European Sky King

European Sky King
MELUKIS KISAH


__ADS_3

Monna kembali ke kediaman dengan kondisi aman setelah melancarkan tindakan pencegahan perjodohan yang terus diputuskan papinya untuk dirinya sangat sulit bagi monna untuk menghindar,, selama ada aiden rekan kerja sama yang baik ini akan menguntungkan monna menurutnya.


"Apa yang kalian lakukan kemarin?" Disini sekarang monna, makan malam bersama papinya.


"Kami hanya menghabiskan waktu bersama di vil.." Monna mengingat pesan yang disampaikan aiden bila dia tak ingin ada orang yang mengetahui lokasinya sekarang ini. Otomatis dia hanya perlu berpura-pura jika anggota keluarga lingga ada yang bertanya soal keberadaan aiden padanya.


"Dimana? Jangan malu pada papi!" Monna tersenyum kaku pada papinya.


"Aiden dan aku pergi berkunjung ke penginapan ditepi pantai!" Papinya cukup senang mendengar kabar baik dari kemajuan hubungan antara putri tunggalnya dengan putra sulung dari lingga buana.


Tyson pietro berencana mengadakan perjamuan kedua bersama keluarga besan, mereka akan kembali memainkan peran sebagai sepasang kekasih sesuai perjanjian yang telah ditetapkan monna. Sebenarnya ini karena monna juga menyukai tindakan manis yang diberikan aiden padanya sebab itu monna berniat memainkan peran ini bersama aiden.


Hari berganti hari setelah mengadakan acara pertemuan kedua antara kedua belah pihak keluarga besan mereka makin akrab, aiden hampir merasa berada dijalan buntu sampai kapan monna akan terus memainkan peran begini aiden takut kedua laki-laki paruh baya itu justru akan segera melaksanakan pertunangan untuk mereka berdua. Aiden jadi ragu sebetulnya monna ingin menghancurkan perjodohan ini atau membantu melancarkan rencana kedua orang tua mereka? Selepas ayahnya dan papi monna pulang. Aiden berkacak pinggang menatap monna.


"Katakan padaku sejujurnya kamu membuat rencana mereka berjalan mulus tahu? Kapan kamu akan melancarkan aksimu?"


"Sebentar lagi! Aku masih ingin banyak menghabiskan masa-masa terakhirku di kota gurry!" Monna menghembuskan nafasnya ternyata aiden sangat tak sabaran membuat monna pergi dari kota.


"Arghh.. Tapi kamu sadar gak si? Aku takut situasinya malah memperkeruh!" Aiden mengacak rambutnya frustasi persetan dengan kenangan yang ingin di dapat monna selama disini. Ia bahkan tak perduli tentang itu.

__ADS_1


"Bersabarlah dan tunggu! Bantu aku melukis sepenggal kenangan indah selama masih bisa disini!" Aiden terpaku mendengar penuturan yang disampaikan monna.


"Kamu.. gak bakal gak balik juga kan?" Monna menggelengkan kepalanya seraya melemparkan senyum yang tampak sedih di raut wajahnya.


"Aku mengenal baik papiku.." Monna menatap pria disebelahnya sembari berjalan ditepi trotoar. Mereka melintasi jalanan itu bersama.


"Begitu aku kembali ke kota pasti papi akan membarikade seluruh penerbangan. Dia dapat memastikan bila sudah tidak ada peluang bagiku untuk kabur lagi.. semua akan dimulai lagi dari awal.. perjamuan lagi bersama salah satu keluarga konglomerat dikota.. dipaksa mengenal orang asing bahkan papi tak memperdulikan latar belakang mereka yang jadi prioritas utamanya adalah kelancaran perjodohan ini.. " Aiden berusaha jadi pendengar yang baik bagi monna anggap ini kado perpisahan yang diberikan aiden untuk gadis bangsawan itu. Terukir jelas di raut wajah sayup nan cantik itu bahwa monna tak dapat menghindari resiko atas semua aksi yang akan dilancarkan olehnya.


"Apa gak sebaiknya kita pikirkan cara lain supaya dapat menggagalkan upaya perjodohan kedua keluarga kita ini?" Monna tersenyum tampaknya aiden terlalu menganggap remeh papinya.


"Selama aku masih disini.. papiku selalu menghalalkan segala cara supaya semua yang telah ditetapkan olehnya berjalan sebagaimana mustinya!"


"Jalan pikiran papiku tidak seringkas yang kamu bayangkan!" Monna berhenti melangkah ia menatap pria disebelahnya.


"Terima saja semua yang telah aku upayakan!" Bibir tipisnya melengkung mengukir senyuman. Aiden menghindar dari sorot mata monna yang dapat menelisik celah dihatinya. Jantungnya berdetak lebih cepat.


"Ya, sudah!" Aiden jalan mendahului monna yang masih terdiam ditempat. Monna mendesis lalu menyusul aiden yang telah jalan dengan cepat didepannya.


"Ishh.. tunggu aku!" Tanpa berniat memalingkan wajahnya aiden terus berjalan tanpa menengok ke belakang. Monna menginjak gundukan batu besar sampai terjatuh.

__ADS_1


"AKHHH.. " Aiden menghentikan langkah kaki nya begitu mendengar suara jeritan si nona bangsawan itu begitu menoleh ia mendapati monna yang telah jatuh tersungkur ditanah.


"MONNA!" Aiden berlari terbirit-birit menghampiri monna yang tersungkur ditanah aiden berjongkok didepan monna membersihkan lututnya yang kotor.


"Apa kamu ini bocah? Jalan saja sampai terjatuh!" Aiden membantu monna berdiri.


"Aa-aww.." Aiden mencemaskan kondisi kaki monna yang sangat kentara bila terluka. Aiden membungkuk ia mendapati luka pada paha beserta lutut mulus monna.


"Maaf! Aku cuma mau menolongmu" Aiden menggendong monna, ia membawa monna ke lahan parkiran di dekat restoran. Tanpa disadari olehnya monna terus menatap kagum pada sosok pria yang menggendong nya itu. Itu akan makin sulit membuat monna melepaskan aiden. Kedua pipinya bersemu terasa sangat panas monna menyembunyikan mukanya ke dada bidang aiden. Aiden menyadari tingkah lucu monna ia tersenyum mendapati monna yang sedang berusaha menutupi wajahnya.


Brakk


Aiden menyusul masuk ke dalam mobil.


"Monna, aku bawa kamu ke rumah sakit ya?" Matanya fokus menarik tuas rem tangan beserta mengendalikan setir mobil.


"JANGAN!!" Aiden mengerutkan dahinya melirik monna.


"I-i-itu ini hanya luka ringan! Tidak perlu sampai ke rumah sakit!" Alibi monna menutupi kebenaran yang tersembunyi dari aiden. Aiden hanya manggut-manggut setuju pada opini yang dicetuskan monna. Akhirnya aiden mengambil keputusan untuk membawa monna ke villa pribadinya lagi supaya aiden dapat membantu gadis bangsawan itu untuk mengobati lukanya.

__ADS_1


"Baiklah! Kita mampir ke villaku dahulu supaya dapat mengobati luka di kakimu itu!" Monna mengangguk setuju itu jadi pilihan yang bagus ketimbang rumah sakit.


__ADS_2