
RUANG TAMU KEDIAMAN BESAR WESTON
Kecanggungan terjadi antara ayah dan anak ini.. aiden masih belum menduga ada hal lainkah yang ingin di sampaikan ayahnya pada dirinya.. kenapa wajah nya amat serius waktu menemui aiden kembali dari samping rumahnya sehabis memberi makan anak kucing liar yang di temuinya.
Suasana hati ayahnya teramat berpengaruh padanya.. apa aiden menyinggungnya?
"Apa yang ingin ayah katakan?" Aiden berusaha mencairkan suasana tegang ini.
"Gimana hubungan mu dengan gadis bangsawan itu?" Ayahnya masih bersedekap dada tapi enggan memandang wajah putranya yang duduk tepat di sebelahnya.
"Lumayan!" Domainic menoleh menatap kedua manik mata putranya.. dari pancaran matanya aiden masih belum jelas pada perasaan nya untuk monna.. ia mengutus beberapa putri konglomerat di eropa untuk mengadakan kencan buta dengan putra semata wayangnya ini.. itu satu hal yang dapat di pastikan oleh ayah angkatnya sekarang.. gak ada yang akan menghalangi langkah aiden ke depannya selama putranya gak menjalin hubungan dengan gadis bangsawan itu.
__ADS_1
"Kalau gak suka jangan di paksa.. biar aku yang atur jadwal kencan buta dengan gadis lain untukmu besok." Aiden melemparkan tatapan sengit pada ayah angkatnya.. apa maksud dari ucapan nya barusan.. aiden gak bilang menolak monna.. biarpun ayahnya yang paling tahu mengenai aiden.. aiden gak mau ayah angkatnya jadi diktator seperti lingga buana.. dia bilang.. aiden yang harus mengatur jalan hidupnya sendiri namun apa yang di dengarnya hari ini.. apa gak salah? Ayahnya gak pernah merubah pendapat nya secepat ini.. ada masalah apa sebetulnya?
"Kamu kenapa ayah?" Aiden bangkit dari atas sofa.. menolak keras kemauan ayahnya.. apapun akan di turutinya kecuali yang ini.. selesai percekcokan perihal jodoh yang di tetapkan lingga buana kali ini ayahnya yang akan mengekang nya.. ini bukan ayahnya yang di kenal aiden.. apa ayahnya mencoba menjilat ludah sendiri.
"Kenapa diam? Ayah kamu masih ingat ucapanmu beberapa jam yang lalu? Kamu bilang jangan biarkan orang lain merengut kebahagiaan ku.. tapi sekarang.. apa yang coba kamu lakukan?" Aiden masih gak habis pikir pada kemauan ayah angkatnya.. mereka berdua sama saja rupanya.. aiden selalu berjuang di garis depan usahanya.. merelakan nyawanya yang bisa saja terancam tiap saat demi kemajuan bisnis gelap ayah angkatnya.. dirinya yang kotor bahkan gak berani mengungkap jati diri sebenarnya pada wanita yang di cintanya.. hingga publik pun di bodohi penampilan nya.
Domainic masih tak bergeming mendapati tindakan putranya yang mulai tak dapat mengontrol diri.. emosinya hampir meledak di depan ayah angkatnya.. domainic orang yang paling mengenal jelas karakter putra semata wayangnya pun.. mengabaikan sikap membangkang aiden.. ini pengalaman pertama.. ayahnya menyaksikan putranya yang berani meninggikan nada bicaranya pada orang tuanya sendiri.. ia masih penasaran sejauh apa gadis bangsawan itu membawa perubahan pada putra semata wayangnya ini.. aset berharga dalam hidupnya.
Selama ini aiden gak merasa hidupnya di kendalikan ayah angkatnya kecuali soal bisnis yang gak pernah bisa di tunda.. aiden merasa itu sudah jadi separuh kehidupan nya.. ia gak merasa terpaksa sama sekali.. masih bersyukur ayah angkatnya memperlakukan dan merawatnya dengan baik selama 17 tahun ini.. hingga kebebasan nya terancam mendengar niat ayahnya perihal kencan buta yang akan di tetapkan nya.. aiden sungguh-sungguh frustasi kali ini.. ada apa dengan perubahan sikap ayahnya?
"Oke! Kalau kamu gak kasih tahu alasan nya.. aku gak akan mengikuti kemauan mu lagi." Kecam aiden mengancam ayah angkatnya.. ia melenggang pergi meninggalkan ayah angkatnya yang masih termenung.. memikirkan sikap putranya.. domainic juga cukup tercengang pada tindakan putranya.. aiden benar-benar melawan perintahnya.. apa dia sudah keterlaluan? Gak mungkin katanya, ini demi kebaikan putranya sendiri. Aiden akan memahami seiring berjalan nya waktu, domainic yakin besok aiden akan bertekuk lutut di bawah kakinya memohon ampun pada ayahnya.. menyesali tindakan yang sudah di perbuatnya malam ini.
__ADS_1
"Tuan besar, perlu di urus kah?" Martin selaku tangan kanan domainic merasa tuan nya terganggu pada tingkah semena-mena putra semata wayangnya.
"Tidak usah!" Domainic meletakan cangkir kopinya kembali ke atas meja.. ia masih menaruh secercah harapan.. bila putranya akan bersujud di bawah kakinya dan menyesali perbuatan nya.
PAGI HARI
Aiden keluar dari kamarnya mendapati ayah angkatnya yang sedang menikmati sarapan di meja makan.. pakaian rapih yang di kenakan nya pagi ini cukup membuat pesonanya menawan.
Domainic berpura-pura mengabaikan putranya menanti permohonan maaf darinya.. penyesalan macam apa yang akan di dengarnya dari mulut putra semata wayangnya ini.
Aiden melangkah kan kakinya menuruni anak tangga satu-persatu.. bahkan sepatah kata pun tak keluar dari dalam mulutnya.. aiden mengabaikan ayah nya yang tengah menikmati sarapan paginya.. perang dingin terjadi di antara ayah dan anak ini.. salah satu dari mereka pun enggan memulai percakapan terlebih dahulu.. hingga akhirnya aiden memilih pergi keluar rumah.. ayahnya membeku di tempat mendapati putranya yang sungguh-sungguh mengabaikan nya.. acara makan nya terhenti bersamaan dengan terdengarnya gemuruh suara mesin mobil menyala di pekarangan rumah nya.
__ADS_1
"Apa dia pergi?"
"Ya, tuan!" Martin menyahuti pertanyaan tuanya yang terdengar sendu.. masih belum menyangkan putranya betul-betul membantahnya.. ada apa dengan aiden? Selama separuh hidupnya.. aiden selalu jadi anak yang penurut.. dia selalu menunjukan ambisinya yang kuat dari dalam jati dirinya pada ayah angkatnya.. semua prestasinya menonjol dalam berbagai bidang.. hingga ayahnya menaruh harapan besar pada kepiawaian nya.. domainic menyadari.. semuanya hanya topeng yang menutupi wajah aslinya.. semua usaha aiden di depan nya.. itu hanya upaya agar dapat mencuri simpatinya sampai aiden sukses mendapatkan perhatian lebih darinya.. memang bocah cerdik.. sungutnya dalam hati.