European Sky King

European Sky King
BENIH ASMARA


__ADS_3

8.08 ~ PAGI HARI


Monna tahu si tuan rumah nya sudah pulang begitu mendapati mobil pribadinya terparkir di halaman villa, jadi monna memutuskan untuk memasak sarapan demi menyambut kembali nya aiden ke kota gurry.


Banyak hidangan yang di sajikan monna di meja makan tapi si tuan rumah sepertinya terlalu lelah sampai belum menunjukan batang hidungnya dari kamar tidurnya.. monna akan membangunkan nya jika aiden belum juga bangun dari tidur nyenyak nya.


Dia harus tetap sarapan, monna tahu beberapa hari belakangan ini aiden makan nya selalu tak teratur.. bagaimana pun aiden tetap harus sarapan meskipun terlambat.


Monna membersihkan dapur setelah di gunakan memasak begitu juga peralatan masak nya yang telah di pakai.


Matanya menyipit belum ada tanda-tanda tuan rumah nya akan keluar dari kamar.. suara jam beker sudah berbunyi sejak beberapa jam sebelumnya tapi aiden seperti nya mematikan nya dan lanjut tidur lagi.


Monna menaiki lantai dua di hunian pribadi aiden, kamarnya sangat senyap pasti aiden masih tertidur lelap di tempat tidurnya.. sampai di depan pintu kamarnya.. monna sengaja menempelkan telinganya di punggung pintu.. ia tak mendengar suara apapun.


Ia memutuskan membuka pintu kamarnya.. seonggok manusia masih terkapar di atas tempat tidur.. kaki nya melangkah masuk lebih dalam ke kamar tidur utama.. si pemilik kamar sama sekali tak terusik.. monna membuka gorden yang menutupi jendela membiarkan cahaya matahari pagi masuk menyinari wajah tampan yang masih terpejam di atas ranjang nya.


"Uhh.. " Aiden menutupi matanya.. silau.


"Bangun!" Monna menghampiri aiden di tempat tidurnya.. menggoyangkan bahunya perlahan.


"Aku masih mau tidur sebentar lagi!" Aiden menarik bantal menutupi wajah nya.. tidurnya terusik oleh tamu nya yang usil ini.


"Sarapan dulu, baru lanjut tidur!" Monna menarik-narik ujung baju tidur aiden.. bersikeras agar si tuan rumah nya dapat bangkit dari atas tempat tidur.


"Tidak mau!" Aiden menyahuti biarpun matanya masih dalam kondisi setengah tertutup.. kupingnya tetap mendengar suara monna yang berusaha membangunkan nya dengan jelas.


"Aku tahu kamu tak makan dengan teratur selama di eropa! Aiden, kamu pulang jadi harus makan. Aku gak akan ganggu tidur kamu sesudah makan!" Monna berusaha merebut bantal yang di gunakan aiden untuk menutupi telinga nya.

__ADS_1


"Tidak!" Aiden menepis tangan monna walaupun tidak kasar tetapi itu justru membuat monna jengkel.. kenapa pria ini sulit sekali di bangunkan padahal cuma membuka mata sebentar untuk sekedar makan sarapan saja.. monna tak kehabisan akal.


Ia melangkah ke toilet kamar tidur si tuan rumah yang masih terlelap.. monna membasahi tangan nya.. mencipratkan air ke wajah tampan yang masih terpejam itu.


"Ahh.. monna.. " Aiden terlonjak.. bangun dari tidurnya.. menyeka wajah nya yang basah akibat cipratan air yang sengaja di buat monna mengenai wajah tampan nya itu.. biarpun jejak lipatan bantal banyak menempel di wajah nya.. aiden tetap terlihat cool di mata monna.


Monna bersedekap dada menunggu aiden mengumpulkan nyawa nya yang masih terurai.. matanya masih setengah tertutup.


"Sekarang masih perlu seember air untuk membantu kamu bangun?"


"JANGAN!!!" Aiden terpaksa melepaskan guling yang masih di peluknya.. meletakan nya ke atas tempat tidur.. matanya menatap sinis gadis yang masih menantinya di tepi tempat tidur.


Aiden beranjak ke toilet menggosok gigi.. monna dapat dengan tenang meninggalkan nya kali ini.. ia turun ke lantai bawah menyendoki nasi yang masih hangat ke atas piring.. piring pertama untuk aiden lalu menyusul untuk dirinya sendiri.


Beberapa menit kemudian aiden terlihat dari anak tangga terakhir yang di pijak nya.


"Mau minum kopi?"


"Jangan.. aku mau lanjut tidur.. " Cetusnya mengambil sendok garpu di sebelah piring nasi nya.. aiden meneguk setengah gelas air putih sebelum menyendoki lauk pauk beserta sayur mayur ke dalam piring makan nya.


Matanya masih mengerjap.. jemari nya mengucek kucek matanya yang teramat berat di ajak kerja sama untuk sekedar menghabiskan sepiring nasi di meja makan.


Monna merasa bersalah pada aiden sepertinya si pemilik hunian pribadi yang tengah di tumpangi nya ini masih teramat letih.. sebegitu keras nya kah aiden dalam bekerja.. selepas membuka mata baru terlihat kedua mata aiden yang memerah akibat kekurangan tidur.


Berapa lama aiden belum menyentuh kasur.. kalau tahu begini monna juga lebih baik mengurungkan niat nya supaya tak menganggu waktu tidur berharga aiden.


Lagipula aiden bukan anak kecil.. cukup sediakan beberapa masakan.. bangun tidurpun ia akan makan sendiri tanpa di suruh.. monna memasang raut wajah memelas.. kasihan pada tuan rumah nya.. sudah di tumpangi masih menyusahkan aiden.

__ADS_1


30 Menit Setelahnya..


Monna membereskan peralatan makan yang habis di gunakan sarapan nya barusan.. membilas semua tumpukan cucian piring kotor di bak cuci dengan telaten.


Monna tersenyum lebar mendapati cahaya matahari yang masuk melalui celah atap di taman belakang.. cuaca hari ini cukup cerah.


Masa masa indah yang tersisa bersama si pemilik hunian pribadi yang tumpangi nya melintas di benak nya.. segenap ketulusan hati aiden.. berbaik pada tamu penggangu yang datang bersarang di kediaman nya.. jadi separuh bagian dari kehidupan nya.


Gambaran sosok pria yang telah menemani hari-harinya.. di tiap sudut ruangan.. tertinggal bayang-bayang aiden bersama nya.. menghabiskan waktu berdua.. bercanda tertawa.. semua akan lenyap.. tertelan waktu.


"Ssshh.. " Monna melukai jari nya sewaktu mencuci pisau sembari melamun.


Terdengar tapak kaki datang dari anak tangga terakhir.. aiden muncul dari sana.. menarik jemari monna yang terluka.. ia mendengar desis suara monna barusan.


"Ceroboh sekali!" Aiden melepaskan pegangan nya pada jemari monna.. mencari-cari kotak obat.. ia mengeluarkan antiseptik bersama plester.. menambal luka nya dengan plester berupaya dapat menghentikan pendarahan nya.


"Terimakasih!" Aiden memutar bola matanya.. menatap gadis ini malah tersenyum bahagia setelah mendapatkan luka gores di jemari nya.


"Hmm.. duduk sana! Biar aku teruskan.. " Monna menyingkir sesuai perintah tuan rumah nya.. aiden mencuci sisa piring kotor di bak cuci dengan teliti.. membersihkan pisau yang terkena bercak darah monna.


Monna termenung menatap kehadiran pria yang tengah membantu meringankan kerjaan nya.. ia duduk di seberang meja kabinet dapur.. punggung lebar aiden.. membuatnya terpaku.. tak dapat mengalihkan pandangan nya pada punggung kekar pria di seberang nya.


Sikap nya barusan.. membuat monna semakin candu pada perhatian-perhatian kecil yang di berikan pria ini padanya.


Biarkan monna menikmati pemandangan indah ini sejenak.. apa sikap aiden akan terus bertahan seperti ini.. monna terus bertanya-tanya yang mana sifat asli aiden.. kadangkala perhatian dan penuh keseriusan.. tatkala juga jahilnya minta ampun.. sampai tak tertolong.


Apa aiden memang suka mempermainkan perasaan wanita.. banyak pertanyaan yang terus berputar di otak monna.. adakah tempat tersendiri untuknya di dalam hati pria ini.. sama seperti monna mengutamakan dirinya di dalam hatinya.. pernahkan aiden menyadarinya.. bila monna memendam rasa untuknya.. apa aiden tak menghiraukan itu walaupun ia tahu bahwasanya monna memiliki tanggapan lain tentang segalanya yang menyangkut aiden? Itu bukan semata-mata dorongan naluriah manusiawi.. melainkan ada benih asmara yang tumbuh untuknya.

__ADS_1


__ADS_2