ETERNAL

ETERNAL
Gadis yang Tertidur


__ADS_3

Setelah mendengar semua ceritaku, Pak Tomo tertawa mendengar tingkah-laku kami. Tapi disisi lain, ia bangga karena tindakan kami yang jarang dilakukan oleh anak diumur segitu. Ditambah lagi saat itu kami baru berusia 5 tahun.


Tentunya Aku tidak menceritakan semua kejadiannya dengan Pak Tomo, Aku sudah berjanji.


"Kalian memang anak ajaib!"


"Bapak berlebihan."


"Tidak, kalian memang hebat."


"Iya Pak, makasih."


Setelah membayar semuanya, Aku pun melanjutkan perjalanan. Hari sudah semakin gelap. Cahaya mentari digantikan dengan cahaya lampu yang menerangi setiap sudut jalan.


Hmm lampunya baru dinyalakan..


Aku terus berjalan hingga sampai didepan rumah Nanda. Rumah yang lumayan besar dengan taman yang sangat indah ditambah lagi dengan lampunya sebagai pelengkap. Rumah itu sangat bagus saat malam hari.


Aku berjalan ke samping rumah menuju sebuah jendela. Aku melihat nya sedang asik memainkan game yang ada di HP-nya.


Disaat seperti ini, dia masih bisa santai.


Aku menghela napas dan mengetuk pintu jendela. Melihatku datang, ia langsung menutup HP nya dan memberikan kode tangan untuk masuk melalui pintu depan.


Aku pun berjalan kembali ke pintu depan rumahnya. Setelah sampai, Aku membalikan badan ke salah satu pohon yang berada diluar pagar rumah ini dan tersenyum sinis.


"Sampai kapan kamu disitu?"


Aku lalu membalikan badan lagi ke hadapan pintu. Nampaknya dia kaget dan langsung pergi.


Pengganggu, dia pikir gak bakal ketahuan apa?


Tiba-tiba. "Brakk!!"


"Maaf lama!"


"Santai aja buka nya, permisi."


Aku langsung masuk ke rumah nya dan berjalan menuju kamarnya tampa memperdulikan dirinya yang terus meneriaki-ku untuk mengambil minum dulu.


"Kau gak berubah sedikit pun."


Nanda lalu mengambil semua makanan dan minuman nya dan menyusulku ke kamar.


Aku masuk ke sebuah kamar yang bersih dan rapi sama seperti biasanya. kamar itu juga lumayan besar. Aku lalu duduk di sebuah meja yang berada di tengah-tengah kamarnya sambil mengeluarkan semua buku yang kubawa.


Nanda lalu masuk ke kamar dan menaruh makanan dan minuman nya di meja lain sementara dia juga mengambil semua buku MTK yang berada di meja belajar nya. Aku juga mengeluarkan cemilan yang kubeli sebagai penghilang jenuh saat belajar.


"Harusnya kamu bilang bawa cemilan tadi."


"Kamu gak nanya."


"Iya deh, Aku yang salah."


Kami lalu mengerjakan PR bersama. Karena Aku kurang bisa di bidang akademik, Maka Nanda yang ku-andalkan. Aku hanya paham dasar-dasarnya, selebihnya tidak. Walau sudah diajari oleh Nanda dengan cara apapun, Aku masih belum mengerti.


Karena sudah putus asa, Nanda lalu memberikan semua jawabannya kepadaku dengan imbalan Aku akan membantu nya dalam Bahasa Inggris mengingat kemampuan berbahasa ku yang lumayan.


"Barter nih jadinya?"


"Iya dong."


"Ok"


"Jangan ok doang dong!"


"Owh.."

__ADS_1


"Nyebelin!"


"Ok."


"Huff.. Kamu gak berubah. "


"Kamu juga, dari kecil."


"..."


"Apa?"


"Kamu menceritakan semuanya?"


"Aku cerita ke Pak Tomo, tapi untuk kebohongan mu tidak."


"Hmm. Tapi kamu pasti lupa 1 hal. Kamu lupa pas nolong Aku, kamu memberikan handuk dan pewangi kan?"


"Itu gak penting."


"Itu penting!"


"Gak. Semua orang bisa melakukannya."


"Terserah. Jadi apa tujuanmu ke sini selain masalah PR. Aku tau kamu orangnya gak bakal ngelakuin sesuatu tampa alasan yang penting."


Aku lalu menceritakan mimpi yang kualami secara detail. Nanda tampak mendengarkan dengan seksama sambil menyimpulkan sesuatu. Ia menyimpulkan bahwa mimpi itu adalah sesuatu hal yang akan terjadi di masa depan seperti sebuah tanda akan sesuatu hal yang sangat penting.


Mimpi itu sekilas hanya sebuah ingatan, tapi setiap mimpi punya maksud sendiri. Kebenaran yang tersembunyi dibalik Kebenaran. Mimpi yang menceritakan masa lalu itu benar, tapi maksud dari semua itu?


Kami berdua berfikiran kalau mimpi itu asli, pasti akan terjadi sesuatu hal yang menarik. Kami berdua menganalisa mimpi tersebut. Namun karena ada bagian yang kurang, Mimpi itu hanya melahirkan banyak pertanyaan bercabang.


"Sesuatu yang besar menantiku."


Nanda menoleh kearahku sambil tersenyum.


Nanda lalu membereskan semua buku-bukunya yang berserakan.


"Udah makan?"


"Belum."


"Yuk makan. Mamah lagi masak banyak nih. Karena udah malam banget, kamu nginep aja disini"


Kami berdua pun berjalan menuju dapur. Saat tiba di dapur, tercium bau masakan dengan bumbu yang sangat lezat.


"Ayo makan."


Kami semua pun makan bersama-sama. Kami juga bercerita tentang hal-hal yang terjadi hari ini dan tertawa lepas setelahnya. Setelah menyelesaikan makan malam, Aku dan Nanda lalu pergi ke kamar. Kami pun tertidur.


Sinar mentari menerangi jendela kamar dengan lembut. Aku dan Nanda terbangun dari tidur panjang kami. Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Aku beranjak dari kasur mengambil HP di meja belajar sementara Nanda bersiap-siap untuk mandi. Aku membuka Grup Chat Kelas untuk melihat informasi terbaru. Aku melihat pengumuman bahwa sekolah diliburkan selama 2 hari. Seketika chat itu rame setelah pengumuman itu disampaikan.


Aku lalu menutup Grup Chat itu dan berbaring sebentar. Setelah Nanda selesai mandi, Aku lalu menunjukkan pengumuman tadi ke Nanda.


"Nyesel Aku mandi."


"Udah."


Aku lalu beranjak dari kasur dan bersiap-siap untuk mandi sementara Nanda bersiap-siap untuk menyiapkan sarapan. Setelah selesai mandi, Aku lalu menuju meja makan.


Kami makan seperti biasanya. Makan sambil mengobrol satu sama lain. Setelah menyelesaikan makan, Aku pamit pulang.


" Cepet banget.."


"Ada tugas dirumah."


"Tumben ra-"

__ADS_1


Aku lalu melemparkan sebuah pulpen dan hampir mengenai lehernya. Pulpen itu lalu menancap ke sebuah dinding yang ada dibelakangnya.


"Maaf, blum juga selesai ngomongnya."


"Permisi."


"Yah.. langsung pulang dia.. Kamu memang susah ditebak yah. Kadang baik, kadang jahat. Seperti 2 jiwa saja."


Aku berjalan menelusuri jalan yang ramai dengan anak kecil yang bermain kejar-kejaran. Setelahnya, Aku melewati gang sempit yang biasanya Aku gunakan sebagai jalan pintas. Gang itu tidak punya nama seperti gang lainnya. Orang-orang disini memanggilnya Gang Sempit atau Gang Malam.


Karena gang ini lumayan gelap, Aku terpaksa berjalan sambil memegangi tembok. Gang ini gelap karena terdapat 2 bangunan tinggi di samping kiri dan kanannya yang menyebabkan sinar matahari susah untuk masuk.


Aku terus berjalan sampai cahaya dibelakang ku meredup digantikan dengan kegelapan yang menyelimuti. Aku lalu mengambil HP untuk menyalakan senter.


"Sial. HP mati."


Aku terpaksa terus berjalan tampa cahaya. Tiba-tiba, "Bruk.." Sebuah kotak kayu jatuh di depanku yang membuat ku langsung waspada dengan sekeliling.


Aku tidak sendiri..


Karena gelap, Aku tak bisa melihat kedepan. Aku ragu untuk melanjutkan perjalanan atau kembali. Aku tidak bisa tau dengan siapa Aku sekarang ini.


Aneh.. biasanya Aku bisa tau sejak awal.. Hmm.. Dia berbahaya..


Aku lalu melihat sekeliling berusaha menangkap apa yang ada disini. Aku tau itu percuma, karena kondisi yang gelap tapi setidaknya Aku mencoba.


"Wuss"


Tiba-tiba sesuatu yang lumayan besar dari tubuhku lewat didepanku dengan cepat. Aku reflek melompat kebelakang sambil mataku berusaha mencari makhluk itu. Pergerakan nya sangat cepat, tidak sesuai dengan akal sehat.


Detak jantungku berdetak kencang. Aku pun berbalik dengan niat melarikan diri. Tetapi ia sudah berhasil mencengkramku.


Sejak kapan!? Aku tak merasakan apapun!?


Ia lalu melempar ku kearah tembok dengan keras. Aku lumpuh seketika. Ia lalu mengambilku dan melakukan hal yang sama berulang-ulang hingga tubuhku berlumuran darah.


Aku terjatuh dan menyeret tubuhku untuk lari. Namun semua yang kulakukan itu sia-sia. Ia lalu mengambilku dan membenturkan kepala ku ke tembok. Aku berusaha membuka mataku untuk melihatnya.


Ia lalu menutup kedua mataku dan mencekik ku dengan waktu yang bersamaan. Semakin lama... Napasku mulai sulit untuk dikeluarkan. Aku pun pasrah dengan semua yang akan terjadi.


"Hikari!!"


Sebuah cahaya tiba-tiba saja muncul. Makhluk itu lalu melepaskan ku dan menuju sumber cahaya. Aku berusaha menyeret tubuhku sendiri yang berlumuran darah sambil menahan rasa sakit.


Pandanganku mulai kabur.. Tenagaku mulai hilang... Aku pun berhenti dan mulai menyerah. Sebuah tangan mengelus dengan lembut dan membisikkan sesuatu ke telingaku.


"Kau tak akan mati. Aku jamin itu. Tutuplah matamu."


Sebuah cahaya dengan bentuk anak kecil mengelus ku dan meletakkan ku di dinding.


"Sepertinya Aku bisa istirahat.."


Aku tersenyum kearahnya dan menutup matamu.


"Kau tak ku izinkan mati. Selamat datang kembali.. Kak.."


Mulai sekarang...


Kakak adalah Kakak..


Kakak bukan Sarah..


Kakak adalah kakak..


Bangkit lah... kumohon..


------------------------------------------------------------------------

__ADS_1


Jangan lupa di rate, like, comment dan share yah. >_<


__ADS_2