
Di pagi hari yang cerah kepalanya terasa berat akibat alkohol yang dikonsumsinya terlalu banyak semalam, hari ini aiden memutuskan untuk ikut berkunjung ke pemakaman mendingan ibunya bersama ayahnya.
Aiden bangun langsung bergegas menuju kamar mandi segera. Jam masih terus terdengar berdetak waktu masih berjalan.
30 Menit Kemudian..
Aiden mengenakan pakaian serba hitam beserta jas yang dikenakan meningkatkan daya tariknya bahkan diri sendiri tak sanggup menolak keindahan tuhan yang telah diciptakan pada dirinya. Sempurna.
Brakk
Ia melangkah menuruni lantai tangga rumahnya terlihat ayahnya sudah menanti kehadiran putranya dari kejauhan, lingga buana tersenyum menatap putranya disana.
"Ini!" Ayahnya menyodorkan seikat bunga pada aiden tentu dengan bunga yang berada ditangan lingga buana sendiri pun tak lepas dari pandangan aiden.
"Banyak sekali!"
"Ini caraku mengungkapkan ketulusanku pada mendiang istriku!"
"Bergurau lagi!" Aiden berdecak sebal meninggalkan ayahnya yang terus bergurau mengatakan omong kosong terlalu telat untuk bicara soal ketulusan untuk sekarang ini. Ayahnya tersenyum melihat punggung putranya yang mulai menjauh.
Kedua ayah dan anak itu memasuki mobilnya meninggalkan pekarangan kediaman lingga.
Dalam perjalanan mereka terus beradu argumen perihal masalah-masalah sepele.
PEMAKAMAN KENDI
Aiden berdiri didepan makam mendiang ibunya setelah meletakkan bunga diatas sana ia melipat tangannya sebagai tanda hormat pada mendiang.
__ADS_1
"Maaf ibu! Aku baru datang lagi. Bagaimana kabarmu? Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja jadi aku yakin kamu bisa tenang sekarang!"
Tuan besar lingga datang dari samping putranya meletakkan bunga diatas pemakaman.
"Istriku! Aku berjanji akan mengurus putra kita dengan baik!" Aiden menepis rangkulan tangan ayahnya yang bertengger di bahunya
"Jangan ucapkan janji yang belum tentu bisa kamu tepati, aku tak mau membuat ibu menunggu lagi!" Tatapan sengitnya ia lemparkan pada ayahnya yang masih berdiri disebelahnya.
"Lihatlah! Keras kepalanya persis sepertimu, putra kita selalu mengingatkanku padamu!" Lingga buana terus berceloteh seolah mengobrol dengan mendiang istrinya. Aiden menjauh memberikan ayahnya ruang dan waktu supaya dapat berbincang dengan istrinya.
"Putra kita sudah besar sekarang, aiden tumbuh terlalu cepat. Kulitku sudah mengisut bahkan rambutku perlahan mulai berubah memutih. Cepat atau lambat, aku pasti akan menemuimu suatu hari nanti..."
"Garini, kamu masih jadi cinta pertama dan terakhirku. Aku akan membesarkan aiden hingga aku dapat melihatnya bahagia apalagi bisa sampai memberikan kita cucu, aku masih ingat. Kamu sangat menginginkan itu!" Tuan besar lingga tersenyum bersamaan dengan jari lentiknya yang mendarat diatas makam mendiang istrinya.
"Ahh.. Dia curhat apa si?" Di lain tempat aiden menggerutu. Entah apa yang disampaikan ayahnya sampai membuatnya begitu lama berdiam diri didekat makam ibunya.
"CEPATLAH PAK TUA! MATAHARINYA SEMAKIN TERIK!" Suara putranya menggema disekitar pemakaman yang cukup sunyi ini tak banyak yang berkunjung hari ini. Tuan besar mendengar keluhan putranya ia memutuskan agar segera bergegas sebelum aiden geram akibat kelamaan menunggunya.
Ayah dan anak itu pergi meninggalkan pemakaman sepanjang perjalanan aiden terus mengeluh karena kulitnya terasa terbakar matahari akibat menantinya membicarakan omong kosong panjang pada mendiang ibunya di pemakaman.
Tiba di kediaman lingga aiden pergi ke kamar tidurnya begitu juga dengan ayahnya setelah mengantar aiden pulang ia bergegas kembali ke perusahaan yolanda karena ada rapat penting yang harus dihadiri.
Aiden memutuskan untuk pergi ke tempat pelatihan taekwondo dimana dia selalu menghabiskan akhir pekannya dahulu disana melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat cukup bagus mengisi waktu senggang seperti sekarang ini.
Beberapa menit setelah sampai di lokasi aiden langsung bergegas berganti pakaian putih yang akan dikenakan nya selama berlatih, joy datang mengunjungi aiden disana meski tak berniat untuk bermain setidaknya joy bisa jadi teman yang dapat mendukung salah satu hobi sahabatnya.
"Joy! Untuk apa kamu datang jika memutuskan tidak bermain?"
__ADS_1
"Aku akan jadi supporter kamu disini!" Joy menyilangkan kakinya sembari duduk disalah satu kursi di dalam dojang.
"Ganti pakaianmu dan bermainlah bersamaku disini!" Joy menghembuskan nafasnya karena ini permintaan pertama aiden selepas pulang lagi ke kota gurry, joy memutuskan akan ikut bermain menuruti kemauan sahabatnya.
Joy kembali dengan mengenakan pakaian putih serta tali ikat pinggang biru yang menghias penampilan nya yang tampak agak berbeda dari biasanya biarpun sama sama putih dengan jas lab kedokterannya. Aiden tersenyum sumringah mendapati joy dengan pakaian putih yang terlihat seperti lelucon dimatanya. Sangat tidak pantas.
Mereka berdiri ditengah matras bersiap untuk saling melemparkan serangan tanpa disadari joy telah diserang duluan oleh sahabatnya aiden berhasil menjatuhkan joy, joy merasa menyesal telah mengikuti kemauan aiden tapi semuanya sudah terlalu terlambat untuk disesali.
Berulang kali joy berhasil dijatuhkan aiden ia sama sekali tak memberikan peluang untuk memenangkan pertandingan pada sahabatnya, joy.
Mereka berdua saling terkapar diatas matras dengan nafas terengah-engah, aiden mengambil sebotol air mineral yang berada diatas kursi.
"Sudah lama tak olahraga, badanku terasa sakit!" Aiden memutar lengannya lalu mematahkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Joy bangkit dari atas matras menatap kondisi aiden yang masih baik-baik saja mustinya joy yang banyak mengeluh disini.
"Tsk.. Harusnya aku yang mengeluh begitu!" Aiden terkikik mendapati raut wajah murung sahabatnya tetapi ia merasa itu bukan urusannya sama sekali.
"Memang membawa kesenangan tersendiri bisa membuatmu jungkir balik seperti itu!" Joy mendesis mendapati wajah sumringah aiden setelah joy bersusah payah menahan serangan nya itu.
"Senangkah? Hah? Kamu harus menebusnya sekarang!" Aiden merangkul sahabatnya membawa mereka menuju ruang ganti.
"Baiklah! Apa yang kamu inginkan?"
"Aku mau satu gedung apartemen olister milikmu!"
"Sialan! Itu tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan."
"Ayolah!"
__ADS_1
"Kamu mau mati ya?"
"HAHAHA!"