
Aiden menatap layar ponselnya yang berdering.. satu panggilan masuk datang dari kekasihnya.. monna.
...[Dalam Panggilan]...
^^^"Hallo!"^^^
"Kamu, bagaimana disana?"
^^^"Mengkhawatirkan aku?"^^^
"Hmm.. "
Dengan lemah aiden tersenyum memandang jemarinya yang sudah berhenti gemetar.. gak perlu di tanya.. aiden tahu monna mengetahui kondisinya sekarang dari morgan.
^^^"Aku baik-baik saja!"^^^
"Jangan selalu bilang baik-baik saja!"
Aiden senang.. monna terdengar perhatian padanya.
^^^"Kalau tidak baik-baik pun, memangnya kamu bisa apa?"^^^
"Maka aku akan berangkat menyusulmu!"
Aiden tak bisa menahan senyuman nya.
^^^"Kapan berangkat ke miami buat studi kamu?" Terdengar monna yang mendengus kasar di seberang telepon nya.. di saat begini masih sempat memikirkan masalah orang lain.^^^
"Seminggu lagi!"
^^^"Aku minta morgan yang jemput kamu yah di kota gurry?"^^^
^^^Aiden masih meminta persetujuan monna.. walaupun itu sudah jadi rencana nya semenjak membawa monna ke masion pribadinya.^^^
"Hmm.. baiklah!"
^^^"Pasti membosankan disana?"^^^
"Kamu juga merasakan nya tanpa aku.. bagaimana?"
Aiden terkekeh.. anak ini makin pintar membalikan pertanyaan yang di lemparkan aiden padanya.
^^^"Sama.. aku kesepian!"^^^
"Jaga kesehatan mu.. jangan buat aku khawatir terus!"
^^^"Maaf, sudah membuatmu khawatir."^^^
"Hah! Sudahlah, ku dengar disana banyak yang merawat mu juga."
__ADS_1
^^^"Jadi, kamu gak akan menghiraukan keadaanku lagi?"^^^
"Gak juga!"
^^^"Lantas, kenapa bicaramu seolah seperti akan mengabaikan aku?"^^^
"Aku terlalu banyak berpikir."
^^^"Refresh otak sedikit sebelum menghadapi studi mu di miami nanti!"^^^
"Yah, mau bagaimana bersantai? Gak bisa tenang dikit.. tahu-tahu mendengar beritanya sakit!"
Aiden kian merasa bersalah.. apa kabar buruk dari morgan membuat monna jadi membatasi ruang pergerakan nya.
^^^"Maaf!" ^^^
^^^Suaranya yang terdengar sendu.. mengiris hati kekasihnya di seberang telepon.. walaupun agak salah sedikit.. monna lah pelaku utamanya pemicu penyakit yang di derita kekasihnya.. ini gak sepenuhnya kesalahan aiden.. jadi monna menganggap semuanya impas.. monna akan berdamai dengan amarah nya yang meluap kemarin-kemarin.^^^
"Kamu gak salah kok! Gara-gara aku, kamu jadi sakit begini."
^^^"Jangan menyalahkan diri sendiri, monna." ^^^
"Lalu siapa yang akan di salahkan?"
Aiden tersenyum mendengar pertanyaan kekasihnya.
^^^"Ini bukan salah kita berdua.. memang penyakit siapa yang tahu kapan datangnya!"^^^
"Sudah makan?"
^^^"Baru makan bubur!"^^^
"Berhenti merokok dulu, apalagi minum!"
Aiden tersenyum mendengar sifat posesif kekasihnya.
^^^"Iya, nyonya aiden!" ^^^
^^^Monna tersipu malu mendengar panggilan yang dibuat kekasihnya.^^^
"Istirahatlah! Aku matikan telepon nya!"
^^^"Aku gak akan ganggu waktu pribadimu."^^^
"Kamu gak pernah ganggu, bodoh!"
Aiden terkikik mendengar monna dengan nada suara kesalnya.. ia tahu monna mengharapkan panggilan nya kapanpun di setiap waktu senggang nya.. aiden memahami suasana hati tuan putrinya.
^^^"Aku hubungi lagi nanti yah?"^^^
__ADS_1
"Emm.. "
^^^"Selamat malam, monna!"^^^
"Malam!"
...[Panggilan Terputus]...
Aiden menatap matahari yang masih bersinar terang di portugal namun sudah waktunya tidur di kota gurry.. sesudah mendapati asupan dari daylon.. sekarang sahabat sejawatnya itu masih setia membantu menyelesaikan pekerjaannya yang masih menumpuk di meja kerja.
Aiden turun dari atas tempat tidur.. keluar dari singgasana nya.. mendapati sahabatnya yang masih sibuk mengerjakan setumpuk dokumen di meja kerjanya.. daylon mendengar suara pintu terbuka.. mendapati pasien itu keluar dari tempat istirahatnya.
"Apa yang coba kamu lakukan?" Daylon berlari berniat memapah aiden yang masih susah berjalan.
"Aku baik-baik saja! Pergi sana!" Daylon mendengus kesal.. berniat membantu justru di usir secara terang-terangan oleh bos besar tacenda ini.
Sampai di sofa ruang kerjanya.. daylon beranjak kembali ke meja kerja aiden.. menyelesaikan setumpuk tugasnya yang dikerjakan sampai malam pun belum tentu selesai.. padahal daylon merasa sudah banyak membantunya meringankan dikit demi sedikit pekerjaan aiden.. tapi alhasil setumpuk dokumen terus berdatangan.
"Kamu harus menaikan gajiku, dokumen ini biarpun aku bantu kerjakan sampai harus lembur belum tentu selesai hari ini!"
"Kalau gak niat membantu menyingkir saja dari kursiku, aku masih mampu mengerjakan nya!" Aiden mendengus kesal mendapati omong kosong dari sahabatnya yang berniat membantu tetapi hanya separuh jalan.. tak menuntaskan nya hingga akhir.. kenapa perhitungan sekali.. biasanya juga daylon yang mengerjakan semua itu bila tanpa kehadiran dirinya di tacenda.
"Kenapa serius sekali? Aku bercanda!" Aiden tahu di dalam hati daylon merutuki sahabatnya.. ini bukan kemauan nya untuk sakit.. apalagi daylon mustinya tahu aiden teramat benci rasa sakit.. aiden akan terus memaksakan diri.. mengabaikan rasa sakit yang di deritanya.
Jika saja hal ini terjadi tanpa diketahui siapapun.. aiden memilih menyembunyikan rasa sakitnya daripada harus memanjakan diri untuk banyak meluangkan waktu istirahat.. terlalu berlebihan baginya.
Aiden melipat lengan kemeja panjang yang di kenakan nya.. matahari terang tetapi salju terus turun.. cerah matahari yang gak seberapa tak menghalangi salju untuk terus-menerus berterbangan menghiasi langit di portugal.
Ada rasa rindu yang tercampur aduk pilu yang di derita bos besar tacenda ini.. apa ayahnya sama sekali tak berniat membujuk nya.. domainic sungguh-sungguh mengabaikan putra semata wayangnya.. perang dingin ini pertama kali terjadi di antara hubungan ayah dan anak ini.. aiden tahu, sikapnya keterlaluan semalam.. walau begitu.. ayahnya juga harus sadar pada kesalahan nya sendiri.. selama ini aiden selalu patuh pada perintah ayah angkatnya.. tetapi tidak dengan permintaan konyolnya yang satu itu.
"Bertengkar dengan tuan besar weston?" Aiden tak dapat menutupi suasana hatinya yang berantakan dari daylon.. sahabat yang tumbuh bersamanya di eropa.
"Hmm.. "
"Kenapa? Kalian bukan biasanya langsung akur lagi?"
"Aku gak mau minta maaf padanya, kali ini dia yang salah!"
"Ohh.. perang dingin nya masih berlanjut? Sepertinya cukup serius?"
Aiden mendengus kasar, mengingat sikap ayahnya yang berubah secepat kilat dalam semalam.
"Permintaan konyol, ayah memintaku menjadwalkan ulang waktu untuk menyempatkan diri melakukan kencan buta dengan gadis konglomerat dari seluruh mancanegara!" Daylon membulatkan matanya.. tapi apa yang salah, biasanya juga aiden gak pernah membantah perintah dan larangan ayah angkatnya.
"Bukannya kamu hanya selalu tunduk pada perintah dan segala larangan, tuan besar weston?"
"Ini gak wajar, daylon. Kamu tahu? Ayahku gak pernah menarik kembali ucapan yang sudah terlontar dari mulutnya.. seketika sikapnya berubah dalam semalam!" Aiden masih berpikir keras.. alasan apa yang membuat ayah angkatnya merubah pendirian nya dalam waktu yang singkat.. kesalahan apa yang telah diperbuatnya.
"Kenapa gak kamu tanyakan jawaban yang pasti pada tuan besar weston?"
__ADS_1
"Dia gak mau memberitahu ku alasan jelasnya di balik penyebab perubahan sikap yang gak signifikan nya ini!" Aiden pusing.. pada permintaan ayah angkatnya.. gak mungkin juga dia menuruti kemauan nya yang ini.. di lain sisi ayah angkatnya bukannya seharusnya mendukung hubungan nya dengan monna.. ada apa dengan nya? Aiden masih harus menggali kuburan ayah angkatnya sendiri.
"Koreksi diri dahulu! Tuan besar weston, gak merubah pendapat tanpa alasan bukan?" Benar, pasti ada penyebab di balik perubahan emosi ayah angkatnya yang tiba-tiba tak terkontrol dalam jangka waktu sesingkat itu.