
Selepas meluapkan kemarahannya terhadap tindakan yang diambil ayah kandungnya tanpa persetujuan dari aiden, ia memutuskan untuk pulang ke fortune house mengabaikan semua muslihat busuk ayahnya.
"Memangnya dia pikir? Dia siapa? Hah!" Aiden mendengus sebal terhadap tingkah menjengkelkan ayah kandungnya yang semena-mena itu. Joy yang berusaha konsentrasi mendengarkan segala keluh kesah sahabatnya sejak semalam.
"Aiden!"
"Apa!" Sahut aiden dengan nada tajam membuat joy yang berencana menyampaikan soal kepergiannya ke eropa tertunda.
"Gak jadi!" Aiden mengerenyit merasa ada yang aneh pada tindakan sahabatnya satu ini. Tidak seperti biasanya.
"Katakan!" Aiden mengaduk secangkir americano yang dibuatnya lalu menghampiri joy dimeja makan sembari menunggunya bicara. Joy mengambil posisi yang nyaman untuk mengobrol dengannya.
"Aku akan kembali ke eropa selama tiga bulan!"
"Ada masalah serius kah disana?" Aiden terdiam begitu mendengar kabar yang disampaikan sahabatnya.
"Hmm.. Rumah sakit tak bisa berjalan lancar sepertinya tanpa aku!"
"Keberadaan mu memang sangat penting, kamu harus mengedepankan kesehatanmu juga!"
"Aku seorang dokter lihai dalam merawat diri sendiri apapun gejalanya aku bisa merasakan sendiri!"
"Cihh.. Sombong!" Aiden terkikik mendengar apa yang baru saja diucapkan sahabatnya.
"Paling cepat dua bulan, aku sudah bisa pulang kesini!"
"Maka usahakan yang terbaik supaya bisa cepat kembali! Kapan berangkat?"
"Tiga hari lagi!"
"Mendadak sekali!?" Seru aiden agak kurang menerima kenyataannya. Ia tak mengira joy akan berangkat secepat itu.
"Hei! Aku belum berangkat kamu gak usah merasa kehilangan seperti itu!"
"Mana ada!" Aiden menutupi kecemasannya pada joy yang mulai usil padanya.
"Baiklah! Aku harus pulang sekarang!" Tampang murung aiden benar-benar sulit di kendalikan joy terkekeh melihat sahabatnya padahal masih ada wigen yang dapat menemaninya.
"Dah! Aku pergi!" Aiden memilih tak mengantar sahabatnya sampai pintu keluar itu hanya akan menampakan rasa sedihnya. Sejak kecil mereka selalu bertiga begitu berat rasanya ketika salah satu dari ketiga bocah itu memutuskan meninggalkan salah satunya dikota sendirian, seharusnya ini sudah bisa jadi tradisi diantara dua sahabatnya kecuali wigen yang memilih menetap di kota kelahirannya tetapi itu tak menutup kemungkinan takutnya sekali pergi wigen tak akan kembali lagi.
Kringgg
Aiden menatap layar ponselnya terpampang jelas nama AYAH muncul dari layar ponselnya membuat aiden dongkol sekali menatap nama itu.
...[Panggilan Masuk]...
^^^"Hallo!"^^^
"Dimana kamu?"
^^^"Tak perlu mencari tahu!"^^^
"Monna mencari mu!"
^^^"Untuk apa?"^^^
"Dia datang sendiri kesini!"
^^^"Berikan saja nomer teleponku padanya!"^^^
"Huh.. Baiklah"
...[Telepon Terputus]...
Aiden menggaruk kepalanya itu bukan kehendak laki-laki tua tetapi ada apa monna mencarinya sampai datang sendiri ke kediaman lingga. Cukup berani.
...[Pesan Masuk]...
Aku monna!
^^^Aku tahu! Ada apa?^^^
Kamu dimana?
^^^Entah..^^^
Aku akan kesana, kirim
alamatnya!
^^^Ada kepentingan^^^
^^^apa? Kamu diperintah^^^
^^^ayahku untuk kesini?^^^
^^^Hmm?^^^
__ADS_1
Bukan! Ini
perintah papiku!
biarkan aku menemui
mu! Kumohon! 🥺
^^^Ck..^^^
Bukannya aku
sudah membantumu?
jadi, kali ini kamu yang
harus membantuku!"
^^^Licik! Aku ingin^^^
^^^tapi aku tak bisa^^^
^^^membiarkan lokasi^^^
^^^ku diketahui ayahku.^^^
Aku bersumpah!
Tidak akan
membocorkan lokasi
mu pada ayahmu!
^^^Apa kamu bisa^^^
^^^dipercaya?^^^
Kurang terbukti
juga setelah apa
yang aku lakukan
untukmu
^^^Keras kepala!^^^
Kamu akan?
^^^Kamu pikir aku^^^
^^^mudah termakan^^^
^^^omong kosong itu?^^^
Biarkan aku!!!!!!
😩😩😩😩
^^^Aku tidak tergerak!^^^
^^^Sama sekali!^^^
Papiku,
mengancamku
untuk menjodohkan
ku dengan pria dari
keluarga bangsawan
inggris yang bernama
jarvis jaelivano!
^^^Orang gila itu?^^^
Kamu juga tahu
betapa buruk
reputasinya!
Bisakah sekali
__ADS_1
ini saja? 🥺
^^^Baiklah!^^^
^^^Sebentar bila^^^
^^^aku membantumu^^^
^^^artinya aku yang^^^
^^^akan ditetapkan^^^
^^^sebagai kandidat^^^
^^^resmi perjodohan ini?^^^
^^^Kamu membodohi ku?^^^
Ahh.. Ini hanya
rencana cadangan
sisanya biar aku urus!
Apa kamu pikir, aku
juga menerima
perjodohan ini?
^^^Sepertinya aku bisa^^^
^^^membantumu^^^
^^^karena kita berada^^^
^^^di pihak yang sama!^^^
Kali ini saja!
^^^Tapi, kamu akan^^^
^^^memberiku apa?^^^
^^^sebagai kompensasi^^^
^^^atas kebaikan yang^^^
^^^telah aku berikan?^^^
Apapun itu!
^^^Jangan mencoba-coba^^^
^^^untuk menarik kembali^^^
^^^tentang apa yang sudah^^^
^^^kamu janjikan padaku!^^^
^^^jangan menyesalinya,^^^
^^^Monna Pietro!^^^
Akhirnya aiden mengirimi alamat detail villa pribadinya tanpa berpikir panjang monna menginjak pedal gas mobilnya bergegas menuju fortune house dimana si tuan muda lingga berada.
Tanpa ragu monna melangkah masuk ke dalam villa yang hanya ada seorang pria asing yang baru dikenalnya dalam waktu semalam, aiden membuka pintu rumahnya mempersilahkan tamu spesialnya masuk ke dalam hunian pribadinya.
"Kamu takut pada jarvis jaelivano tetapi malah mengambil langkah untuk pergi menemui ku! Apa kamu gak takut sama aku?" Monna mencengkram gelas yang berada ditangannya. Monna menggelengkan kepalanya.
"Aku bisa saja lebih gila daripada jarvis, memangnya kamu tahu aku?" Monna kembali menggelengkan kepalanya yang membuat monna resah sekarang yaitu soal perjodohannya dengan jarvis jaelivano. Perkara aiden monna dapat menyingkirkan masalah ini sementara waktu dari pikirannya.
"Aku hanya tahu jika kamu masih bisa diajak bernegosiasi ketimbang jarvis!"
"Begitu percaya diri?"
"Dan hasilnya tidak sia-sia bukan? Kamu menerima tawaranku biarpun aku tahu didunia ini tidak ada yang gratis!" Aiden mengembangkan senyumnya terkadang ada sisi seperti ini juga dari gadis bangsawan yang sedang duduk diatas sofa rumahnya.
"Kamu seperti landak!" Monna mengerenyitkan dahinya mendengar penuturan yang dilontarkan aiden padanya. Monna menatap aiden penuh tanda tanya.
"Kamu bisa mengeluarkan durimu waktu merasa terancam dalam bahaya!" Monna tersenyum mendengar aiden memberikan julukan unik itu padanya, ini kali pertama monna merasa sangat beruntung pada situasi mencekik begini. Monna mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
"Bisakah kita ber-swafoto?" Aiden menaikan sebelah alisnya bertanya-tanya.
"Untuk laporan pada papiku jika aku sudah memutuskan untuk kembali padamu!" Aiden mengangguki kepalanya mengerti, ia merebut ponsel monna biar dirinya yang mengatur posisi fotonya sesuka hatinya. Aiden merangkul monna agar ilusi yang dibuatnya tampak sangat nyata.
Tetapi tanpa aiden sadari semua hal sepele yang biasa digunakan aiden pada gadis-gadis lain telah membuat gadis bangsawan itu terbuai dalam pesonanya. Monna juga tampak menikmati perlakuan khusus yang diberikan aiden padanya. Akankah ini jadi sebuah takdir atau justru malapetaka?
__ADS_1