
Chapter 15
.
.
.
.
Tak ada seorangpun yang akan bisa lama memendam perasaan cinta begitu lama. Dan itu juga berlaku untuk Sai yang ingin sekali memberi tahu Naruko, bagaimana perasaannya terhadap Naruko.
Cintanya Sai adalah cinta yang buta. Karena ia seharusnya sudah tahu bahwa Naruko sudah ada yang punya bukan? Jangan salahkan Sai, dan cinta yang ia miliki dan jangan salahkan ke'egoisannya pula.
Cintanya mengalir begitu saja seperti air yang tenang tanpa sadar bisa menghanyutkan siapa saja dalam ketenangannya.
Lukisan yang ia buat dengan hati-hati menggambarkan isi hatinya yang terdalam. Betapa dalamnya cinta yang sedang Sai, alami ia tak takut jika akan tenggelam sangat dalam bahkan kedalaman itu dapat ia nikmati sepenuh hatinya.
"Sai, sampai kapan aku harus berdiri seperti ini?!"
"Ah, soal itu kau bisa istirahat. Lukisannya sudah jadi coba sini lihat."
"Uh, sudah jadi ya. Mana aku lihat!"
Naruko menghampiri Sai. Mereka berdiri bersebelahan sembari menilai apa ada yang kurang dari lukisan itu. Sama sekali tidak ada yang kurang dan tak harus dikomentari.
Lukisan yang hanya dengan 2 warna hitam dan putih. Hanya dengan warna itu saja sudah bisa terlihat sangat nyata. Apalagi jika dipadukan dengan warna lain pasti akan lebih bagus.
"Bagaimana menurutmu?"
"Mmm... Lukisannya terlihat cantik," gumam Naruko, menilai dirinya sendiri dalam lukisannya itu.
"Cantiknya tidak kalah dengan yang dilukiskan?"
"Eeeh," respon Naruko terkejut, dan kata-kata Sai itu sangat ganjal tidak seperti biasanya.
Tempat yang biasanya mereka gunakan latihan, lapangan yang luas itu menjadi saksinya kata-kata Sai, yang tulus. Jika tempat itu diizinkan berbicara oleh mahakuasa, mereka pasti berkata, 'dia itu mencintaimu dengan sepenuh hatinya! Balaslah perasaannya itu!'
"Aa, aku paham. Berarti aku ini cantik juga kan?" tanya Naruko yang tak jelas.
"Tentu saja," balas Sai diakhiri senyuman.
__ADS_1
Walaupun ia tak paham arti maksud yang Sai katakan. Naruko sangat malu-malu dalam artian cantik itu. Tak peka dan selalu kebingungan ketika ia merasa ada yang aneh dalam perasaanya. Naruko bagaimanapun juga seorang wanita yang malu akan pujian.
Sai melangkahkan kakinya untuk mendekati Naruko. Melihat dengan tatapan penuh tanya tak mengerti dengan sikap Sai. Wajah itu terlalu tiba-tiba mendekat dan terjadilah sebuah kecupan manis di bibir.
Naruko hanya diam tak bisa berkata-kata. Dia merasa ada yang aneh dalam sekejap. Perasaan senang tak ia rasakan dan debaran di dalam dadanya terasa menyesakkan dengan hal ini.
"Naru, aku mencintaimu."
"...."
Hanya tertunduk dan diam, bingung harus menjawab apa? Mundur beberapa langkah dan berbalik pergi. Berlari sejauh mungkin menghindari pertanyaan yang susah untuk Naruko jawab.
Sai hanya bungkam besama hembusan angin menjelang sore. Tindakan yang bodoh seharusnya ia tak melakukannya secara tiba-tiba seperti itu.
"Dasar bodoh Sai! Apa yang kau lakukan! Aku bisa mati nanti kalau Sasuke tau!"
Berlari dan berteriak sekencang mungkin. Naruko merasa bahwa dirinya salah? Berlari meninggalkan hutan yang sunyi dengan segenap kekuatannya. Tersandung akar pohon namun ia masih bisa menjaga keseimbangannya agar tak terjatuh ke tanah.
Terus berlari sampai ia menemukan tempat tujuannya. Rumah yang ia tinggali sekarang begitu membuat rindu, entah apa penyebabnya. Sasuke yang baru pulang dari misi, ia hanya menatap heran dengan ekspresi wajah Naruko yang sedang menatapnya dengan penuh arti.
"Hn, kau darimana?"
"Hn?"
"Sasuke."
"Hn?"
"Sasuke."
Sasuke jadi kesal dipanggil sampai 10 kali. Ia menjawab singkat 10 kali juga. Sangking kesalnya Sasuke menarik Naruko untuk masuk kedalam rumah dan menjelaskan ada apa dengan sikap aneh itu?
Sasuke pergi ke arah kamarnya yang ada di lantai 2. Naruko hanya mengikutinya dari belakang dan tertunduk dengan diamnya. Naruko berlari kecil, ia menghadang Sasuke yang langsung menghentikan langkahnya. Naruko membungkukan badan dan seketika itu juga kata, 'maaf,' meluncur dari bibirnya.
"Sasuke, maafkan aku banyak salah padamu. Dan maafkan aku sudah banyak membantah ditambah lagi aku juga tidak pernah menghabiskan makanan ku setiap sarapan!"
Sasuke tidak mengerti dengan Naruko yang jadi aneh entah apa penyebabnya? Sasuke hanya tersenyum menganggap kalau yang dihadapannya sekarang sedang mulai dengan sifat bodohnya seperti biasa.
Naruko berhenti membungkuk dan melangkah maju. Dia memejamkan mata sambil meminta maaf dengan semua yang pernah ia lakukan untuk kedua kalinya.
"Sasuke, aku takut melihatmu karena kau terlalu menyeramkan," kata Naruko sambil terpejam.
__ADS_1
"Oh,"
( ? )
Sasuke tak mengerti kenapa ia tiba-tiba dipeluk tanpa sebab yang jelas? Apakah Naruko sedang rindu? Mungkin saja yang Sasuke pikirkan itu benar karena rindu penyebab Naruko jadi bersikap aneh.
Sasuke memalingkan wajahnya, ia merasa sisi lembut Naruko benar-benar membuatnya gugup dan menahan kegugupan sekuat yang Sasuke bisa.
Memeluk dan dipeluk sesuatu yang berbeda yang kini sedang Sasuke rasakan. Suara isakan pelan terdengar jelas di telinga Sasuke. Setiap Sasuke ingin menghentikan pelukan itu, Naruko semakin mempererat pelukannya.
Secerah-cerahnya langit biru pasti akan tiba waktunya mendung dan hujan datang. Seceria-cerianya Naruko pasti akan menangis pada akhirnya.
Perasaan bersalah yang sulit Naruko pahami sampai saat ini pun ia tak mengerti dan entah kenapa ia ingin memeluk Sasuke untuk meminta maaf.
Diam tak bertanya apa yang sedang terjadi? Apa penyebabnya Naruko menangis seperti ini? Sasuke membelai surai pirang panjang Naruko.
Bukan waktunya untuk mendesak dengan segudang pertanyaan.
Yang harus Sasuke lakukan sekarang bagaimana cara menenangkan Naruko agar berhenti menangis?
Sasuke tidak tahu bagaimana caranya agar Naruko menghentikan tangisnya. Membalas pelukan membiarkan menangis sepuas hati itu saja yang bisa dilakukan Sasuke untuk Naruko.
Terlelap dalam pelukan berharap esoknya keceriaan yang biasanya terlihat tak akan lenyap. Jika itu lenyap maka Sasuke, akan menghancurkan yang melenyapkan keceriaan itu.
Membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Sasuke menghusap sisa air mata yang ada di pipi Naruko. Hari ini seperti mimpi buruk yang tak pernah Sasuke harapkan.
Lebih baik melihat senyuman dan tawa bodoh ketimbang melihatnya menangis seperti menyayat hatinya perlahan dengan pasti, rasa sakit tak bisa hilang dengan berjalannya waktu.
Kecupan di kening untuk ucapan selamat tidur dan berhentilah bersedih. Sasuke memang tak banyak bicara namun hatinya lah yang sering mengutarakan yang ingin ia katakan.
.
.
.
.
**Next Chapter 16.
Note : Kabur, ah~ jangan salahin, aku karena, Sai nyamber duluan :v**
__ADS_1