sendiri.
Minato menatap tegas pemuda yang ada dihadapannya. Fugaku yang duduk disebelah Minato, pun ikut menatap dengan cara yang sama. Itachi berdiri disamping tempat duduk ayahnya.
Sasuke tidak menunjukkan rasa takut dengan tatapan amarah dari kedua orangtua itu. Dia tidak takut apapun meski ayahnya sendiri ikut menatap penuh amarah juga.
"Aku bertanya padamu sebagai ayah dan bukan sebagai pemimpin desa. Kau sampai melakukan hal diluar batas seperti itu, aku sangat tidak menerimanya!" Minato berkata tegas.
"Hn," sahut Sasuke menjawab.
"Sasuke! Jawab yang benar! Kau tau tidak sekarang sedang bicara dengan siapa!? Minato adalah pemimpin desa kita!" Fugaku langsung angkat bicara meluapkan emosinya secara terang-terangan tidak seperti biasanya.
"Aku tau itu ayah. Dan aku akan menjawab silahkan tanya saja," kata Sasuke datar.
"Haah~.... Dasar dia memang bodoh kalau bicara," gumam batin Itachi.
Fugaku, Minato dan Itachi melirik kearah Mikoto yang tiba-tiba duduk di meja-bangku. Mikoto sebenarnya tidak ingin ikut campur karena seorang pria harus mengatasi permasalah ini tetapi kalau ia hanya diam dan mendengar perdebatan yang tidak ada titik temunya ia merasa kasihan terhadap Naruko.
"Sayang, lebih baik kita menikahkan putra kita ini ya? Lagipula ia harus bertanggung jawab atas kesalahannya!"
__ADS_1
Sasuke hanya diam tak sedikitpun melirik ibunya yang duduk disebelahnya. Perasaan senang ia rasakan karena yang terlintas dipikirannya sampai pada ibunya. Fugaku memejamkan mata sembari bersendekap. Dia mengangguk sebagai balasannya setuju atas ucapan istrinya.
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu," kata Minato yang langsung berdiri dari duduknya.
Hanya tersenyum dan pamit pergi mungkin semua sudah tahu bahwa Minato sangat setuju dengan saran itu? Fugaku ikut menyusul dan mengantar Minato keluar rumah.
Minato hanya melirik sahabatnya yang hanya diam hingga sampai diluar halaman rumah.
"Minato, aku minta maaf atas kekurang ajaran anakku. Dan tolong sampaikan maafku untuk istrimu juga, pasti dia marah besar sekarang."
"Tenang saja aku pasti memaafkan Sasuke. Dan tentang masalah ini lebih baik kita mengikuti saran Mikoto. Lagipula rencana kita menjodohkan anak kita bukan? Walaupun akhirnya jadi seperti ini."
"....." Fugaku membungkuk. Dia sangat malu dan meminta maaf sedalam-dalamnya.
.
.
.
.
Minato kembali ke rumah dan menjelaskan semuanya kepada Kushina yang awalnya tidak terima dan menyalahkan suaminya yang tadinya seakan marah meyakinkan dan berakhir dengan kabar seperti itu.
Naruko yang menguping pembicaraan itu. Dia senang mendengarnya diikuti debaran dalam dada yang menggebu. Acara pernikahan akan diselenggarakan Minggu depan hanya dengan cara itulah agar tidak ada yang tahu bahwa Naruko sudah hamil lebih dulu sebelum menikah.
Seminggu pun berlalu dan acara pernikahan diselenggarakan. Banyak undangan yang telah disebarkan. Banyak yang datang di acara besar itu sampai hampir sebagian dari negara tetangga pun ikut hadir. Seorang Kazegake muda kini sedang memberikan selamat atas pernikahan Sasuke dan Naruko. Ucapan selamat sekaligus kado ia berikan. Dan tanpa ada yang tahu disaat itu pula Kazegake muda itu merasa sedih namun ia bisa menutupi dengan sikap tenangnya.
Sai dan Sakura merasakan hal yang sama. Bayangkan saja ketika seorang yang menjadi pujaan hati kini telah menjadi milik orang lain untuk selamanya.
Mereka berdua tahu bahwa yang mereka cinta telah memilih cinta yang lain, tapi hati tak bisa berbohong dan berat untuk menerimanya. Semakin mengikhlaskan semakin sedih lah yang mereka rasakan.
Seorang pemuda keluar dari tempat acara pernikahan dan dia lebih memilih menikmati sebatang rokok yang sedari tadi ia hisap. Walaupun mereka sangat dekat dari dulu, tapi ia sudah ikhlas jika semua ini akan terjadi. Sengaja menjauh adalah pilihan terbaik agar bisa melangkah maju. 'Merepotkan,' katanya sebelum ia menginjak puntung rokok yang terjatuh di tanah.
Naruko sangat senang dan bahagia. Dia tidak menyangka akan banyak yang datang dengan senyum yang kembali ceria, ia menyambut semuanya walaupun yang disebelahnya berekspresi masam entah apa penyebabnya.
Acara pernikahan disiang hari dan pestanya dimalam hari. Satu hari yang benar melelahkan bagi Naruko, tapi ia sangat bahagia karena ini akan terus ia ingat sepanjang hidupnya.
Sasuke terus berekspresi masam karena kelakuan Naruko yang dengan mudahnya memberikan senyuman kepada kenalnya. Walaupun yang disebelahnya kini sedang menunjukan tatapan tidak suka. Dan dibalas dengan tatapan polos nan bodoh khas Naruko.
Di kamar yang telah dihiasi dengan indah dan banyak kelopak bunga bertabur di atas ranjang kini beserakan di lantai. Kamar yang gelap karena lampu yang segaja dimatikan. Sepasang kekasih yang sudah resmi menjadi suami-istri kini sedang bercumbu mesra.
Jendela segaja dibuka, udara yang dingin amat terasa namun mereka berdua tak merasakannya. Kehangatan dari keduanya menghilangkan udara dingin itu. Suara nafas yang terengah-engah dan bulir keringat yang tak henti membasahi tubuh seakan memberi tahu sudah begitu lama mereka menghabiskan waktu untuk bercinta.
"Sasuke, aku lelah. Kita sudah 4 jam loh~... Kau mau aku mati muda ya?"
"Hn, baru 4 jam belum 5 jam Naru."
__ADS_1
"Li-lima? Jangan bilang mau nambah lagi!"
"Hn, kau pintar."
"Aaah, aku lelah Sasuke'ku yang mesuuum!! Cabul kasar pula!" protes Naruko yang sudah tak ingin melanjutkan.
"Hn, tambah."
"Lelah!"
"Tambah!"
"Huwaaah!"
Naruko tidak habis pikir kenapa Sasuke tidak bosan dengan kegiatannya ini? Jujur saja memang Naruko awal menikmatinya namun semakin lama ia merasa pegal disekujur tubuhnya. Dan mau bagaimana lagi pujaan hatinya benar-benar tak ingin memberinya untuk istirahat.
"Aaah!"
"Sssh.."
"Ssshh... Sasuke, Ssshh...ahh..sshh... Saa.. Aah~.."
Plak.
Naruko terpaksa menampar pelan suaminya yang kelewat itu. Dia cemberut kesal dengan bulir airmata membasahi pipinya.
"Kau egois, Sasuke."
Sasuke lekas berhenti dan memeluk Naruko. Bisikan kata maaf terdengar begitu merdu seketika itu pun, Naruko membalas pelukan.
"Hari besok masih ada, loh. Ayo kita tidur, Sayang."
"Hn."
"Issh, kenapa, hn? Harusnya bilang sayang juga!"
"Iya."
Naruko menarik selimut untuk ia pakai sendiri. Bersembunyi dibalik selimut karena kesal. Sasuke menyelinap dalam selimut dan memeluk dari belakang. Naruko memejamkan mata sembari menggenggam tangga Sasuke.
"Sasuke jangan mulai."
"Hn."
Pada akhirnya Naruko harus terima baru bisa tidur lelap saat pukul lima pagi karena ulah mesum Sasuke yang benar-benar keterlaluan.
Next Chapter 23.
__ADS_1
Note : Aduh kayaknya Sasuke, itu maniak hehe...