ETERNAL

ETERNAL
Chapter 11


__ADS_3

Eternal Vol 2.


Chapter 11


.


.


.


.


Empat tahun kemudian.


Melihat pantulah dirinya sendiri di cermin. Merapikan pakaian yang ia pakai sekarang dengan teliti, tersenyum puas melihatnya. Naruko sudah menginjak usia 20 tahun.


Herannya kenapa dia belum juga menikah dengan Sasuke? 'belum siap,' kata alasannya Naruko selama empat tahun sekarang. Dia memang butuh perjuangan agar keluarga Uchiha mau memakluminya. Tapi, apakah Naruko akan terus seperti ini?


Naruko membuka jendela kamarnya. Ia dengan sigap beranjak naik menuju atap rumah. Selama satu tahun Naruko selalu begitu agar Sasuke, tidak terlalu cerewet terlalu banyak mengaturnya.


"Hn." Sasuke bersendekap dengan tatap malasnya.


"Fiuh~, ketahuan," keluh Naruko.


"Kau mau kemana? Semakin tidak sopan lewat jendela."


"Kalau lewat pintu kamar pasti kau nanti banyak tanya lagi."


"Hn, pakaianmu?" Sasuke melihat Naruko dari kepala sampai ujung kakinya.


"Ini pakaian baru, lagi trend!"


"Oh," ucap Sasuke singkat.


"Hah, cuma oh aja?"


Naruko sadar bagaimana pun ia berpakaian tetap saja Sasuke, menatapnya biasa saja tidak ada yang spesial pikirnya.


Note : Pakaian yang ada di vol 2.


Sepoi-sepoi angin berhembus tenang. Sasuke terus menatap yang ada dihadapannya. Kelihatan berbeda dia seperti semakin dewasa? Walaupun sifatnya sama saja tidak ada perubahan sama sekali.


"Sasuke, aku izin mau main ya! Sai menungguku. Aku mau jalan-jalan dengannya." Naruko tersenyum setelah berucap.


"..... Sai kau bilang?"


"Ho'oh Sai."


"Hn, kau tidak boleh menemuinya."


"Hah! Kenapa tidak boleh? Sai mau mengajakku ke kedai ramen..." Tatapan tajam tertuju ke Naruko.

__ADS_1


Tanpa peduli dengan tatapannya, Naruko berbalik untuk pergi. Baginya cuma melompat ke atap sebelah itu sangat mudah.


"Kau harus tau posisi kita sekarang," kata Sasuke.


"Iya-iya, aku sampai bosan dengan perkataan mu itu Sasuke," balas Naruko, ia pun melompat ke atap sebelah- berlari menjauh pergi meninggalkan Sasuke.


Sasuke sampai sekarang belum tahu bagaimana caranya agar Naruko sadar bahwa ia itu adalah miliknya. Dan agar ia berhenti untuk menunda pernikahan mereka berdua.


'Langit biru itu seperti dia yang tidak pernah berubah walaupun waktu berlalu. Terkecuali mendung yang datang dan berharap mendung tak akan datang dalam dirinya.' gumam batin Sasuke.


Sasuke berbalik untuk pergi meninggalkan tempatnya berdiri. Terkadang Sasuke berandai-andai jika ia tak seperti ini mungkin kata-kata yang ingin terucap akan mudah ia katakan tadi.


Perasaan nyaman yang entah sejak kapan ada. Dan entah kenapa ia hanya ingin 'Naruko' ada bersamanya sepanjang waktu. Ke'egoisan yang tertahan dipikirannya itu semakin hari semakin tak bisa ia tutupi.


Disisi lain Naruko sangat kesal akibat Sasuke, yang terlalu menekannya. Naruko tahu bahwa ia harus sadar diri karena pertunangan yang dibuat kedua orangtua mereka.


"Aah, bikin pusing saja!"


Naruko berhenti diatap rumah kosong. Dia berteriak menghilangkan kesalnya yang begitu memusingkan. Dia bingung atas semua ini, serba salah pikirnya.


"Seharusnya kau menurut saja Naru," Kurama menasehati Naruko.


"... Maksudmu apa, Kurama?"


"Maksudku, kau harusnya menurut saja. Diusia mu sekarang seharusnya kau menikah, seperti ibumu bahkan dulu lebih muda."


"Ah, benarkah?" tanya Naruko karena tertarik.


"Umu, mau kuceritakan?"


.


.


.


.


Kurama menceritakan kejadian masa lalu dimana saat Kushina mendapatkan lamaran dari Minato. Naruko memilih untuk pergi ke hutan, bersandar di pohon maple besar. Dia amat senang mendengar cerita Kurama yang sesekali menghela nafasnya karena harus mengingat kembali kekonyolannya Minato, yang gugup minta ampun ketika itu.


"Cinta itu sangat aneh, orangtuamu sampai malu-malu setiap berpegang tangan."


".... Cinta, pegangan tangan," gumam Naruko yang belum tahu dan belum perna mengalaminya.


Kurama menyunggingkan senyumnya. Gadis kecil yang sudah dewasa ini masih sama saja seperti dulu, dengan kepolosannya.


"Apa kau penasaran?"


"Penasaran apanya?" Naruko balik bertanya karena melamun sesaat.


Kurama ingin sekali mengusap wajahnya sendiri. Naruko begitu bodoh atau polos jika dipikir-pikir ia sangat aneh jika kebingungan.

__ADS_1


"Ehem, pegangan tangan dan cinta seperti yang Minato dan Kushina dulu alami?"


"I-iya mungkin hehe..." Naruko garuk kepala, ia seperti merasa ketahuan ketika melamun tadi. Melamun kan yang dikatakan Kurama- pegangan tangan dan cinta.


"Aduh, aku lupa tentang, Sai!!"


Naruko lantas bangun dari sandarannya di pohon. Dia berlari cepat agar tidak terlambat dengan janjinya. Perkataan Kurama yang tadi bagaikan angin yang terlupakan oleh Naruko yang berkata 'kita bahas lagi lain waktu.'


.


.


.


.


Menunggu hampir 1 jam lamanya. Sai masih dapat tersenyum meskipun ia menunggu selama itu. Tidak jauh dari kedai ramen adalah tempat perjanjian bertemu. Sai sudah terbiasa dalam kejadian ini karena Naruko, yang selalu telat sampai dikepekaannya pun telat juga.


Sai melamun sambil melihat orang-orang yang berlalu-lalang jauh di hadapannya. Perasaan Sai terhadap Naruko mulai berbeda dari sebelumnya hanyalah perasaan, 'kami adalah sahabat yang selalu bersama.'


Dari bersama itulah Sai mulai berpikir jika Naruko menikah, mereka pasti tidak akan bisa dekat lagi? Tentu saja karena calon suami Naruko adalah Sasuke yang pasti akan selalu melarang Naruko, untuk menemuinya.


Sai banyak mendengar cerita dari Naruko, bahwa Sasuke terlalu pengatur dan melarang kalau Naruko dekat dengan lawan jenis. Kesimpulannya Sasuke cemburu dalam pikirannya Sai menebak.


"Sai, maaf aku telat!" Lambaian tangan ketika berlari. Yah sosok yang Sai tunggu akhirnya muncul juga. Naruko si terlambat itu menghilangkan jenuh yang begitu tidak mengenakan menunggu lama.


"Maaf ya? Kau tidak marahkan?"


"Santai saja. Kan cuma menunggu," balas Sai.


"Wah, hari ini kau beda sekali Naruko?"


"Hehehe, gimana menurutmu pakaian yang sekarang?"


"Emmm... Terlihat cantik," rayu Sai.


"Ca, cantik!?"


Entah ada angin apa Sai tumben berkata seperti itu. Pujian yang sangat luar biasa bagi Naruko. 'Cantik,' kata yang baru Naruko pertama kalinya dapatkan apalagi jika sahabat sendiri yang bilang rasanya sungguh membahagiakan.


Sai meraih tangan, mengajak pergi Naruko, ke kedai ramen. Naruko melihat kini tangannya di pegang oleh Sai. Pikirannya Naruko pun mengingatnya tentang cerita Kurama mengenai pegangan tangan dan cinta.


Sekilas dalam benaknya Naruko mengingat Sasuke yang tiba-tiba muncul. Naruko menggelengkan kepalanya untuk melupakan bayang Sasuke, yang tanpa permisi muncul begitu saja dalam pikirannya.


Naruko tidak sadar selain bayangan Sasuke sesaat menghantuinya. Sasuke dari kejauhan terlihat kesal dengan apa yang ia lihat. Calon istri bersama pria lain sesuatu yang susah untuk Sasuke maafkan.


Next Chapter 12.


Note : Astaga kok terakhirnya Senpai yang nulis malah merinding sendiri. Sasuke macam hantu ngeri betul :v


( Tepuk jidat ) ara~ kok Sai kayaknya suka ma Naruko gimana ceritanya? Biarkanlah sahabat jadi cinta kan realita hehe...

__ADS_1


Astoge Kurama kok diam-diam perhatian ma kisah cinta MinaKushi?


Hasil nulis sambil denger musik jadinya agak aneh ya? Kalau ada lagu melow-slow, nyesek dll... Tulis di komentar sapa tahu cocok ma Senpai plus bisa aja jadi alur cerita lanjutan hehehe.... Yosh semangat!


__ADS_2