European Sky King

European Sky King
JURANG KEPUTUSASAAN


__ADS_3

Joy menunda kepulangan nya dari portugal.. mendengar sahabatnya berada di eropa untuk menemui rekan bisnisnya disini.


Mereka menentukan tempat yang akan jadi titik pertemuan di antara kedua sahabat ini.. sudah dua bulan lamanya.. akhirnya joy akan pulang ke asia tetapi ia rela meluangkan sedikit waktu demi dapat bersua dengan sahabat sejalan nya yang satu ini.


CAFFE FABRICA DA NATA


Aiden memasuki ruang cafe yang cukup ramai pengunjung di akhir pekan ini.. matanya mencari-cari sesosok makhluk yang tengah di temuinya.. dimana keberadaan nya sampai joy melambaikan tangan nya.. di satu meja yang berada di tepi kaca.. tempat terbaik menurut kedua rekan sejawat ini.


Kakinya melangkah lebih dekat menghampiri rekannya yang tengah menantinya disana.. terlihat seorang pelayan sudah mengantarkan pesanan nya.. dua gelas kopi americano.


"Americano?" Joy mengangguk menyahuti pertanyaan konyol sahabatnya ini.


"Minumlah!" Aiden meneguk secangkir kopinya.


"Bagaimana? Ada kemajuan hubungan mu?" Joy mengingat terakhir kali pergi meninggalkan aiden yang sedang tak karuan pada keputusan tuan lingga yang bersikeras menjodohkan putra sulungnya dengan gadis bangsawan itu.. namun siapa sangka.. aiden akhirnya melabuhkan hatinya pada gadis itu.. monna sukses merebut tempat di dalam hati pria dingin ini.


"Lumayan!" Joy menyeringai mendapati tampang biasa dari sahabatnya.. mustinya aiden sudah melahap gadis yang di temuinya.. apa aiden menjaga monna karena kehormatan martabatnya sebagai gadis bangsawan.


"Sudah di cicipi?" Aiden yang sedang menyeruput kopinya hampir tersedak setengah mati mendengar penuturan yang di lontarkan sahabatnya.. mana tahu joy terang-terangan sekali menanyakan sesuatu yang vulgar di tempat begini.

__ADS_1


"Mana ada.. aku selalu menjaganya kok!" Joy terkekeh mendengar pendapat aiden.. ini bukan sosok aiden yang di kenalnya.. joy menyeruput kopinya.. bubuk kopinya terlarut di dasar cangkirnya.. membawa rasa nikmat tersendiri bagi penikmat kopi seperti mereka berdua.


"Aku hanya bercanda! Kapan pulang ke kota?"


"Aku baru tiba disini kemarin, banyak urusan yang belum terselesaikan juga. Titip monna!"


"Cihh.. kamu pikir dia anak kecil?" Joy menikmati cake pesanan nya.. sembari terus mendengar cuap-cuap dari sahabatnya sepanjang sore ini.


"Aku gak pernah berpamitan dengan benar padanya!" Aiden mengaduk-aduk cangkir kopinya yang terlihat memekat.. meninggalkan warna hitam kecoklatan di bibir cangkirnya.. joy menyadari kebersalahan aiden yang tergambar gamblang di raut wajah nya.. joy mengenal baik karakter sahabatnya.. selalu terlambat menyadari kesalahan yang telah dibuatnya


"Kamu selalu saja terlambat menyadari sesuatu.. aku cuma mau menasihatimu. Jangan menyesal setelah melakukan perbuatan yang dapat menyinggung perasaan monna kelak!" Ucap joy..aiden semakin merasa bersalah pada kekasihnya.. haruskah ia berpamitan secara terus terang pada monna.. jika bukan masalah mendadak yang terjadi di eropa.. aiden pasti sungguh akan meluangkan sedikit waktu demi berpamitan pada monna.. sudahlah.. mungkin monna bakal baik-baik saja.


Jam sudah menunjukan pukul 18.00 sore.. matahari sudah tak nampak di portugal.. aiden berjalan di sepanjang trotoar pejalan kaki.. memikirkan apa yang sedang monna lakukan.. rasanya amat takut untuk mengabarinya atau sekedar mengirim pesan singkat pada kekasihnya itu.. suara mobil yang melintas bersahutan di telinganya.. kebisingan singkat yang menerpanya.. cukup menganggu rasanya.. hatinya berubah jadi gelisah sejak aiden keluar dari cafe tadi.


Apa aiden sudah melakukan kesalahan fatal? Apa yang di pikirkan olehnya, mana mungkin hanya sepotong kalimat pamit saja di permasalahkan.. monna bukan orang yang akan memperdebatkan soal izin kan? Dia gak seposesif itu.. aiden betul-betul tak memahami isi hati wanitanya.. aiden gak mengira kalau sepatah dua patah kalimat pamit amat berharga bagi monna.


Monna yang telah menantinya di kota.. masih terus merasa uring-uringan.. apa yang tengah di pikirkan aiden sampai gak berniat untuk berkirim pesan pada kekasihnya disana.. lalu apa aiden akan membiarkan semuanya berlalu begitu saja sampai dimana aiden kembali lagi ke kota gurry.. tapi.. aiden disini akan memakan waktu cukup lama dari kepergiannya ke jepang kala itu.


KEDIAMAN BESAR WESTON

__ADS_1


Aiden melangkah gontai memasuki ruangan tamu.. ayahnya menduga putranya sudah menghabiskan waktu untuk bersenang-senang di luar bersama rekannya namun yang dilihatnya di luar dugaan.. ada apa dengan raut wajah murung putra semata wayangnya ini.. aiden mengabaikan sorotan mata ayah angkatnya yang seolah-olah bertanya-tanya padanya 'ada apa, nak' aiden sama sekali tak berniat membuka mulut untuk memberitakan kondisinya sekarang pada ayahnya.. dilema yang menerpanya sungguh menyiksa.


Kakinya menaiki tangga rumahnya.. ayahnya membiarkan aiden mungkin putranya butuh waktu sendiri sementara.. sesudah merasa lebih tenang ia akan berusaha membantu nya memecahkan teka-teki yang menganggu pikirannya.. domainic bahkan tak tega membiarkan putranya berlarut dalam kesedihan begini berlama-lama.. apapun yang bisa di lakukan untuk meredam masalahnya maka akan di upayakan bagaimana pun caranya.


KAMAR TIDUR


Aiden membuka pintu kaca balkon.. masalahnya terbawa oleh hembusan angin malam yang bertiup kencang.. aiden membuka kotak rokoknya mengambil sebatang rokok dari dalamnya.. ia menyalakan pemantik nya.. asap rokok yang di hembuskan nya keluar dari sela bibirnya.. aiden melengguh menatap jalanan di bawahnya.. cukup ramai di malam hari.


Tanpa di sadari salju turun dari langit malam ini.. aiden menadahi nya menggunakan telapak tangan nya.. bara rokok yang di sesap nya hampir padam tertimbun rintik salju yang turun.. ada suara kucing yang terdengar dari bawah balkon nya.. aiden memegang pagar pembatas balkon di kamarnya.. matanya menyorot tajam ke arah bawah balkon.. mendapati seekor anak kucing yang malang terlantar di bawah rintikan salju malam ini.. aiden masuk ke dalam kamar tidurnya mengambil syal yang tergeletak di atas kasurnya.. membaluti lehernya menggunakan syal yang di dapatnya sebelum keluar rumahnya.


Kreakkk


Ayahnya mendapati aiden yang sudah bersiap pergi lagi malam-malam dingin begini.. salju sudah turun malam ini.. domainic mengikuti langkah kaki putranya yang membawanya ke bawah atap balkon kamar tidurnya.. domainic sengaja bersembunyi di balik bangunan yang menutupinya.. pemandangan yang di dapat adalah.. aiden yang tengah mengelus-elus kepala anak kucing yang terlantar disana.. kakinya kembali melangkah tapi bukan kembali masuk ke dalam rumahnya.. setumpuk pertanyaan berkutat di dalam pikiran ayah angkatnya.. kemana perginya anak itu.


MINIMARKET CALCIO COLOMBO


Dari luar minimarket yang di kunjungi putranya terlihat.. aiden mengambil beberapa bungkus pangan kucing.. ada apa dengan putranya? Apa kesedihan nya membuatnya jadi sedikit berperasaan.. aiden keluar dari dalam minimarket dari belakang ayahnya terus diam-diam mengikuti putra semata wayangnya ini.


Domainic mendapati aiden yang sedang memberikan makan pada seekor anak kucing liar di luar kediaman rumahnya.. ayahnya tersenyum.. naluri manusiawi nya tergerak.. entah apa yang telah merasuki putranya.. hingga menjadikan nya pria yang lebih berperasaan begini.. adakalanya domainic merasa resah pada sikap putranya yang lebih berperasaan ini.. aiden gak di ciptakan ayah angkatnya buat jadi lelaki yang lemah lembut begini.. bisnisnya gak akan bisa terjamin lancar di tangan pria yang berwawasan sempit.

__ADS_1


__ADS_2