ETERNAL

ETERNAL
Chapter 41


__ADS_3

Chapter 41


.


.


.


.


7 tahun kemudian, jam 7 pagi di kediaman Uchiha.


"Monyet, kembalikan buku ku!"


"Enggak mau!"


Menma terbangun dari tidurnya karena mendengar suara kedua adiknya yang selalu gaduh. "Si monyet sama si otak udang, pagi-pagi sudah berisik saja." Menma meraih Smartphone berwarna hitam yang ada di dekatnya. Bocah 12 tahun ini selalu mengenakan headset setiap ingin tidur agar tak terganggu oleh suara kedua adiknya yang berisik setiap malam. 20 pesan masuk dari Sara, dan 40 pesan masuk dari Shion.


"Kenapa 2 bocah ini selalu nulis pesan aku cinta kamu sebanyak ini" Menma menghapus semua pesan yang ada di Smartphone miliknya. Uchiha Sasuke hanya berekspresi tenang biarpun kedua anaknya sedang ribut masalah buku yang Nasuke baca. Saruto merasa jijik dengan bacaan kakak perempuannya. Naruko mendesah pasrah dan tak menyangka punya anak kembar yang selalu gaduh. Tatapan mata tertuju ke arah Sasuke yang masih tenang sembari menyeruput teh hijau di pagi hari setiap sebelum sarapan.


"Ma, pisang ku mana!"


Aduh, mama lupa beli, hehe.."


"Pagi-pagi sudah minta pisang mirip monyet." Nasuke menyahut dan mendapat tatapan horror dari Saruto yang paling benci di ejek monyet.


"Dasar otak udang, pagi-pagi sudah baca buku tak normal," balas Saruto.


"Hee... Biarin suka-suka aku."


Di meja makan hanya tersaji roti tawar dan selai kacang. Saruto benar-benar menunjukkan ekspresi kesal karena tak ada pisang di pagi hari. "Bu, aku mau pisang."


"Pisang nya besok saja ya, Sayang."


"Enggak mau! Harus ada pisang sekarang!"


"Monyet makan pisang terusss!"


"Jangan panggil aku monyet, dasar otak udang mesum enggak normal!"

__ADS_1


"Hah, siapa yang enggak normal!"


"Kalian berdua berisik! Ini satunya minta pisang, pisang terus. Satunya baca buku aneh! Sasuke coba kau nasehati anakmu ini jangan cuma diam saja!"


"Hnn," Sasuke menjawab dengan santai dan tak tahu harus menasehati kedua anak seperti apa. Si jenius Sasuke sudah menjadi buntu ketika menghadapi kedua anaknya belum lagi Menma.


Menma dengan santai nya menuju dapur, membuka pintu kulkas. Cuma ada buah apel dan jeruk, sirup jeruk dan susu. Menma mengambil apel merah dan mengigitnya. "Bu, masak kare tidak?"


"Ini masih pagi. Ibu mana mungkin masak kare."


"Haah, padahal aku ingin kare." Menma melihat ibunya dari atas sampai bawah karena ibunya memakai celemek berwarna oranye cerah. "Bu, pakai celemek baru?"


"Eh, kok tau?"


"Ehem!" Sasuke berdeham disambut tatapan malas dari Menma. Menma paling suka memuji Naruko sampai Sasuke cemburu. Sasuke tak peduli biarpun anak sendiri kalau terlalu berlebihan bisa cemburu juga.


"Kak, aku ingin pisang, ayo kita beli." Saruto memeluk Menma sembari memelas.


"Pisang?"


"Kak, lebih baik beliin aku novel baru dari pada pisang." Nasuke ikut memeluk. Nasuke dan Saruto sangat manja kepada Menma yang baik hati dan perhatian terhadap kedua adiknya yang selalu minta yang aneh-aneh. Naruko memberikan uang kepada Menma untuk membelikan apa yang di inginkan  Saruto dan Nasuke. Menma tak bisa menolak kalau yang menyuruh ibu nya tercinta. "Menma tolong ibu ya, mau kan mengajak Saru dan Nasu keluar?"


"Iya Bu, asal dapat kecup bibir ya?"


"Ciee, kakak manja lagi." Nasuke dan Saruto mengejek Menma.


Naruko dengan mudah menuruti kemauan Menma. Sasuke melirik dengan tajam disambut senyuman mengejek dari Menma. "Ayo Nyet, kita beli pisang dulu."


"Huwaa...aku bukan monyet."


"Hihi...kasihan monyet nangis."


Menma pergi keluar mengajak adiknya pergi. Naruko akhirnya bisa bernafas lega karena Menma mudah diminta tolong biarpun selalu minta di kecup dulu. Sasuke beranjak dari kursi dan menghampiri Naruko yang langsung mendapat rangkulan di pinggul. "Sa, Sasuke ini masih pagi."


"Hnn." Sasuke menatap dengan tajam karena cemburu. "Dasar aneh, kau pasti cemburu sama anak sendiri lagi."


"Anak itu pantas dicemburui."


"Hehe... Salah sendiri kau mesum jadinya punya anak mesum juga."

__ADS_1


Sasuke memalingkan wajahnya karena ucapannya Naruko benar. Mungkin karena watak mesum Sasuke menurun ke Menma. Sasuke mengajak Naruko untuk jalan-jalan keluar, mereka tidak pernah kencan semenjak punya anak. Naruko senang dengan ajak Sasuke, Naruko berniat ingin pergi ke makam Abelia Victor sebelum mereka berdua jalan-jalan.


Jalan desa tak begitu banyak berubah setiap Naruko memperhatikan sekitar. Naruko tak menyangka akan punya suami dan 3 orang anak, padahal dulu dia tidak punya pacar ingin punya pacar pun susah selalu ditolak. Sasuke hanya melirik heran sejak tadi Naruko senyum-senyum tidak jelas sembari bergumam sendiri.


"Sasuke kita ke toko bunga dulu."


"Hnn."


Di depan toko bunga Yamanaka. Sai sedang bersama anaknya yang sibuk melihat-lihat bunga yang terpajang di depan toko. Sai menikah dengan Ino, 5 tahun yang lalu dan mereka berdua di karuniai anak laki-laki usia 4 tahun bernama Inojin. "Wah, ayah yang baik. Pagi-pagi sudah bermain sama anak."


"Oh, Naru? Tumben kesini."


"Hehe, aku mau beli bunga."


Sai melihat ke arah Sasuke yang membalas dengan tatapan dingin ciri khasnya. Inojin sampai takut dengan tatapan mata Sasuke. Inojin bersembunyi di belakang Sai. Naruko menjitak pelan kepala Sasuke agar Sasuke tidak melihat anak kecil seperti pembunuh. Naruko tersenyum ketika menoleh ke arah kiri sebelum masuk ke dalam toko untuk menyusul Sasuke, Sai dan Inojin yang lebih dulu masuk ke dalam. Shikamaru sedang bersama Temari mereka menikah setelah Sai dan Ino. Shikamaru dan Temari dikaruniai anak usia 4 tahun yang kini sedang duduk di kedua bahu Shikamaru.


"Waktu cepat juga ternyata." Naruko masuk ke dalam toko dan membeli bunga lili. Sasuke sempat heran kenapa harus bunga lili yang Naruko pilih? Naruko menjawab karena Abelia mirip bunga lili. Sasuke tak mengerti apa yang dimaksud istrinya yang terus bicara dengan bangga seakan tahu semua tentang arti bunga. Sakura hanya bisa murung melihat Sasuke dan Naruko dari luar toko, yang terlihat bahagia ketika mengobrol. Sakura hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya, Sakura tak berniat untuk memiliki suami semenjak Sasuke dan Naruko menikah. Helaan nafas yang begitu berat dari Sakura terdengar begitu jelas. Menma yang berpapasan pun menoleh ke arah Sakura.


"Tante cantik, kenapa sedih?"


"Eh?" Sakura menoleh ke arah kiri melihat Menma yang sedang di tarik-tarik oleh kedua adiknya yang ingin cepat pulang ke rumah. "Kakak jangan nge'gombal terus. Ayo kita pulang!"


"Kak, ayo pulang. Aku sudah ingin makan pisang."


"Tu, kak, monyet sudah kelaparan."


"Otak udang sialan! Aku bukan monyet!"


"Iya-iya, ayo kita pulang. Dasar kalian ini dari tadi ribut terus."


Sakura hanya tersenyum garing ketika melihat ketiga anak Sasuke yang wataknya tak bisa di masuk akal dengan kata-kata celoteh tak sopan.


.


.


.


.

__ADS_1


Next Chapter 42


Note : Hehe... Cuma cerita keseharian keluarga gak jelas. Maaf kalau makin gaje ya


__ADS_2