ETERNAL

ETERNAL
Sarah dan Nanda (Part 2)


__ADS_3

"Ahhh... Sarah lama banget sih!"


Matahari mulai tenggelam dan Sarah belum kembali. Nanda terus bertanya, apa yang dilakukan Sarah kali ini?


"Seandainya kakiku gak sakit, kami bisa keluar dari sini lebih cepat. Tapi... Aku penasaran, kali ini Sarah mau ngapain yah?"


Tiba-tiba saja sebuah batu kecil mengenai kepala Nanda. Sontak hal itu membuatnya menoleh keatas. Seseorang dengan liontin berbentuk kupu-kupu sama seperti dirinya sedang berdiri sambil tersenyum kearahnya. Siapa lagi kalau bukan Sarah.


"Bagaima-"


"Nanti Aku jelaskan, sambut tali ini."


Seutas tali pun turun kebawah. Nanda nampaknya berusaha memahami apa yang terjadi. Apa yang terjadi selama ia beristirahat di batu tadi? Walau begitu, Nanda lalu memegang tali tersebut dan mendengarkan arahan Sarah. Ia lalu memanjat dinding tersebut secara perlahan dibantu dengan tali yang Sarah berikan. Tak lama kemudian ia pun berhasil keluar.


"Aku yakin otakmu penuh dengan pertanyaan."


Aku tersenyum kearah Nanda yang berusaha mencari tahu jalan keluar yang kugunakan. Ia juga tampak melihat tubuhku dan juga kedua sepeda tersebut yang tampak sangat bersih.


"Jadi begitu.. Aku hanya menangkap kejadian setelah kamu keluar. Sisanya tidak."


"Hmm, lumayan. Aku akan menjelaskannya. Kamu melihat tumbuhan dan sampah tadi kan?"


"Yap, tumbuhan pendek tapi lebat dan tumpukan sampah yang kebanyakan isinya sampah plastik. Wait... don't tell me..."


"Yup."


Nanda tampak mundur beberapa langkah kebelakang. Lalu ia pun duduk di tepi jalan dan terdiam. Sesekali ia melihat ke arah selokan tersebut sambil mencari apa yang ia cari. Aku tersenyum melihatnya. Seandainya kakinya tidak sakit, Nanda pasti akan berlari menelusuri selokan ini. Ia lalu menatapku dengan serius.


"Itu mustahil. Aku sepertinya bisa tau.. tapi aku butuh kepastian. Jelaskan dengan detail, Sarah."


"Ok, seperti yang kau tau, Aku menggunakan tumbuhan dan sampah tersebut untuk keluar."


"Aku tau, tapi kok bisa? Plastik memang tahan lama, butuh bertahun-tahun untuk terurainya. Itu alasan kamu memakai plastik. Tapi, plastik yang kau temukan itu adalah jenis Low Density Polyethylene. Plastik itu tak akan kuat menopang tubuhmu."


"Yap, kamu benar. Oleh karena itu aku menyatukan beberapa plastik menjadi satu. Setelahnya aku mengikat plastik tersebut membentuk sebuah tali menggunakan tumbuhan itu."


"Itu tidak akan kuat. Tidak peduli seberapa banyak plastik yang kau gunakan, itu tidak membantu. Apa kamu pake bahan lain?"


"Tidak. Hanya itu."


"Mustahil. Minimal kamu memakai bahan lain untuk sampai keatas. Bahan yang kuat menahan tubuhmu. Aku tak mengerti, itu tak sesuai teori."


Aku tersenyum. Nanda tidak mau mengalah. Ia tetap pada argumennya. Nanda pintar dalam hal akademik. Walau masih berumur 5 tahun, ia telah menguasai berbagai macam pelajaran sampai kelas 6 SD. Hal itu disebabkan karena dari dulu, Nanda selalu pergi ke Perpustakaan Daerah sehabis pulang sekolah dan menghabiskan waktu untuk membaca disana.


Tidak hanya sepulang sekolah, saat libur pun ia tetap mengunjungi perpustakaan tersebut. Di sekolah, Nanda selalu mendapat peringkat teratas untuk seluruh kelas. Ia sering memenangkan kejuaraan dan selalu mendapat peringkat 1 atau 2 berturut-turut.


Nanda juga dikenal sebagai murit yang baik dan juga ramah. Oleh sebab itu, ia memiliki banyak teman. Walau sehebat itu, dia terkadang kurang percaya pada argumen orang lain. Ia terkadang hanya menganggap argumennya lah yang paling benar.


"Kau belum menjelaskan secara detail."


"Percuma saja Aku jelaskan. Nanti kamu gak akan percaya juga."

__ADS_1


"Fine. Aku akan dengar."


"Good. Memang benar. Plastik tersebut tak akan kuat menahan tubuhku. Tapi, kau masih bisa melakukan cara lain. Aku melemparkan tali tersebut keatas sampai terikat pada pohon yang kebetulan ada dipinggir selokan. Aku lalu mengikat tubuhku dengan kencang dan berjalan mundur sampai talinya regang. Setelahnya Aku berlari dengan cepat lalu memanjat selokan selama 2 detik. And then.. Aku bebas."


"Hmm... Jadi kamu mengurangi berat badanmu dengan cara berlari yah?"


"Yap."


"Kenapa harus seribet itu, kamu hanya perlu memanjatnya. Kalau khawatir dengan tangan yang terluka, kamu bisa menggunakan plastik. Untuk sepeda, saat sampai di atas kamu cari tali trus..."


"Hehe, kamu miss 1 hal. Aku memang bisa melakukan hal itu. Tapi, batuan-batuan tersebut terlalu tajam. Kalau Aku memakai caramu, Aku memang bebas. Tapi sepedanya? Kalau Aku mau sepedanya juga bebas. Aku juga harus buat tali dari plastik itu, nantinya tali itu akan kubawa saat Aku memanjat dinding. Kalau semua plastiknya Aku gunakan untuk tali, Tanganku bagaimana?"


"Kau benar. Tapi kenapa tidak ke tempat ku aja? Batu-batuan disana bisa kau panjat kan?Sisanya tinggal pakai cara yang kugunakan."


"Hal itu bisa dilakukan, tapi melihat kondisi dasar selokan ini yang penuh batuan tajam ditambah sandalku rusak karena jatuh tadi. Saat Aku meninggalkanmu. Aku berlari dan kaki ku terluka. Aku mengakui Aku ceroboh, harusnya Aku tak berlari. Hanya itu."


Kami pun terdiam. Larut dengan pikiran masing-masing. Seru rasanya beradu argumen seperti ini. Tapi kalau akhirnya keduanya terluka...


"Maaf.."


"Ehh!?"


"Aku yang salah, Aku terus merepotkanmu hingga terluka. Dulu kamu juga melindungiku dari orang yang membullyku. Pada Akhirnya, kamu yang terluka parah. Maaf... Aku hanya beban... harusnya Aku berterima kasih... Maaf..."


Air mata pun mulai membasahi pipinya. Secara perlahan, air mata itu keluar dengan deras. Ia terus meminta maaf kepadaku. Aku tersenyum dan menarik tubuhnya ke dekapanku. Aku mulai mengelus rambutnya dengan lembut, berusaha menenangkan hatinya yang kacau.


"Gak apa-apa kok, sekarang kamu mandi yah. Aku juga minta maaf karena meninggalkanmu."


"Masih sakit?"


"Udah mendingan. Aku bisa jalan kok."


Kami lalu berjalan dengan perlahan karena Aku tau walau Nanda bisa berjalan, tapi tentunya kakinya masih sakit. Aku tau, ia tak mau lagi merepotkanku dan berusaha untuk melakukan sesuatu sendiri. Aku senang mendengarnya, karena dengan begitu bebanku akan berkurang.


"Kau benar-benar hebat, sama seperti biasa, Sarah."


"Tidak, kau juga sama. Kita sama-sama dianggap anak ajaib. Tapi karena itu, kita sering dimanfaatkan."


"Dimanfaatkan?"


"Yap. Oh ya, Aku tak menyangka kau menanyakan tentang obat-obatan yang kubeli. Logikanya, kau tau itu untuk apa kan? Ini jadi salah satu kekuranganmu. Kau mengetahui fungsinya, tapi kau tak berani mempercayainya sampai saat benda atau hal itu digunakan atau kau sengaja?"


"Aku tak mengerti apa yang ka-"


Aku lalu melangkah lebih cepat dan berhenti di depannya. Nanda tampak terdiam menunggu jawaban yang selalu ia dengarkan. Nanda yang awalnya sedih pun berubah menjadi serius.


"Kau sebenarnya tau kan? Apa yang akan terjadi. Apa aku salah?"


Nanda terdiam. Ia hanya menundukkan kepala. Aku tersenyum melihat rencana yang telah disusunnya gagal total. Aku lalu mendekatinya dan berbisik di telinganya.


"Kau merencanakan nya dari awal kan?aktingmu cukup bagus loh. Aku kagum... Aku ingin melihat lagi, seberapa irinya kau denganku."

__ADS_1


"Sejak kapan kau tau!"


Aku tersenyum. Aku pun tertawa kecil melihat reaksi tak percaya nya.


Aku mengakui, rencana untuk menyingkirkan ku itu bisa dibilang cukup bagus. Tapi sayangnya, Aku sudah mengetahuinya dari awal.


"Aku mengetahuinya sejak awal. Bahkan sebelum perlombaan sepeda yang hanya rekayasa ini. Kau sangat iri denganku kan? Karena bisa dibilang kita adalah sahabat sekaligus rival. Aku tak menyangka kau akan melakukan hal senekat ini. Tapi jangan khawatir, Aku tak akan memberitahu ini kesiapa pun. Semua rencana busukmu akan kusimpan. Kita tetap sahabat kok. Tidak peduli seberapa iri bahkan bencinya kamu ke Aku."


"Jleb" Nanda hanya bisa menelan ludah. Semua yang dikatakannya itu benar. Sekarang, ia tidak bisa lagi bersandiwara. Karena Sarah pasti tau semuanya. Tubuh Nanda mengeluarkan keringat dingin dan tubuhnya juga bergetar hebat. Semua rencananya gagal total.


Aku lalu mendekatinya, ia tampak menundukkan kepalanya lagi. Aku lalu memegang dagunya dan menariknya agar ia menatapku. Aku menatap tajam kedua bola matanya.


"Tidak peduli rencana apa yang kau buat. Aku tak akan menghalanginya. Aku tak akan melarangmu untuk iri atau bahkan membenciku. Aku tak masalah dengan rencana yang kau buat, bahkan yang berbahaya sekali pun. Tapi ingat satu hal. Tak peduli seberapa perfect atau seberapa bahayanya rencanamu, kau tak akan berhasil melukaiku apalagi membunuhku."


Aku lalu melepaskannya. Ia tampak masih ketakutan. Aku lantas tersenyum kearahnya.


Aku menunggu rencanamu selanjutnya.


"Kenapa kau tak menghentikanku!? Aku berusaha untuk.."


"Membunuhku? Aku gak akan melakukan hal itu. Ini menyenangkan. Aku seperti berada di Survival Game. Lanjutkan peranmu, ini hanya rahasia kita." Aku lalu berbalik dan melanjutkan perjalanan.


"Tapi kenapa kamu gak membenciku!?"


Aku terdiam, Aku bingung harus menjawab apa. Aku sendiri tidak tau kenapa Aku tak bisa membencinya. Mungkin karena Aku berfikir ini menyenangkan. Iya.. Ini menyenangkan.


"Karena ini menyenangkan, Lagian mau bagaimana pun Aku adalah sahabatmu."


Nanda terdiam, air mata pun mengalir dengan deras. Kali ini bukan air mata palsu yang ia keluarkan. Ia terus bertanya-tanya.


"Aku... jahat dan kau... menerimanya? Malah kau masih menganggapku sahabat?"


Ia mengatakan itu sambil terisak-isak. Ia tak percaya akan hal ini. Aku lalu memeluknya. Nanda pun menangis sejadi-jadinya. Ia tampak menyesal telah melakukannya. Aku berusaha untuk terus menghiburnya. Tampa kusadari, setetes air mata pun keluar dari mata kiriku.


Kenapa? Karena Aku menyayangimu


Kau sangat berharga bagiku


Aku tak peduli kalau kau berusaha untuk menyingkirkanku atau membunuhku


Aku sama sekali tak masalah


Bagiku, kau adalah Inang


Jaga dirimu jangan sampai terluka


Apabila Inang terkena setetes darah


Maka sesuatu akan bangkit


------------------------------------------------------------------------

__ADS_1


Jangan lupa di rate, like, comment dan share yah. >_<


__ADS_2