European Sky King

European Sky King
POTONGAN MEMORI


__ADS_3

Megan mengigit kukunya di dalam mobil.. setumpuk kebencian terhadap gadis yang mendapat perhatian dari cinta sebelah tangan nya.. apa yang harus di lakukan nya sekarang.


"Siapa gadis itu?" Megan bergumam di dalam mobil.. ia mendapati aiden sudah pergi dari restoran terlebih dulu.. sebelumnya memang dirinya yang pamit undur diri dari sana.. entah kemana perginya pria dingin itu akan tetapi hal itu bukan jadi masalah utamanya sekarang.


Megan menatap layar ponselnya menghubungi salah seorang rekan yang dapat di andalkan nya.


...[Panggilan Keluar]...


^^^"Hallo!"^^^


"Megan, apa yang membawamu menghubungi ku?"


^^^"Aku butuh bantuanmu sekarang!"^^^


"Ada apa?"


^^^"Bisa selidiki satu gadis?"^^^


"Ohh.. siapa yang menyinggung mu kali ini?"


^^^"Panjang ceritanya! Aku kirimkan jelasnya melalui pesan singkat."^^^


"Oke kutunggu!"


...[Panggilan Terputus]...


Megan mengirimkan nama beserta kota asal gadis yang diketahuinya.. semoga bisa membantu katanya.


TACENDA MAXIMILIANO


Aiden memasuki rumah bordilnya yang terlihat ramai pengunjung di weekend ini.. anak buahnya banyak yang menyambut kedatangan bos besarnya yang berkunjung di tacenda.


"Mana morgan?"


"Dalam perjalanan bos!" Aiden mengangguk.. kakinya melangkah ke ruangan pribadinya.


Kreakkk

__ADS_1


Seonggok manusia sudah menantinya di atas sofa.. apa yang membawanya kesini.. tentu, kurang kerjaan pastinya.. apalagi yang bisa di jadikan alasan utamanya selain bersantai ria.


"Kamu kurang kerjaan?" Aiden menanggalkan jas yang di kenakan nya sebagai luaran di gantungan baju.


"Aku sudah sibuk mengurus persiapan cabang baru selama kamu gak ada disini, masih bilang aku gak ada kerjaan!" Daylon menyahuti atasanya alih-alih sahabatnya.


"Heh! Masih punya waktu buat berleha-leha, sibuk apanya?" Daylon dongkol mendengar penuturan yang di tujukan aiden padanya.. daylon bangkit dari atas sofa mendekati bos besarnya di kursi kebesarannya.


"Emm.. aku dengar ada orang yang sedang di rundung masalah asmara!" Aiden mengabaikan sindiran yang di lemparkan daylon padanya.. matanya menatap intens pada data-data di komputernya sembari menyibukan diri menandatangi beberapa tumpukan dokumen.


"Aku akan membantumu menampung keluh kesahmu kawan!" Aiden jengah sudah pada omong kosong sahabatnya ini.. ia meletakan pulpen nya di atas meja dengan kasar.


"Kamu ini beneran kurang kerjaan yah?" Aiden melemparkan tatapan sengit pada sahabatnya yang bertindak konyol di jam kerja begini.. sebegitu senggang nya harus menjahili nya sekarang.


"Aku bercanda! Kenapa serius sekali." Daylon beranjak ke atas sofa kembali.. membiarkan bos besarnya konsentrasi pada setumpuk pekerjaan yang menantinya.. sementara daylon menikmati waktu senggang nya di ruang kerja aiden.. memainkan ponsel sembari menghabiskan camilan di atas meja.


Aiden sendiri gak tahu harus berbuat apa.. disini siapa yang bos dan siapa yang bawahan.. daylon terlalu meremehkan jabatan nya.. di salah gunakan dalam urusan pribadi.. aiden bisa saja mengusirnya keluar dari tacenda.. kapanpun dia mau.. bukan berarti karena teman bisa seenak jidatnya.


Aiden mendesah pasrah pada kelakuan sahabatnya ini.


Tok tok


Morgan melangkah masuk ke dalam ruang kerja bos besarnya masih mendapati satu bocah somplak di dalam ruangan nya.. di jam kerja bukan melaksanakan tugasnya justru bersantai-santai di depan bos besarnya.. gak takut mati.


"Sudah datang?" Morgan membungkukan badan nya.


"Baru saja bos!"


"Gimana kemajuan bangunan konstruksi di asia?" Matanya tetap terfokus pada layar komputer dan kertas dokumen yang menumpuk di meja kerjanya.


"Lancar bos.. cuma pembangunan di malaysia masih perlu persetujuan resmi dari dewan perwakilan malaysia!"


"Ada masalah?"


"Dia mau bos besar yang turun tangan langsung dalam menangani ini!"


Aiden menahan pergerakan tangan nya kegiatan nya terjeda sebentar.. mendengar ada masalah baru lagi.. semua selalu gak bisa berjalan mulus seperti harapan nya.

__ADS_1


"Siapa perwakilan anggota dewan nya?"


Morgan melangkah maju mendekati meja kerja bos besarnya.. menyerahkan selembar kartu nama yang tertera disana.


"Namanya Datuk Darul Muttaqien!" Aiden mengambil kertas kecil.. kartu nama anggota dewan yang akan berurusan dengan nya kali ini.. masalah apalagi yang akan datang menjemputnya.


"Bisa aku menghubunginya?" Morgan merundukan kepalanya.


"Bisa, dengan menyembut nama anda.. beliau pasti mengerti!" Aiden mengangguk memahami maksud ucapan anak buah nya.


"Kamu boleh pergi dulu!" Morgan pamit undur diri dari dalam ruang kerja bos besarnya.. daylon bangkit dari atas sofa.. menghampiri aiden di meja kerjanya.. yang masih menimang-nimang.


"Aku dengar dia pandai membatasi pergerakan lawan nya.. hati-hati pada permainan siasat nya!"


"Aku akan menghubunginya dahulu!" Aiden akan memastikan kebenaran ucapan rekan nya ini melalui nada bicaranya.. barupah aiden dapat menarik kesimpulan gelagat lelaki tua ini.


Aiden mengambil telepon genggam nya.. menepi memandang keluar gedung pusat tacenda di potugal ini.. salju masih terus turun menghiasi pemandangan kota lisbon disini.. aiden menatap secarik kartu nama yang di dapat dari bawahnya.. aiden mengingat ulang memorinya.. namanya serasa tak asing di telinganya.. apa orang tua ini mengenalnya.


Ada rasa bimbang yang menyelimuti bos besar tacenda ini.. ketakutan melumpuhkan percaya dirinya.. mendorong nya ke jurang kematian.. ada yang salah dengan nya.. ada apa dengan potongan memori menyakitkan ini.. aiden telah melupakan sesuatu di dalam ingatan nya.. tangan nya mencengkram erat rambutnya.. daylon menyadari itu.. mendekati rekan nya yang sedang di rundung risau.


"Ada apa? Sebegitu sulit?" Daylon merangkul bahu kekar sahabatnya.. pancaran mata sendu aiden seolah-olah dapat menyayat hati siapa saja yang melihat kondisinya sekarang.


"Ada yang salah denganku!" Daylon mendapati raut kacau sahabatnya.. menuntun aiden untuk duduk ke atas sofa di ruang kerjanya.


"Bicara yang jelas.. katakan padaku! Kamu mengenal datuk darul?" Daylon menarik kartu nama dari genggaman tangan aiden.. secarik kertas itu hampir tak terbaca tulisan nya.


"Aku.. tidak tahu! Ada yang menganggu pikiranku begitu mendengar namanya.. ada sesuatu yang sudah aku lupakan!" Aiden menggosok wajah nya yang mendadak mengeluarkan keringat.. sepotong memori ini.. mengingatkan kembali luka lamanya.. aiden sempat di tindas sekumpulan gengster yang teramat mengerikan di kota gurry.. di usia yang masih kecil.. darul.


Apa hubungan nya dengan darul.. aiden gak bisa menemukan pecahan memori yang menghilang di dalam ingatanya.. daylon mengambilkan segelas air putih untuk sahabatnya.. baru kali ini daylon mendapati tampang yang amat *putus asa* begini dari sahabatnya yang selama belasan tahun ini tumbuh besar bersamanya di eropa.


Aiden meneguk air putih itu.. tangan nya gemetaran hebat.. daylon merasakan hawa dingin keluar dari tubuh rekan nya.. ada masalah pada sahabatnya ini.


"Aku bawa kamu ke ruang istirahat!" Daylon membantu memapah aiden ke ruang istirahat di ruang kerjanya.. baru sebentar berbaring di atas tempat tidur.. aiden langsung memejamkan matanya.. kondisinya yang kurang fit juga membatasi aktivitasnya dalam menjalani pekerjaan nya.


Daylon menarik selimut menutupi seluruh tubuh aiden sesudah membantunya membuka sepatu.. daylon keluar dari tempat istirahatnya.. kebetulan morgan datang ke ruang kerja bos besarnya.. mendapati daylon yang baru keluar dari tempat istirahat bos besarnya.


"Bos?" Daylon menahan nya.

__ADS_1


"Di dalam, aku mau bicarakan sesuatu dengan mu!" Tampang serius daylon membuat morgan resah.. apa terjadi sesuatu pada bos besarnya.. kesalahan apa yang telah dibuatnya?


__ADS_2